Toxic bukan hanya tentang SIAPA tapi juga APA✨

Kadang bukan orangnya… tapi pola pikirnya, lingkungan, kebiasaan, bahkan ekspektasi yang kita tanam sendiri. Bahkan mungkin didalam diri kita masih ada toxic yang ga kita sadari…

Pelan-pelan, yuk kenali:

Apa yang bikin kita lelah terus?

Apa yang bikin kita ragu sama diri sendiri?

Apa yang bikin kita berhenti percaya sama mimpi kita?

Karena healing itu dimulai dari keberanian untuk jujur.

Mulai tulis, mulai kenali, mulai pulih. 💖✍️

#Tox#ToxicItuApaJou#JournalingHealingTum#TumbuhPelanPelanKen#KenaliDirimuBer#BeraniJujurDia#DiaryLithacilPul#PulihDenganTulisanTox#ToxicBukanSiapaTapiApa100#1001MimpiNul#NulisBiarLegaEmotionalGrowth

2025/8/5 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDulu aku kira hidupku capek karena orang-orang di sekitarku aja. Tapi setelah journaling dan jujur sama diri sendiri, aku baru ngeh kalau salah satu sumber lelahku adalah digital toxic: kebiasaan online yang pelan-pelan nguras energi tanpa kerasa. Buat aku, digital toxic itu bisa banyak bentuknya. Misalnya: - Scroll media sosial tanpa henti sampai lupa waktu, ujung-ujungnya cemas dan ngerasa hidup orang lain lebih "berhasil". - Sengaja follow akun-akun yang bikin insecure, tapi tetap ditonton tiap hari. - Baca komentar negatif atau drama online, padahal setelah itu mood langsung turun. - Ngerasa harus selalu fast response, takut dianggap cuek kalau telat balas chat. - Kerja atau belajar nggak ada batas, semua dikerjain lewat HP/laptop sampai lupa istirahat. Pelan-pelan aku mulai nanya ke diri sendiri lewat jurnal: "Dari semua yang toxic, mana yang datang dari kebiasaan digitalku sendiri?" Ternyata jawabannya cukup banyak. Ada toxic thoughts yang muncul karena terlalu sering compare diri lewat media sosial. Ada juga toxic productivity yang bikin aku ngerasa harus selalu aktif dan kelihatan sibuk di dunia online biar dianggap "berkembang". Beberapa hal yang mulai aku coba ubah: 1. Bikin batas waktu online. Aku mulai pakai timer. Misalnya, 20–30 menit untuk scroll, habis itu HP aku taruh jauh. Awalnya susah banget, tapi setelah beberapa hari, kepala kerasa lebih ringan. 2. Kurasi siapa dan apa yang aku ikuti. Aku unfollow akun-akun yang tiap kali muncul malah bikin hati panas, cemas, atau ngerasa nggak cukup. Ganti dengan akun yang isinya edukasi, inspirasi, atau sekadar bikin senyum. 3. Sadari trigger digital toxic. Aku tulis di jurnal: "Hal apa di dunia digital yang bikin aku lelah?" Jawabannya macam-macam: chat yang terlalu rame, grup yang isinya gosip, notifikasi yang nggak berhenti. Setelah tahu trigger-nya, aku lebih berani mute, leave group, atau slow response tanpa rasa bersalah berlebihan. 4. Pakai journaling sebagai tombol pause. Setiap lagi kecanduan scrolling, aku coba ambil buku jurnal dan nanya: "Perasaan apa yang lagi aku hindari?" Kadang ternyata aku cuma lagi kesepian, cemas soal masa depan, atau ngerasa gagal. Dengan nulis, aku jadi lebih jujur sama diri sendiri. Buat kamu yang lagi ngerasa stuck, coba cek: jangan-jangan yang toxic bukan hanya orang, tapi juga pola pikir, kebiasaan digital, dan cara kamu memperlakukan dirimu sendiri di dunia online. Kamu boleh kok pelan-pelan set batas, pilih apa yang mau kamu lihat, dan istirahat dari hal-hal yang nggak sehat. Kalau kamu refleksi hari ini: kebiasaan digital apa yang paling bikin kamu lelah? Coba tulis satu aja dulu, lalu tulis satu langkah kecil yang bisa kamu coba besok untuk mulai berubah.

