Penyamaran Freon dan Variabel Maut

Bab 5

​Siang itu, langit di atas SMA Masa Depan mulai terasa terik, tapi panasnya tidak sehoror tatapan Mr Ogawa tadi dan bagi Mufan, hari ini terasa sangat menyebalkan karena otaknya tidak sinkron dengan isi hatinya. “Aku harus turun dari pohon ini secepatnya."

​Mufan melipat teropongnya dengan gerakan taktis, namun saat ia hendak bergeser, ujung celana jeansnya robek tersangkut di dahan. "Sialan," desisnya. Ia harus melakukan gerakan akrobatik yang sangat tidak elit—bergelantungan seperti kukang selama beberapa detik—sebelum akhirnya mendarat di tanah dengan bunyi puk yang tidak gagah sama sekali.

​Di balik tembok belakang sekolah, Gembul anak buahnya yang tadi sudah turun lebih dulu kini menunggu di atas motor matic butut yang suaranya mirip mesin parut kelapa. Motor itu adalah aset penyamaran paling menyedihkan dalam sejarah organisasi mereka.

​"Bos, buruan! Tadi saya lihat Pak Satpam sudah mulai curiga sama suara knalpot motor ini. Katanya mirip suara orang batuk berdahak," bisik Gembul panik.

​Mufan melompat ke boncengan. "Jalan, Gembul! Sebelum harga diriku jatuh lebih dalam lagi."

​Perjalanan dari sekolah menuju titik pertemuan van putih itu penuh dengan cobaan. Motor matic itu sempat batuk-batuk dua kali di lampu merah, membuat Mufan harus menutupi wajahnya dengan telapak tangan karena malu dilihat anak sekolah yang lewat. Begitu sampai di gang buntu tempat van putih mereka terparkir, Mufan langsung melompat turun seolah motor itu adalah bom yang siap meledak.

​"Jangan pernah bawa motor itu lagi di depanku," ancam Mufan sambil membuka pintu geser van.

​Di dalam van, Mufan langsung melepas jaket cokelatnya yang sudah bau debu pohon beringin. Ia meraih seragam biru pudar bertuliskan "Arctic Master Solutions". Seragam yang bau oli, bau keringat lama yang sudah mengering, dan ada bekas noda kopi di saku kirinya—hasil "pinjaman" paksa dari teknisi asli yang sekarang sedang tertidur pulas dengan bantuan obat tidur di kursi belakang van.

​"Seragamnya bau banget, Bos. Asli tukang AC banget deh pokoknya," puji Gembul sambil menyerahkan tas peralatan yang beratnya minta ampun.

​Mufan mencium kerah seragamnya dan mengernyit. "Ini pengorbanan demi Protokol Azure. Ayo jalan. Mobil teknisi asli sudah kita sabotase bensinnya, Yifan pasti sudah menunggu."

​Sore merambat di kediaman keluarga Xiao. Yifan berdiri di depan pintu utama dengan tangan bersedekap, menatap noda air di plafon ruang tamunya dengan ekspresi seolah-olah noda itu adalah penghinaan pribadi terhadap martabat keluarganya.

​Ting-nong!

​Mufan berdiri di depan pintu, topinya ditarik rendah, masker medis menutupi separuh wajahnya. Ia membawa tangga lipat, sementara Gembul membawa tangki gas freon yang lecet-lecet.

​"Lama sekali," ucap Yifan dingin.

​"Maaf, Pak. Macet total, ditambah unit kami tadi harus mampir ke gudang ambil suku cadang," jawab Mufan, suaranya diubah menjadi serak-serak basah ala orang yang kebanyakan menghirup debu plafon.

​Yifan mempersilakan mereka masuk. Mufan mulai bekerja. Ia menaiki tangga di koridor lantai dua. Di tangannya, ia memegang manifold gauge (alat ukur tekanan AC), tapi di balik saku celananya, sebuah tablet kecil terus bergetar.

​Tit... tit... tit...

​Mufan memasukkan kepalanya ke dalam lubang plafon. Di sana, di antara gulungan kabel dan pipa tembaga, ia melihat sesuatu yang aneh. Jalur pipa AC sentral ini tidak mengarah ke unit outdoor biasa, melainkan menukik tajam ke bawah dinding beton menuju arah kamar Yueyue.

​"Gembul, kasih saya kunci inggris nomor dua belas," perintah Mufan.

​Gembul, yang sebenarnya sedang asyik memperhatikan foto keluarga Xiao di dinding, kaget. "Hah? Kunci inggris? Anu... yang mana ya Bos? Yang bentuknya kayak mulut buaya bukan?"

