Terapi Menulis | Eps 1 📕📝

Pernah nggak sih kamu FOMO pengen banget nulis sesuatu tapi ngerasa hidup kamu biasa aja, gak ada spesialnya?… Tapi pernah juga gak kamu senyum ke semua orang, tapi lupa nanya: “Aku lagi kenapa ya?”

Di episode pertama Terapi Menulis, kita nggak cari solusi, kita cuma mau jujur.

Tulis satu hal yang paling mengganggu pikiran kamu hari ini. Bahkan kalau lagi nggak tau mau nulis apa coba aja mulai dari coretan yang mungkin kita mampu dulu, ini adalah tulisan ku di tahun 2022 dimana bingung mau melangkah kemana ya, ternyata dari coretan itu aku menemukan diriku yang baru! Bahkan dari kehilangan diri aku menemukan karya saat itu ✨

Nggak perlu puitis. Nggak perlu masuk akal. Tulis aja dengan jujur, karena dari hal yang jujur akan membuat kita makin terbiasa dengan apa yang selanjutnya mau melangkah kedepan ✨

#TerapiMenulis

#HumanDiary

#TulisanJujur

#BeraniMenulis

#KecerdasanEmosional

#JournalingUntukPerempuan

#1001MimpiMenulis

2025/8/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali dengar istilah terapi menulis untuk kesehatan mental, aku juga sempat mikir, “Emang nulis doang bisa bantu?” Tapi ternyata efeknya kerasa banget justru pas aku lagi di fase hidup yang paling berantakan. Awalnya, jurnal aku isinya cuma coretan nggak jelas. Kadang cuma tulisan, “capek”, “bingung”, atau nulis to-do list yang bahkan nggak semuanya ke-ceklist. Tapi dari situ aku pelan-pelan belajar buat jujur sama diri sendiri. Bukan jujur yang puitis, tapi jujur versi: “Aku lagi marah sama siapa?”, “Aku sebenernya takut apa?”, “Kenapa hari ini rasanya hampa banget?” Kalau kamu juga bingung mau mulai terapi menulis dari mana, kamu bisa coba beberapa cara yang selama ini ngebantu aku: 1. Mulai dari keruwetan Serius, mulai aja dari tulisan se-acak mungkin. Nggak usah rapi, nggak usah full kalimat. Bisa dalam bentuk: - daftar kata yang lagi kebayang di kepala, - gambar kecil, coretan, atau doodle, - panah-panah yang nyambungin satu kata ke kata lain. Intinya, biarkan kertas jadi tempat buang sampah pikiran dulu. 2. Tulis satu hal yang paling mengganggu hari ini Setiap hari, aku biasakan nulis satu hal yang paling nyangkut di kepala. Misalnya: - obrolan yang bikin kepikiran, - kecemasan soal masa depan, - rasa iri yang nggak enak diakui. Dari situ biasanya ketahuan, ternyata bukan hidupku yang “biasa aja”, tapi aku yang belum membiasakan diri ngedengerin isi kepala sendiri. 3. Bikin mind map sederhana Pas udah agak terbiasa, aku mulai bikin mind map. Contohnya tentang "Family Value" atau nilai-nilai yang aku percaya. Dari satu kata di tengah, aku tarik cabang ke hal-hal penting: keuangan, komunikasi, batasan pribadi, dll. Ini bikin aku sadar: oh, ini loh yang sebenernya aku harapkan dari keluarga dan hubungan. 4. Pelan-pelan jadi lebih tertata Dari yang awalnya cuma curhat acak, lama-lama aku berani nulis cerita lebih utuh. Bahkan aku mulai gabungin journaling dengan perencanaan: target kecil harian, mimpi jangka panjang, dan hal-hal yang pengen aku capai. Jurnal yang dulu cuma hitam-putih sekarang jadi lebih penuh warna, aku tempelin stiker, foto, atau potongan kertas yang bikin semangat. 5. Terapi menulis itu bukan soal bagus atau jelek Yang perlu diingat, terapi menulis bukan lomba puisi atau ajang pamer estetika. Tulisanmu nggak perlu rapi, nggak perlu estetik, nggak perlu “pantes di-post”. Ini murni ruang aman buat kamu ngobrol sama diri sendiri. Justru dari kejujuran yang berantakan itu, pelan-pelan kita bisa nemuin pola: kenapa kita gampang cemas, kenapa sering FOMO, kenapa suka merasa nggak cukup. Kalau sekarang kamu lagi di fase, “Terapi menulis terdengar menarik, tapi nggak tahu mau nulis apa”, coba buka halaman kosong dan tulis satu kalimat ini: "Hari ini aku merasa…" lalu lanjutkan tanpa berhenti mikir bagus atau nggaknya. Dari situ, biarkan tanganmu jalan dulu. Biar nanti pelan-pelan, hidup yang kerasa nggak tertata mulai punya sedikit struktur, dan kamu bisa lihat: ternyata perjalananmu nggak sesederhana yang kamu kira.