Posting terkait

Gambar sampul dengan judul 'MBTI TIDAK SESEDERHANA YANG KITA PIKIRKAN SELAMA INI!!' dan ilustrasi sekelompok orang duduk mengelilingi meja, membahas kompleksitas MBTI. Latar belakang menampilkan huruf-huruf tipe MBTI yang samar.
Teks menjelaskan MBTI didasarkan pada teori 'Cognitive Function' Carl Jung, yang terdiri dari 2 sikap dan 4 fungsi, menghasilkan 8 variasi seperti Extrovert Thinking (Te) dan Introvert Intuition (Ni).
Ilustrasi 16 tipe MBTI yang terkenal, masing-masing direpresentasikan oleh karakter kartun unik, menunjukkan bagaimana 8 variasi fungsi kognitif dikombinasikan oleh Myers-Briggs.
‼️Lebih Dalam tentang MBTI‼️MBTI bisa salah⁉️
Hi Deviewers!✨️🥰 Kali ini aku mau share tentang sisi mendalam MBTI Pernah tes MBTI belom? Kalau udah, udah pada tau dong tipenya apa? Nah tapi pernah ga, tes tuh hasilnya beda-beda terus, atau kamu merasa kalau kamu kepribadiannya bisa lebih dari 1? Wah kok bisa?😱 Nah bisa jadi memang demikia
devibell

devibell

1012 suka

Seorang wanita berambut panjang memegang buket bunga di tengah toko bunga, dengan tulisan 'Cantik Versi Siapa? Sekarang Saatnya Cantik Versi Kamu' yang mengajak untuk mendefinisikan kecantikan sendiri.
Seorang wanita berjongkok di antara tanaman hias, dengan teks yang mempertanyakan perasaan tidak cantik karena berbeda dan menekankan bahwa setiap orang punya versi cantik masing-masing.
Seorang wanita berlutut di antara deretan bunga, dengan tulisan yang menegaskan bahwa kecantikan tetap valid meskipun kulit, tubuh, atau gaya berbeda dari standar atau tren.
Cantik Versi Siapa? 👩🏻👩🏼👩🏽
Pernah ngerasa kurang cantik cuma karena nggak kayak standar di media sosial? Tenang, kamu nggak sendiri. Tapi hari ini… yuk berhenti membandingkan. Cantik itu bukan satu bentuk. Bukan juga tentang jadi orang lain. Cantik adalah ketika kamu berani tampil apa adanya, merawat diri dengan cinta,
°❀⋆.ೃ࿔.*:・・:*.ೃ࿔.⋆❀°

°❀⋆.ೃ࿔.*:・・:*.ೃ࿔.⋆❀°

43 suka

Sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak perempuan sedang melihat tablet bersama, mengilustrasikan poin pertama tentang anak yang harus selalu patuh, yang dapat membuat anak pasif dan tidak percaya diri.
Dua orang dewasa dan seorang anak duduk di meja, menggambarkan poin kedua tentang orang tua yang selalu benar dan anak tidak boleh melawan, yang dapat membuat anak menekan emosi.
Seorang anak perempuan menutup telinga dengan ekspresi sedih sementara dua orang dewasa bertengkar di belakangnya, menggambarkan poin ketiga tentang didikan keras yang membuat anak belajar takut.
“Kamu Pikir Itu Kasih Sayang, Tapi Nyatanya toxic
Banyak orang tua merasa apa yang mereka lakukan adalah bentuk kasih sayang… Padahal, tanpa sadar justru melukai hati anak. Ketika kita memaksa anak selalu nurut tanpa diberi ruang berpendapat, mereka tumbuh takut bersuara. Saat kita merasa orang tua selalu benar, anak belajar menekan peras
Gea teni Yenyen

