Kalau aku tanya, apa keputusan terbesar kalian dalam hidup?
Mungkin akan banyak yang jawab “menikah”.
Ya menikah juga salah satu keputusan besar dalam hidupku tapi bukan yang terbesar.
Keputusan hidup terbesarku aku ambil di usia 23 tahun. Keputusan yang buat sebagian besar orang mungkin kontroversial. Aku memutuskan convert dari Islam ke Katholik (fyi , dulunya aku islam ktp)
Berawal dari jaman kuliah aku sering ikut temen kost ke greja kristen. Trs pas taun 2016 aku ikut temenku natalan di greja katholik, tiba2 ada rasa nyaman berdoa di greja. Ga lama dari situ aku putusin buat ikut katekumen. Sebulan setelahnya aku baru kasi tau keluarga kalau mau pindah.
Puji Tuhan semua berjalan lancar tanpa huru hara di keluarga.
Aku percaya kalau Tuhan yang mau, pasti Tuhan mudahkan.
Ga ada yang nglarang juga asal menjalani agama yang baru bukan cuma katholik KTP.
Dan waktu aku baptis, keluargaku dateng buat saksiin aku di baptis secara katholik.
... Baca selengkapnyaJujur, waktu umurku masuk 23 tahun aku ngerasa kayak ada fase hidup baru yang kebuka. Bukan cuma soal karier atau nikah, tapi lebih ke pertanyaan dalam hati: sebenarnya aku mau jadi apa dan mau hidup seperti apa? Usia 23 tahun buatku itu masa yang membingungkan tapi juga penting banget, karena di titik itu aku mulai berani ngambil keputusan sendiri, termasuk soal iman.
Banyak yang bilang, di umur 23 tahun harusnya fokus cari kerja bagus, nabung, mikirin masa depan. Aku juga ngerasain tekanan itu, apalagi lihat teman-teman udah kelihatan "mapan". Tapi di balik semua tuntutan duniawi, ada satu hal yang nggak bisa aku abaikan: rasa gelisah di hati. Setiap kali doa, setiap kali ke gereja sama teman, muncul rasa tenang yang beda. Dari situ aku mulai sadar, mungkin ini memang jalan yang pelan-pelan Tuhan tunjukin.
Prosesnya tentu nggak seinstan kelihatan di luar. Aku banyak mikir: "Wajar nggak sih di usia 23 tahun ambil keputusan sebesar ini?" Takut salah, takut nyesel, takut disalahpahami keluarga. Tapi justru di umur segitu aku belajar buat tanggung jawab sama pilihan sendiri. Aku mulai cari tahu lebih dalam soal ajaran Katolik, ikut katekumen, dan nggak cuma ikut-ikutan perasaan sesaat. Buatku, keputusan besar di usia 23 tahun harus disertai dengan proses mengenal diri dan Tuhan lebih serius.
Yang bikin aku makin yakin, justru ketika lihat keluargaku yang tetap rukun walau berbeda keyakinan. Dari kecil aku terbiasa lihat orang berhijab, berpeci, dan sekarang ada aku dengan kalung salib. Ternyata perbedaan nggak selalu harus berujung konflik. Di umur 23 tahun, aku belajar bahwa kedewasaan itu bukan cuma soal usia, tapi soal gimana kita menghargai pilihan diri sendiri dan keluarga.
Kalau kamu sekarang lagi di usia 23 tahun atau sekitar itu dan ngerasa hidupmu penuh pertanyaan, itu wajar banget. Nggak semua orang di umur segini harus punya jawaban pasti soal kerjaan, jodoh, atau tujuan hidup. Tapi menurut pengalamanku, penting buat jujur sama hati sendiri. Entah itu soal pindah kota, pindah kerja, lanjut kuliah, atau bahkan pindah agama, yang paling penting adalah kamu paham kenapa kamu memilih itu.
Usia 23 tahun buatku jadi titik balik: dari yang dulu cuma ikut arus, jadi berani bilang, "Ini loh jalan yang aku pilih." Dan walaupun sempat takut, pada akhirnya aku bersyukur karena Tuhan tuntun aku lewat cara yang pelan, lembut, tapi pasti. Kalau kamu lagi di posisi bingung, coba pelan-pelan dengerin hati, banyak doa, dan ajak ngobrol orang yang kamu percaya. Kadang, keputusan terbesar justru lahir dari momen-momen hening di antara kamu dan Tuhan.
ini mah keputusan paling besar kak,semoga kamu menekuni agama yg sekarang yah,jgn cuma di ktp
doa terbaik untuk mu dan keputusanmu kak 👍🥰
semoga selalu membersamai keluarga yah
ini mah keputusan paling besar kak,semoga kamu menekuni agama yg sekarang yah,jgn cuma di ktp doa terbaik untuk mu dan keputusanmu kak 👍🥰 semoga selalu membersamai keluarga yah