MERANGIN, Seorang Pria Muda Asal Merangin harus menahan kesakitan dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Bangko setelah dipukul dan interogasi Oknum TNI kodim 0420/Sarko.
Kejadian itu bermula saat seorang perempuan datang ke kosan mengetik pintu di kawasan dekat SMP Negeri 4 Merangin Kelurahan Kandis Kecamatan Bangko.
Berniat baik menyambut tamu perempuan yang mendadak datang ke kosannya, R malah mengalami tragis di dalam ruang interogasi.
Ia diduga diculik lalu dihajar habis-habisan selama berjam-jam oleh sekelompok orang yang diduga kuat sebagai oknum anggota TNI. Saat ditemui di lorong perawatan RSUD Kolonel Abunjani Bangko, R hanya bisa terbaring lemah sambil merintih kesakitan.
Tubuhnya dipenuhi luka lebam kebiruan dan memar yang tersebar dari kepala, mulut, punggung, tangan, hingga kakinya akibat hantaman benda tumpul.
Dengan kondisi fisik yang drop, pandangan yang mulai kabur, serta kepala pusing berputar, R mencoba mengingat kembali petaka yang menimpanya pada Selasa (2/6/2026) pagi itu.
Semua bermula saat pintu kontrakaannya di kawasan dekat SMP Negeri 4 Merangin diketuk oleh seorang perempuan.
"Saat itu saya sedang tidur. Pagi itu, ada seorang perempuan datang ke kos. Kami tidak tahu kalau dia ternyata istri anggota TNI."
"Kami hanya menyuruh dia duduk karena sedang membersihkan kotoran kucing di dekat pintu," kenang R dengan suara parau, Rabu (3/6/2026).
Belum sempat mengobrol lama, ketenangan di kosan itu pecah. Sekelompok orang tiba-tiba datang dan menggedor pintu kontrakan R dengan keras.
Di sanalah neraka dunia dimulai bagi R. Di bawah tekanan psikologis yang hebat, ia dipaksa mengakui tuduhan yang tidak ia pahami lewat kekerasan fisik.
R mengaku badannya dipukuli, diinjak-injak, bahkan kepalanya berkali-kali dihantam menggunakan balok kayu.
"Sekitar pukul 10 pagi sampai menjelang jam lima sore (dihajar)," ungkapnya pilu.
Padahal, R menjelaskan bahwa dirinya memang mengenal perempuan tersebut karena yang bersangkutan mengaku sudah menjanda dan bercerai dari suaminya.
Bahkan, belakangan R sempat berusaha menjauh karena punya firasat buruk dan khawatir bakal memicu masalah panjang di kemudian hari. Namun, takdir berkata lain,
Pengalaman tragis yang dialami pria muda di Merangin ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap oknum yang menyalahgunakan kekuasaan. Dalam konteks penganiayaan yang berlangsung selama berjam-jam dengan kekerasan fisik yang berat, termasuk pemukulan dan penyiksaan menggunakan benda tumpul, korban harus mendapatkan perlindungan medis dan hukum secepatnya. Dari sudut pandang pribadi, kejadian ini menunjukkan betapa trauma psikologis juga dapat menyertai luka fisik yang diderita korban. Selain harus menanggung rasa sakit akibat lebam dan memar di berbagai bagian tubuh, tekanan mental yang dialami dapat berpengaruh pada proses pemulihan dan rasa aman korban. Kasus ini juga membuka diskusi penting mengenai bagaimana anggota TNI atau aparat keamanan seharusnya bertindak sesuai prosedur hukum ketika melakukan interogasi atau penegakan hukum. Pendekatan yang humanis dan profesional harus menjadi prioritas agar tidak ada lagi penyalahgunaan kekerasan yang menyebabkan korban seperti R harus menjalani perawatan intensif akibat penganiayaan. Bagi masyarakat, kisah ini menjadi pengingat untuk selalu waspada dan melaporkan jika ada dugaan tindakan tidak manusiawi oleh aparat terkait. Solidaritas dan dukungan kepada korban juga sangat penting, termasuk dukungan hukum untuk memastikan keadilan ditegakkan dan pelaku yang terbukti bersalah mendapatkan sanksi sesuai hukum yang berlaku. Semoga dengan terbongkarnya kasus ini, langkah-langkah pemulihan kesehatan korban dapat maksimal, dan kejadian serupa tidak terulang kembali di Merangin atau wilayah lain. Penting juga bagi instansi terkait untuk melakukan evaluasi internal demi mencegah terjadinya kekerasan oleh oknum aparat dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi keamanan.