Gea teni Yenyen

32 suka

2026 waktunya stop lakuin hal TOXIC ini!! 😤😡
Hai Lemonade 🎀🌷🌷🍋🍋🍋🍋 Banyak orang tidak sadar, toxic tidak selalu datang dari orang lain. Kadang, itu datang dari diri sendiri dari cara berbicara ke diri sendiri, memaksa diri terlalu keras, dan merasa tidak pernah cukup. Saat seseorang terus merendahkan diri, mengabaikan perasaannya, dan me
IniCiaa

IniCiaa

18 suka

Bukan Sekadar Hura-Hura
Bukan Sekadar Hura-hura: 7 hal Wajib yang harus kamu lakukan di usia 20-an agar tidak menyesal stop scrolling, start Building! 🏗️ Udah umur 20-an tapi masih bingung mau mulai dari mana? Jangan merasa sendiri! 😅 Usia 20-an itu bukan cuma soal quarter-life crisis, tapi juga masa emas untuk pasan
ascantys

ascantys

2 suka

Imej menunjukkan tajuk "BAHAYA! RUPANYA INI CIRI-CIRI PERKAHWINAN MULA TOXIC!" dengan latar belakang tangan sepasang suami isteri. Terdapat perkataan seperti 'Curang', 'Cinta Hambar', 'Narsisistik', 'Toxic', dan 'Penderaan Fizikal' serta teks mengenai hubungan yang melukakan.
Imej menyenaraikan tiga ciri perkahwinan toksik: 1. Terlalu Banyak Aura Negatif Dalam Hubungan (bergaduh, sindir), 2. Curang Yang Berkali-kali, dan 3. Kemesraan Semakin Hilang (hubungan hambar, jauh).
Imej menyenaraikan tiga ciri perkahwinan toksik: 4. Sudah Tidak Berkongsi Apa-Apa Lagi (simpan sendiri), 5. Tidak Lagi Berminat Dengan Pasangan (hidup sendiri-sendiri), dan 6. Ketagihan Yang Merosakkan Kehidupan (game, judi, media sosial).
BAHAYA! RUPANYA INI CIRI-CIRI PERKAHWINAN MULA TOXIC?! ⚠️💔
Jujur cakap… posting ni bukan dibuat suka-suka. Ada beberapa point dekat atas ni yang pernah jadi depan mata aku. Ya, pada ahli keluarga terdekat aku. Geram. Sedih. Penat tengok si mangsa cuba bertahan seorang diri… walaupun bukan berlaku pada sebelah keluarga aku, tapi bila dah jadi keluarga..
@itsme_nj_

@itsme_nj_

95 suka

2026 BUKAN TENTANG SIAPA YANG PALING PINTAR
Clairvoyant

Clairvoyant

0 suka

5 Hal yang Harus di Hindari dari Pertemanan Toxic
Kadang yang bikin capek bukan pekerjaan atau aktivitas… tapi circle pertemanan yang toxic 😔 Mulai dari teman yang datang cuma saat butuh, suka meremehkan, sampai hobi drama dan playing victim. Yuk lebih hati-hati memilih lingkungan pertemanan, karena circle yang sehat bikin hidup lebih tenang d
thinklife

thinklife

1 suka

Gambar menunjukkan judul "Diam Bukan Tanda Tenang: Ini Efeknya ke Mental Istri dan Energi Rumah" dengan latar belakang dinding bangunan tua yang basah karena hujan, disertai ikon wajah menangis dan hati retak.
Gambar menjelaskan bahwa "silent treatment" adalah kekerasan non-verbal yang berdampak serius, terutama dari suami ke istri, dan menanyakan efek mental yang mungkin dialami istri, dengan latar belakang dinding bangunan tua yang basah karena hujan.
Gambar menampilkan daftar dampak emosional dan psikologis istri akibat didiamkan, seperti merasa tidak berharga, kebingungan, bersalah, sedih, cemas, dan tidak adil, dengan latar belakang tanah berumput dan ikon hati retak.
Sakitnya bukan karna marah, tapi karna di diamkan!
Hi Lemonenduls!🍋 I'm Nisa. IRT baru di dunia Lemon8 👋🏻 #TentangKehidupan Dalam banyak rumah tangga, ada satu hal yang sering dianggap sepele: Istri mulai pembicaraan.. tapi suami memilih tidak mengatakan atau menghindar. Awalnya terlihat kecil. Suami merasa diam itu menenangkan suasan
anisasismita🎀

