Mahasiswa mulai bergerak untuk duduki kantor kejaksaan TNI kewalahan meminta bantuan polri untuk mengamankan kantor kejaksaan.

7/11 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman pribadi saya mengikuti berbagai aksi mahasiswa sejak lama menunjukkan bahwa demonstrasi yang melibatkan kantor-kantor pemerintahan sering kali memicu situasi yang penuh ketegangan. Dalam kasus mahasiswa Sumsel dan Sumbar yang menduduki kantor kejaksaan, hal ini memang menjadi sorotan karena adanya laporan dugaan lemahnya pengamanan yang menyebabkan massa dapat menerobos masuk. Dari pengamatan di lapangan, lemahnya pengamanan tidak hanya berdampak pada keamanan fisik gedung dan personel, tetapi juga memperlihatkan ketidaksiapan aparat dalam menghadapi eskalasi emosi massa. Bahkan, situasi ini sampai memaksa TNI yang bertanggung jawab untuk meminta bantuan Polri agar dapat mengelola keamanan dengan lebih baik. Selain itu, adanya berbagai laporan seperti tuduhan pemerasan oknum jaksa terhadap warga dan pelaku usaha yang sedang tersangkut hukum, juga menjadi latar belakang mengapa mahasiswa melakukan aksi besar ini. Ini menegaskan bahwa aksi tersebut bukan hanya soal pengamanan semata, melainkan juga tentang keinginan untuk memperbaiki sistem peradilan yang dirasakan tidak adil. Dalam pengalaman saya sebagai pengamat sosial, pengamanan saat aksi demonstrasi memang harus disiapkan dengan sangat matang, terutama saat massa diperkirakan akan sangat besar dan emosional. Koordinasi yang baik antara TNI dan Polri sangat penting agar tidak terjadi kekisruhan yang berujung pada kerusakan fasilitas ataupun korban jiwa. Melihat dari kejadian ini, institusi kejaksaan perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap sistem pengamanan dalam kantor-kantornya, sekaligus membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat agar isu-isu internal tidak berujung pada gejolak massa di luar kendali. Terlebih lagi, penegakan hukum yang transparan dan bebas dari tindakan korupsi akan meminimalisir kemarahan publik yang bisa berujung pada demonstrasi besar-besaran.