gus baha
Belakangan ini aku sering mikir soal kalimat Gus Baha: "Jangan terjebak dengan dunia. Dunia itu tidak ada habisnya, sedangkan umurmu ada batasnya." Awalnya cuma kubaca sebagai quotes islami biasa, tapi lama-lama kerasa banget di kehidupan sehari-hari. Dulu aku tipe yang gampang panik kalau urusan dunia nggak sesuai rencana: kerjaan berantakan, target nggak tercapai, atau dibanding-bandingkan sama pencapaian orang lain. Rasanya seperti selalu kurang. Tapi setelah sering baca kata bijak Gus Baha tentang kehidupan, aku mulai belajar pelan-pelan buat naruh dunia di tempatnya. Satu hal yang aku tangkap dari nasehat Gus Baha adalah soal prioritas. Dunia memang perlu: kerja, cari uang, punya impian. Tapi jangan sampai semua itu bikin kita lupa sama hal yang lebih penting, yaitu akhirat dan ketenangan hati. Sekarang, kalau lagi overthinking, aku coba tanya ke diri sendiri: "Ini masalah dunia atau masalah akhirat?" Kalau cuma urusan dunia, aku belajar buat nggak terlalu menyiksa diri. Aku juga mulai biasain diri buat jadikan quotes Gus Baha sebagai self reminder harian. Misalnya, aku tulis di notes HP atau tempel di meja kerja kalimat sederhana seperti: "Dunia tidak ada habisnya, umurmu ada batasnya." Setiap lagi capek atau ngerasa hidup berat, aku baca lagi. Aneh tapi nyata, kata-kata seperti itu bisa bikin hati lebih tenang dan nggak se-melelahkan dulu. Menurutku, nasehat Gus Baha tentang kehidupan itu bukan sekadar kata-kata indah, tapi panduan buat hidup lebih seimbang. Tetap berusaha di dunia, tapi nggak lupa bersyukur, sabar, dan ingat kalau semuanya ada batas. Kalau kamu lagi ngerasa hidup cuma muter di urusan dunia, coba deh luangin waktu baca quotes Gus Baha, siapa tahu ada satu kalimat yang nyentuh hati dan jadi titik balik. Aku pribadi ngerasa lebih ringan setelah belajar memaknai kata bijak seperti ini. Hidup memang tetap ada masalah, tapi cara memandangnya berubah. Dunia tetap jalan, tapi kita nggak lagi terjebak sedalam dulu.




















