Aku makin sering dapat DM dari teman-teman yang nanya, sebenernya berapa sih gaji ART di Australia itu “pantasnya”? Apalagi buat yang dibawa majikan pakai visa kunjungan/subclass 600 dan digaji rupiah kayak di cerita ini. Dari pengalaman ngobrol sama beberapa orang, pola kasusnya mirip: dibawa ke Australia pakai visa turis, status tetap dianggap ART dari Indonesia, tapi kerja, ritme dan tanggung jawabnya sudah kayak pekerja full time di Australia. Jam kerjanya panjang, hampir nggak ada istirahat, pegang semua kerjaan rumah, kadang sampai potong rumput, bersihin tanaman, masak, jagain anak, semua dipegang sendiri. Kalau dibandingin standar di sini, gaji 15 juta rupiah per bulan itu kelihatannya lumayan kalau dari kacamata Indonesia. Tapi jangan lupa, di Australia, biaya hidup jauh lebih tinggi. Indomie dan roti aja kalau tiap hari, lama-lama juga capek dan nggak sehat. Belum lagi kalau majikan nggak ngasih waktu istirahat layak, itu kerasa banget di fisik dan mental. Makanya, kalau ada yang nawarin kerja sebagai ART di Australia: 1. Tanyain jelas visanya apa. Kalau pakai visa turis (subclass 600), secara aturan, itu bukan visa kerja. Jadi posisi kamu rawan, baik dari sisi hukum maupun perlindungan hak kerja. Jangan cuma percaya omongan, minta lihat dan baca jenis visa kamu. 2. Bahas dulu soal gaji: gaji Indonesia atau Australia. Banyak yang baru nyadar setelah sampai: digaji rupiah, tapi tinggal di Australia. Biaya makan, transport, pulsa, semua ikut harga sini. Coba hitung kasar, 15 juta itu cukup nggak kalau misalnya kamu harus beli keperluan sendiri? Jangan cuma lihat angka, tapi bandingin sama beban kerja dan jam kerjamu. 3. Perhatikan jam kerja dan waktu istirahat. Ada yang curhat, "Saya nggak ada istirahatnya di sini, capek banget semua dipegang" – itu tanda kalau kerjaanmu sudah berlebihan. Wajar banget kalau kamu nggak betah. Walaupun majikan masih WNI, kamu tetap berhak diperlakukan manusiawi, dikasih waktu istirahat yang cukup. 4. Siapkan rencana pulang dari awal. Banyak yang bilang "bingung mau pulang gimana" karena dari awal nggak pegang paspor sendiri atau nggak tau prosedur. Sebelum berangkat, usahain: - Punya salinan paspor & visa di HP - Catat kontak kedutaan/konjen Indonesia di kota terdekat - Punya tabungan darurat buat jaga-jaga kalau harus keluar dari rumah majikan. 5. Jangan sungkan cari bantuan. Kalau kamu merasa diperlakukan nggak adil, seringnya makan nggak layak, kerja keterlaluan, atau diancam, kamu bisa: - Hubungi teman/komunitas Indonesia di kota tersebut - Hubungi KJRI/KBRI - Simpan bukti chat, jadwal kerja, dan rekam kondisi kamu. Intinya, gaji ART di Australia itu nggak bisa cuma dilihat dari angka rupiah yang dikasih majikan. Harus dilihat bareng: jenis visa, jam kerja, beban kerja, tempat tinggal, makan, dan keamananmu. Kalau dari awal sudah terasa nggak sehat – misalnya kamu dibawa pakai visa turis, digaji rupiah, kerja tanpa istirahat – itu red flag. Buat yang lagi di posisi serupa, kamu nggak sendirian. Pelan-pelan kumpulkan informasi, cari komunitas Indonesia di kota kamu, dan pikirkan langkah yang paling aman buat dirimu sendiri.
2025/10/28 Diedit ke
21 komentar
Lihat komentar lainnya

itu art ga tau diri, ga tau terima kasi, itu art sama dgn anj.... ditolong malah menggigit