... Baca selengkapnyaBeberapa waktu lalu, anakku akhirnya sampai di tahap martumpol. Buat kami sekeluarga yang Batak, martumpol itu kayak tanda resmi kalau anak memang serius mau menikah dan diberkati di gereja. Banyak yang tanya, martumpol artinya apa sih dan apa bedanya dengan hari pemberkatan?
Secara sederhana, martumpol adalah janji nikah di depan pendeta dan jemaat, biasanya dilakukan di gereja sebelum hari H pemberkatan. Di momen ini, pasangan berdiri di depan salib, mengucapkan janji, dan namanya diumumkan ke jemaat. Jadi semua orang tahu bahwa mereka sudah terikat janji, bukan sekadar pacaran lagi.
Dalam adat Batak, martumpol juga punya makna sosial. Keluarga kedua belah pihak hadir, termasuk orang tua, tulang, namboru, dan kerabat dekat. Biasanya kami duduk berjejer, berpakaian rapi, sebagian pakai busana tradisional. Di martumpol anakku, aku masih ingat jelas kami ber-enam berdiri di depan, dengan pasangan di tengah. Anakku pakai baju adat warna merah, calon menantuku pakai jas terang, dan latar belakangnya salib dengan kain hijau di gereja.
Buat yang baru pertama dengar, acara martumpol kurang lebih seperti ini:
1. Ibadah singkat, nyanyian pujian
2. Pembacaan firman Tuhan tentang pernikahan
3. Pendeta menjelaskan arti martumpol dan janji nikah
4. Pasangan maju ke depan, mengucapkan janji
5. Jemaat didoakan untuk mendukung dan mendoakan pasangan
6. Pengumuman resmi bahwa mereka sudah martumpol
Soal undangan, contoh undangan martumpol biasanya sederhana. Isinya nama pasangan, tanggal dan jam, nama gereja, serta ajakan kepada keluarga/kerabat untuk hadir. Kadang ditulis juga “Acara Martumpol” atau “Pemberitahuan Janji Pernikahan” supaya orang yang baca langsung paham ini bukan hari pemberkatan, tapi tahap sebelum nikah.
Menurut pengalamanku, hal yang perlu disiapkan untuk martumpol adalah:
- Dokumen gereja (surat baptis, sidi, dan lain-lain sesuai aturan gereja)
- Pakaian formal, kalau bisa sedikit sentuhan adat Batak biar lebih berkesan
- Koordinasi dengan pihak gereja soal liturgi dan jadwal
- Komunikasi dengan keluarga besar, karena biasanya keluarga inti dan beberapa kerabat hadir.
Martumpol juga jadi momen haru buat orang tua. Rasanya campur aduk: bahagia karena “pecah telor” dalam keluarga, anak pertama mau nikah, tapi juga sedih karena sebentar lagi dia akan punya rumah tangga sendiri. Tapi lewat martumpol ini, kami merasa tenang karena semuanya dilakukan dengan cara yang baik dan terhormat, sesuai adat Batak dan aturan gereja.
Jadi kalau kamu lagi cari apa itu martumpol, apa arti martumpol dalam adat Batak, atau sedang menyusun acara martumpol sendiri, semoga sharing pengalamanku ini bisa kasih gambaran suasana martumpol di gereja dan hal-hal yang perlu dipersiapkan.