Hilang rasa kemanusiaan demi coin, terlebih2 si duda lemes, I apakah ada perasaan tersembunyi terhadap si peni-fu
Dalam kehidupan sosial sehari-hari, kita sering menjumpai fenomena di mana beberapa orang mempertahankan sesuatu dengan sangat gigih demi keuntungan kecil, dikenal juga sebagai "coin receh". Salah satu contohnya adalah perilaku coin pengemis yang membela mati-matian para penipu meskipun hal tersebut merugikan orang lain. Fenomena ini menunjukkan adanya hilangnya rasa kemanusiaan yang menjadi akar masalah yang cukup kompleks. Coin pengemis ini biasanya menunjukkan ciri-ciri tertentu, seperti loyalitas berlebihan kepada pihak yang mereka bela, bahkan ketika fakta menunjukkan bahwa pihak tersebut adalah penipu. Mereka mempertahankan sikap tersebut demi mendapat sedikit keuntungan atau recehan yang mungkin berupa uang atau manfaat lainnya. Hal ini kadang terjadi karena keterikatan emosional atau bahkan tekanan sosial di dalam kelompoknya. Fenomena ini sangat menarik untuk dikaji dari sisi psikologi sosial. Banyak coin pengemis berperilaku demikian karena adanya kebutuhan untuk menjaga posisinya di kelompok sosial atau karena rasa takut kehilangan sesuatu yang dianggap penting. Hilangnya rasa kemanusiaan yang dimaksud di sini bukan berarti orang tersebut sepenuhnya tanpa empati, tapi lebih pada bagaimana keadaan memaksa mereka untuk mengabaikan fakta dan memperjuangkan sesuatu yang tidak benar demi keuntungan pribadi. Lebih jauh, fenomena ini juga berkaitan dengan bagaimana media sosial dan platform daring mempengaruhi perilaku pengguna. Di era digital, serangan hoaks dan penipuan semakin mudah tersebar, dan beberapa orang bisa terlibat secara emosional mendukung pihak yang salah karena ketidaktahuan atau manipulasi informasi. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan literasi digital agar masyarakat dapat membedakan mana informasi yang benar dan mana yang hanya untuk keuntungan sesaat. Di sisi lain, kasus ini juga mengajak kita untuk merenungkan dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kejujuran dalam interaksi sosial. Jangan sampai recehan yang didapat justru membuat kita mengabaikan kebaikan dan kebenaran. Mengedukasi masyarakat agar lebih kritis terhadap perilaku dan informasi yang diterima menjadi salah satu langkah penting untuk mengatasi masalah ini. Dengan memahami dan mengamati ciri-ciri coin pengemis yang membela penipu demi recehan, kita dapat lebih waspada dan lebih bijak dalam berinteraksi, baik secara langsung maupun di dunia maya. Pada akhirnya, rasa kemanusiaan dan kejujuran harus tetap dijaga agar kehidupan sosial kita menjadi lebih harmonis dan bermartabat.






















