Buku harian adalah sumber inspirasi terbesar konten jujur.
Karena di sana, aku gak pakai topeng.
Karena di sana, aku bisa nangis tanpa dijudge.
Karena di sana… mimpi-mimpi paling gila pun ditulis tanpa takut diketawain.
Sekarang aku sadar, konten paling jujur
ternyata gak perlu dibuat-buat. Cukup liat buku harian dan jadikan itu sumber inspirasi konten hari ini
Cukup dibuka dari halaman yang dulu cuma aku yang tahu. Dan ketika aku percaya diri, yang tadinya hanya dibuku aku berani untuk ceritakan di dunia maya🫶🏻
... Baca selengkapnyaBuat yang penasaran sama buku harian bergambar atau contoh buku kolase, aku mau cerita lebih detail ya, dari sudut pandang orang yang udah bertahun-tahun journaling.
Buku harian bergambar itu simpel banget sebenernya: isinya campuran tulisan, gambar, stiker, foto, dan potongan kertas apa aja yang kamu suka. Aku sering nyebutnya sebagai buku kolase versi personal. Di beberapa halaman, aku tempel tiket nonton, struk belanja pertama kali usaha jalan, atau foto kecil dari momen yang menurut orang lain biasa aja, tapi buat aku berharga.
Kalau ditanya "berikut pernyataan yang benar mengenai buku harian bergambar adalah apa?" dari pengalamanku: itu tempat paling jujur. Di sana, aku bisa curhat tanpa topeng, tanpa takut di-judge. Kadang cuma coretan random, doodle kecil di pinggir halaman, atau tulisan besar pakai spidol warna-warni tentang mimpi yang menurut orang lain konyol. Tapi justru dari situ ide konten paling jujur muncul.
Supaya lebih kebayang, contoh buku kolase versiku gini:
- Satu halaman khusus mimpi: aku tulis "pengen ke Korea" sambil tempel foto-foto dari majalah, gambar pesawat, sampai quote motivasi.
- Halaman lain tentang kerja: foto orang lagi packing paket, stiker kata-kata semangat, plus catatan kecil tentang susahnya cari kerja pas COVID.
- Ada juga halaman syukur: aku tulis hal-hal kecil yang bikin aku bahagia, ditempel sama stiker lucu dan foto-foto kenangan.
Buku harian bergambar ini pelan-pelan jadi arsip hidupku. Waktu aku bingung mau bikin konten apa, aku tinggal buka halaman-halaman lama. Dari situ aku ingat lagi momen HP rusak lalu tiba-tiba dapat iPhone baru, cerita ikut kompetisi foto dan tiba-tiba menang trip, sampai pengalaman spiritual yang bikin aku ngerasa benar-benar diundang sama Allah buat hal-hal besar dalam hidup.
Yang menarik, hampir semua hal itu sebelumnya udah aku tulis duluan di buku harian sebagai mimpi. Ada yang aku tulis besar-besar, ada yang cuma selipan di pojok halaman. Di situ aku baru ngeh soal "law of attraction" versi personal: ketika aku jujur sama diri sendiri, nulis apa yang aku mau dan aku syukuri, langkah hidup rasanya lebih ringan.
Kalau kamu mau mulai buku harian bergambar, gak perlu ribet. Ambil notebook apa aja, siapkan pulpen, highlighter, stiker, atau guntingan majalah. Tulis hari kamu, tempel apa pun yang terasa "kamu banget". Gak harus rapi, gak harus estetik buat sosial media. Justru semakin apa adanya, semakin kuat jadi sumber konten jujur nanti.
Buatku, buku harian bergambar bukan cuma hobi, tapi jadi bank ide, tempat penyembuhan, dan bukti bahwa mimpi-mimpi yang kelihatan kecil di kertas bisa pelan-pelan jadi nyata.