Wisata edukasi melihat maskot Kota Balikpapan yaitu Beruang Madu dari dekat langsung di Enklosurnya.
Kamu sudah pernah ke Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) kilo 23 Balikpapan?
Pertama kali aku dengar kalau maskot Kota Balikpapan itu beruang madu, aku langsung penasaran: memang bisa lihat dari dekat di mana sih? Jawabannya ternyata ada di Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) kilo 23 Balikpapan. Tempat ini konsepnya wisata edukasi, jadi bukan cuma jalan-jalan, tapi juga belajar soal konservasi beruang madu dan lingkungan hidup. Begitu masuk area konservasi beruang madu, kita bisa melihat beberapa ekor beruang madu di enklosur luas yang menyerupai habitat alaminya. Rasanya beda banget dibanding lihat hewan di kebun binatang biasa, karena di sini mereka lebih bebas bergerak dan perilakunya juga lebih natural. Ada papan informasi yang menjelaskan kenapa beruang madu dijadikan maskot Balikpapan, habitat aslinya di Kalimantan, sampai ancaman yang mereka hadapi seperti perusakan hutan dan perburuan liar. Yang aku suka dari wisata kilo 23 Balikpapan ini adalah nuansa edukasinya kerasa banget, tapi tetap santai. Pengunjung diajak paham kalau konservasi beruang madu bukan cuma urusan pemerintah atau aktivis lingkungan, tapi juga kita sebagai warga biasa. Ada penjelasan soal pentingnya hutan bagi beruang madu, kaitannya dengan ekosistem, dan apa yang bisa kita lakukan sehari-hari, misalnya mengurangi sampah, mendukung produk ramah lingkungan, dan tidak membeli satwa liar. Selain area beruang madu, KWPLH juga punya ruang edukasi lingkungan yang isi materinya lumayan lengkap. Di beberapa sudut ada poster dan diorama tentang flora dan fauna Kalimantan, termasuk penjelasan singkat tentang jenis-jenis lebah dan serangga lain yang berperan dalam ekosistem hutan. Buat yang pernah dengar istilah seperti "lebah jantan" atau jenis lebah lain di Makassar dan daerah lain, di sini kita bisa dapat gambaran bahwa tiap spesies punya peran masing-masing di alam, sama seperti beruang madu. Kalau datang ke KWPLH Km 23, saran aku datang agak pagi atau sore biar cuaca lebih sejuk. Pakai alas kaki yang nyaman karena area cukup luas untuk jalan kaki, dan kalau bisa ajak anak atau keluarga biar mereka juga ikut merasakan manfaat wisata edukasi seperti ini. Jangan lupa jaga kebersihan, ikuti aturan pengelola, dan jangan memberi makan beruang madu sembarangan. Buat warga Balikpapan atau yang lagi liburan ke sini, wisata edukasi di kilo 23 ini menurutku wajib masuk daftar kunjungan. Setelah pulang, aku jadi lebih paham kenapa beruang madu dijadikan maskot kota dan betapa pentingnya upaya konservasi beruang madu Balikpapan. Rasanya liburan jadi lebih bermakna karena bukan sekadar foto-foto, tapi juga pulang dengan pengetahuan baru soal lingkungan hidup.

daerah kilo berapa itu bang