anisasismita🎀

6 suka

Depresi Itu Bukan Kurang Iman
𝗣𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗽𝗶𝗸𝗶𝗿𝗮𝗻 𝗻𝗴𝗴𝗮, 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮 𝗽𝗮𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘁𝗶𝗯𝗮-𝘁𝗶𝗯𝗮 𝗯𝗲𝗿𝘂𝗯𝗮𝗵? Dulu penuh tawa, sekarang hampa Dulu semangat cerita, sekarang lebih sering diam. Ternyata, depresi tidak selalu kelihatan dramatis. Ada yang bisa senyum dan tertawa, tapi hancur dalam diam. Dari pengalaman kita belajar mengenali,
Alisha & Yislam

Alisha & Yislam

9 suka

Gambar sampul 'Bedah Karakter Mama Lela Series: Siapa yang Toxic? Part 1' menampilkan kolase empat karakter utama: Mama Lela, Takim, Bulan, dan Mak Tun, dengan logo Lemon8 di pojok kiri bawah.
Gambar Takim, seorang pria patriarkal yang dominan dan temperamental, sering mengambil keputusan tanpa diskusi, menunjukkan kekuasaan tanpa empati, dan dapat membuat istri merasa kurang dihargai.
Gambar Mama Lela, seorang wanita kuat dan penuh kasih, berperan sebagai pelindung keluarga namun juga membutuhkan perlindungan, serta menjadi mediator atau penyeimbang dalam dinamika rumah tangga.
Bedah KarakterMama Lela Series: Siapa yang Toxic?
Aku udah dari lama bgt nonton series Mama Lela, dari zaman 2020, zaman susi jadi pelakor no 1 jatim 😅 dan mulai mikir: tiap karakter bukan sekadar hiburan – mereka punya ‘baju psikologis’ masing-masing. Contohnya Takim yang patriarkal, Mama Lela yang jadi pelindung, Mak Tun yang selalu keluyuran m
Daily Bloom 🌸

Daily Bloom 🌸

1 suka

prinsip tentang kehidupan
"hidup lo rusak bukan karena nasib, tapi karena lo ngelanggar hukum dasar hidup. 5 HUKUM POPULER DALAM PRINSIP HIDUP. Lo kira gagal itu karena dunia jahat? Nggak bro... itu karena lo masih buta sama hukum dasar yang ngatur hidup lo sendiri. SIMAK 5 HUKUM BERIKUT 1. HUKUM Sebab Akibat (
Ysmorthoss

Ysmorthoss

6 suka

Gambar seorang pria berkulit gelap mengenakan pakaian tradisional bermotif bunga dan penutup kepala, berdiri di luar ruangan pada malam hari. Teks overlay kuning bertuliskan: "Pelan-Pelan Kenalan Sama Toxic Masculinity Saat 'Laki Banget' Justru Jadi Luka Diam-Diam."
Gambar seorang pria berkulit gelap mengenakan pakaian tradisional bermotif bunga. Teks overlay putih di atasnya berbunyi: "'Kamu cowok, masa cengeng sih?' Kalimat ini terdengar biasa, tapi bisa menyisakan luka. Yuk, pelan-pelan kita bahas... apa sih toxic masculinity itu?"
Latar belakang hitam putih buram dengan teks overlay putih yang menjelaskan "Apa Itu Toxic Masculinity?" sebagai tekanan sosial agar laki-laki selalu kuat, dominan, tidak emosional, agresif, dan tegas, yang menyebabkan luka batin terpendam.
Mengurai Luka dari Toxic Masculinity
Pernah lihat ayahmu marah terus tapi gak pernah nangis? Atau teman laki-laki yang selalu terlihat "kuat", padahal lagi capek banget? Yuk, pelan-pelan kenalan sama istilah toxic masculinity. Bukan buat menyalahkan laki-laki, tapi buat menyembuhkan. Kalau kamu laki-laki dan ngerasa ca
Fera

Fera

4 suka

Lihat lainnya