... Baca selengkapnyaKalau ditarik mundur, 2025 ini bener-bener kerasa kayak bab baru hidup aku. Di awal tahun aku cuma berani nulis di kepala, “2025 is gonna be my year”, tapi sebenarnya juga masih ragu. Ternyata pelan-pelan semuanya kejadian satu per satu, dan jujur aku sendiri masih suka bengong kalau lihat foto-foto recap tahun ini.
Dari sisi pendidikan, momen sidang akhir sampai resmi wisuda di SB-IPB jadi titik balik banget. Persiapan sidang nggak semulus di Instagram: begadang, revisi dari dosen pembimbing, bahkan sempat ngerasa mau nyerah. Tapi waktu nama dipanggil di acara wisuda, pakai toga, pegang ijazah S.Bns dengan IPK 3,89, semua capek rasanya ke‑bayar. Buat kamu yang lagi di fase skripsi atau tugas akhir, jangan keburu bandingin diri sama orang lain. Ritme orang beda-beda, yang penting kamu tetap jalan pelan tapi konsisten.
Habis dunia kampus selesai, masuk ke dunia kerja juga bukan hal gampang. Aku mulai karier pertama di industri kesehatan, salah satunya sempat terlibat di presentasi medis dan materi promosi rumah sakit. Awal-awal sering insecure: takut salah ngomong, takut nggak cukup pintar dibanding rekan kerja. Tapi dari situ aku belajar kalau bertanya itu bukan tanda lemah, justru pintu buat berkembang. Kalau kamu lagi adaptasi di kerjaan baru, wajar banget kok kalau masih bingung. Ambil waktu buat observasi, kenalan pelan-pelan sama budaya kerja, dan jangan lupa jaga kesehatan mental.
Di luar karier, tahun ini juga penuh momen personal yang besar. Dilamar, cincin di jari, dan akhirnya pemberkatan pernikahan intim di gereja bareng keluarga terdekat. Jujur, persiapan nikah nggak seindah di film: harus kompromi soal budget, konsep acara, sampai hal kecil kayak dekor dan baju. Tapi yang paling penting buat aku adalah perasaan tenang waktu berdiri di depan altar bareng pasangan. Kalau kamu lagi menuju ke arah sana, jangan lupa ngobrol jujur soal visi hidup, keuangan, dan value kalian berdua.
Setelah itu, aku dan pasangan sempat bulan madu ke Thailand. Kita nyobain pakai pakaian tradisional, keliling kuil, dan healing di pantai. Di lain waktu, aku juga sempat ke Singapura, lihat Merlion, Gardens by the Bay, Marina Bay Sands, dan Singapore Flyer. Dari tiap perjalanan, aku belajar untuk lebih berani keluar dari zona nyaman—entah itu berani nyobain makanan baru, ngobrol sama orang lokal, atau sekadar jalan tanpa itinerary terlalu kaku.
Hal yang paling bikin aku tersentuh justru momen kecil bareng keluarga: makan bareng di restoran sederhana, foto rame-rame, dan sadar kalau impian paling besar aku sebenarnya cuma pengin lihat orang tua bahagia. Tahun ini ngajarin aku buat lebih sering bilang terima kasih—ke diri sendiri, ke keluarga, dan ke orang-orang yang sudah dukung secara diam-diam.
Kalau kamu lagi baca ini dan merasa tahunmu belum se-“wow” itu, nggak apa-apa banget. Recap tiap orang beda. Nggak harus selalu soal wisuda, karier, atau nikah. Bisa jadi versi terbaikmu adalah berani terapi, pindah kota, atau sekadar berhasil bertahan di tahun yang berat. Yang penting, kamu tetap kasih ruang buat diri sendiri untuk tumbuh dan bersyukur, sekecil apa pun progresnya.