Fenomena penipuan kerja ke luar negeri terutama ke Australia yang melibatkan figur populer seperti Mami Connie semakin marak terjadi. Banyak calon pekerja migran terjebak dalam modus perekrutan yang tidak resmi, dimana mereka dijanjikan gaji besar dan fasilitas kerja yang menggiurkan, namun kenyataannya seringkali berakhir pada pengurasan dana dan situasi sulit. Modus operandi pelaku biasanya dengan menawarkan pekerjaan di sektor pertanian seperti petik buah dengan janji gaji harian AUD 20 hingga AUD 30 dan durasi kerja normal 8 jam tanpa lembur. Namun, sebelum diberangkatkan, calon pekerja harus membayar sejumlah biaya besar yang mencakup pengurusan visa, tiket pesawat, penginapan, serta biaya transportasi dan administrasi yang bisa mencapai puluhan juta rupiah. Dalam beberapa kasus, pembayaran bahkan harus dilakukan secara cicilan dan pelaku mengklaim bahwa calon pekerja tidak perlu membayar lagi setelah tiba di Australia. Data pengaduan dari beberapa organisasi dan KBRI menunjukkan adanya indikasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang melibatkan perekrut ilegal. Para korban yang berasal dari Indonesia bahkan sempat ditemukan dalam kondisi terisolasi di lokasi seperti apartemen yang dikelola oleh pihak tidak bertanggung jawab di Vietnam, dengan tekanan psikologis dan keterbatasan kebebasan. Selain itu, adanya pemberitahuan dari Australian Securities Commission (ASIC) bahwa entitas yang digunakan pelaku seperti "Bubble Tea Club Pty Ltd" sudah dalam proses likuidasi menunjukkan bahwa perusahaan ini tidak beroperasi secara resmi dan hanya dijadikan kedok untuk menipu. Penting bagi para pencari kerja untuk selalu melakukan verifikasi resmi melalui sumber yang terpercaya, seperti KBRI dan instansi pemerintah terkait sebelum mempercayai siapa pun yang menawarkan pekerjaan ke luar negeri. Pastikan juga pengurusan visa dilakukan oleh lembaga resmi dan bukan melalui calo abal-abal. Berhati-hatilah terhadap tawaran kerja yang meminta uang muka besar tanpa adanya kontrak kerja yang jelas dan legal. Pelajari juga pengalaman korban lain dan jangan pernah ragu untuk melaporkan dugaan penipuan atau TPPO ke pihak berwajib dan lembaga perlindungan pekerja migran. Dengan memahami modus dan bahaya penipuan ini, calon pekerja bisa lebih waspada dan terlindungi dari risiko kerugian baik materil maupun psikologis yang berdampak panjang.
2025/11/18 Diedit ke

🥰🥰