Pagi ini nonton berita Sedih jg lihat negara Indonesia ini dimana-mana petugas bermain.
Siapa lagi yang harus dipercaya?
Aku sebenarnya termasuk yang dulu excited banget soal program Working Holiday Visa (WHV) ke Australia. Sering lihat konten “proses WHV visa”, “estimasi biaya WHV”, bahkan video orang curhat soal first month kerja di Aussie. Jadi waktu nonton berita tentang dugaan visa scam yang nyangkut anak-anak muda Indonesia, rasanya campur aduk. Yang bikin makin miris, di berita disebut ada scammers yang memang menargetkan anak muda Indonesia yang mau WHV. Banyak dari mereka mungkin sudah jual barang, nabung bertahun-tahun, atau pinjam uang keluarga demi bisa berangkat. Begitu lihat kata “scam” di layar TV, aku langsung kepikiran: gimana nasib mereka yang sudah setor uang, tapi ternyata programnya bodong? Di satu sisi, aku juga jadi makin sadar pentingnya cek dan ricek semua info soal WHV. Jangan cuma percaya satu sumber. Kalau ada yang nawarin “jalan cepat” atau “jalur dalam” buat WHV, apalagi pakai iming-iming tanpa antre dan tanpa dokumen lengkap, itu sudah red flag menurutku. Lebih aman kalau kita baca langsung dari website resmi imigrasi Australia, tanya di forum WHV yang sudah lama jalan, atau cari pengalaman orang yang benar-benar sudah berangkat dan kerja di sana. Sebagai orang Indonesia, rasa kecewa itu makin besar ketika di berita disebut-sebut ada oknum yang mungkin ikut bermain. Rasanya kayak: kok lagi-lagi rakyat kecil yang jadi korban? Kita sudah susah payah nyiapin dokumen, translate berkas, medical check up, dan lain-lain, tapi masih juga dihantui kemungkinan ditipu. Makanya sekarang kalau lihat konten viral soal WHV di Aussie, aku jadi lebih kritis. Bukan berarti kita nggak boleh mimpi tinggal atau kerja sementara di luar negeri, tapi perlu banget bekal pengetahuan yang cukup. Minimal kita ngerti alur resmi: dari cara apply online, dokumen apa saja yang harus disiapkan, estimasi biaya realistis, sampai risiko-risikonya. Buat yang lagi galau lihat berita-berita kayak gini, menurutku wajar kalau jadi ragu. Aku sendiri juga sempat mikir, “siapa lagi yang harus dipercaya?” Tapi dari situ aku belajar untuk lebih mengandalkan info resmi dan komunitas yang jelas, daripada janji manis pihak yang nggak transparan. Kalau pun tetap mau kejar WHV, jangan takut buat banyak tanya, minta bukti, dan selalu simpan semua jejak pembayaran. Akhirnya, aku cuma bisa berharap ke depan sistem di Indonesia bisa lebih tegas ke pelaku scam, apalagi yang memanfaatkan mimpi anak muda. Sementara itu, kita sebagai calon pemohon WHV harus makin cerdas, jangan mudah percaya, dan berani bilang tidak kalau ada sesuatu yang terasa janggal.






















