Ini sedikit cerita #TentangKehidupan ku. Umumnya seorang ayah akan menjadi cinta pertama untuk anak perempuannya, tapi tak semua anak beruntung memiliki ayah seperti itu, termasuk aku. Aku tumbuh besar dengan luka pengasuhan, trauma psikologis yg membuatku ingin jauh sejauh-jauhnya dari ayahku, menyimpan dendam dan luka batin yg dalam. Hingga diusia 30n, aku sadar mentalku ga sehat karena terus menggenggam luka, akhirnya melakukan terapi psikologis, terutama utk menerima, memaafkan dan melepaskan luka2 pengasuhan masa kecil. Sejak itu aku bisa berinteraksi lebih baik dengan ayahku meski belum senormal oranglain.
Malam itu, ayahku yg tinggal sendiri diantar tetangganya kerumahku karena sakit, besoknya aku bawa ke dokter, aku rawat beliau utk beberapa hari. Siapa sangka Jum'at subuh itu aku masih melihat beliau tiduran disofa sesudah solat terlihat dari sarung yg dipakai, ketika aku mau antar anak sekolah terlihat beliau masih tidur disofa dengan sarung yang sudah dilipat dikamarnya. namun sepulang antar sekolah, posisi beliau belum berubah, kukira masih tidur nyenyak, ternyata beliau sudah berpulang dalam keadaan tidur nyenyak, tak terlihat rasa sakit diwajahnya. Dan semua rasa sakit yg kurasakan hilang dihari itu juga.
Hanya penyesalan yang tersisa, seharusnya kita bisa memiliki relasi yg lebih baik, seharusnya luka itu tak kugenggam sedemikian lama.
Innalilahi wa innailaihi roji'un, Pak. Semoga Alloh memaafkan semua kesalahanmu, menerima iman islammu, mengaruniakan padamu rohmat dan MaghfirohNya, menempatkanmu diJannahNya. In sya Alloh Teteh memaafkan semua hal dimasa lalu kita, dan semoga Bapak sempat memaafkan Teteh saat Izroil datang menjemput.
... Baca selengkapnyaDari kisah ini, kita belajar bahwa berdamai dengan masa lalu bukanlah hal yang mudah, terutama ketika luka berasal dari sosok terdekat seperti ayah. Pengalaman mengasuh yang penuh luka dapat memicu trauma psikologis mendalam, yang berisiko membuat seseorang menjauhi dan menyimpan dendam dalam waktu lama. Namun, pengakuan akan ketidaksehatan mental dan upaya mencari terapi psikologis merupakan langkah awal yang sangat penting.
Terapi psikologis dapat membantu seseorang menerima kenyataan masa lalu dengan lapang dada, memaafkan kesalahan orang tua, serta melepaskan beban yang selama ini menyiksa hati dan pikiran. Memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan, melainkan membebaskan diri dari rasa sakit dan kemarahan agar hidup lebih damai. Dalam kasus ini, perbaikan hubungan meski tidak sempurna menunjukkan bahwa ada harapan untuk ikatan keluarga yang lebih sehat jika diusahakan.
Saat ayah yang selama ini jauh dan menyakitkan akhirnya diperlakukan dengan penuh perhatian dan kasih di masa sakitnya, itu merupakan bukti nyata transformasi mental dan emosional. Bahkan saat menyaksikan kepergian beliau di saat tidur nyenyak, terdapat kedamaian yang hadir, menghapus semua luka batin. Perasaan seperti ini mengingatkan kita bahwa memaafkan dan melepaskan dendam adalah proses pembebasan diri yang mendalam.
Di sisi lain, perasaan penyesalan dan harapan agar relasi bisa lebih baik juga sangat manusiawi. Hal ini menggarisbawahi pentingnya menjaga komunikasi dan memperbaiki hubungan keluarga sejak awal, agar tidak ada luka yang berkepanjangan.
Kalimat "Ketika akhirnya MALAIKAT IZROIL memisahkan kita" menambah kedalaman spiritual dari cerita ini, mengingatkan kita pada kematian sebagai pemisah terakhir yang tak terelakkan. Namun, melalui doa dan permohonan ampun kepada Tuhan, ada harapan agar hubungan yang pernah terluka dapat diampuni dan diterima di sisi-Nya.
Bagi pembaca yang mengalami masalah serupa, cerita ini memberikan inspirasi untuk tidak takut mencari bantuan psikologis, berani menghadapi luka batin, serta membuka hati untuk memaafkan agar bisa melangkah maju dengan mental yang lebih sehat dan tenang.
Lihat komentar lainnya