​Mufan menggeram dari dalam plafon. "Yang di saku depan, bodoh!"

​Tepat saat Mufan sedang sibuk mengutak-atik katup pipa, pintu depan terbanting terbuka.

​"KAAAK YIFAAAAAN! MATEMATIKAKU TADI KAYAKNYA DAPAT NILAI JELEK KARENA MR. OGAWA ITU SEBENARNYA VAMPIR YANG MAU HISAP OTAKKU!"

​Dunia spionase yang dingin dan penuh perhitungan itu seketika pecah berkeping-keping. Yueyue pulang. Ia berlari menaiki tangga, tas sekolahnya yang bergambar boba melambung ke kiri dan ke kanan. Langkahnya terhenti tepat di bawah tangga Mufan.

​Yueyue mendongak. Matanya menyipit, lalu membelalak lebar.

​"LHO?! KAK PREMAN?!"

​Mufan hampir saja terperosok dari tangga. Ia menarik kepalanya keluar dari plafon, menatap Yueyue dengan tatapan "Tolong, jangan sekarang."

​"Yueyue, masuk ke kamarmu. Mereka sedang bekerja," tegur Yifan dari bawah.

​"Nggak bisa, Kak! Ini kan Kak Preman yang tadi pagi manjat pohon di sekolah!" Yueyue menunjuk Mufan dengan kotak bekal pink-nya yang masih berisi sisa remah ayam goreng. "Kak! Kamu ngapain di atas situ? Mau nyolong sarang burung walet ya?!"

​Mufan berdehem keras, mencoba tetap pada karakternya. "Nona, saya teknisi AC. Mungkin Anda salah lihat karena wajah saya memang pasaran."

​Yueyue tidak percaya begitu saja. Ia mendekat, memegangi kaki tangga Mufan sampai tangga itu goyang-goyang. "Nggak mungkin! Aku hafal bentuk badan Kak Preman! Eh, tapi kok baunya kayak oli campur pengharum ruangan jeruk ya?"

​Gembul langsung menyambar dengan wajah polos. "Anu, Nona... ini namanya aroma 'Kerja Keras'. Kami baru saja membongkar kompresor yang meledak, jadi baunya memang agak... maskulin."

​Yueyue menatap Gembul, lalu kembali menatap Mufan yang masih bertengger di atas. "Kak Preman, kenapa Kakak nyamar jadi tukang AC? Apa Kakak lagi jadi agen rahasia yang mau menyelidiki kenapa AC di rumah ini selalu bikin aku bersin-bersin?"

​Mufan memutar otak. Situasi ini lebih berbahaya daripada dikepung musuh. "Saya sering berada di area sekolah karena perusahaan kami menangani perawatan AC sentral di sana. Kalau saya di atas pohon, itu karena saya sedang mencari arah angin untuk meletakkan unit outdoor cadangan."

​Yueyue terdiam. Ia memiringkan kepalanya 45 derajat, pose berpikirnya yang paling berbahaya. "Oooh... jadi Kakak itu 'Dokter Udara'?"

​"Bisa dibilang begitu," jawab Mufan lega.

​"Terus," Yueyue menunjuk kalung peraknya sendiri yang ia keluarkan dari balik seragam. "Kalau Kakak Dokter Udara, tahu nggak kenapa kalung aku ini mendadak kerasa dingin banget tiap kali Kakak berdiri di dekat sini?"

​Mata Mufan membelalak. Ia melirik tablet di sakunya yang sekarang mengeluarkan bunyi beep panjang tanpa putus. Grafik biru itu lurus sempurna.

​Kunci itu... ada di lehernya, batin Mufan.

​"Mungkin karena AC-nya memang sedang bocor ke arah Anda, Nona," jawab Mufan cepat.

​Yueyue manggut-manggut. "Masa sih? Perasaan kalungnya dingin karena dia seneng ketemu temennya deh. Kak, lihat deh ukiran di kalungku, mirip sama gambar yang ada di obeng Kakak tadi!"

​Yifan yang sejak tadi mendengarkan mulai berjalan mendekat. Atmosfer berubah menjadi sangat mencekam. Yifan menatap Mufan dengan mata yang tajam di balik kacamatanya. "Obeng dengan ukiran kuno? Sejak kapan perusahaan AC punya peralatan seperti itu?"

​Mufan menelan ludah. Gembul sudah siap-siap lari ke arah jendela.

​"Ini... ini obeng peninggalan kakek saya, Pak. Katanya bawa hoki kalau buat buka baut yang seret," jawab Mufan asal, sambil memberikan kode pada Gembul untuk segera membereskan tangga.

​"Kak Preman!" teriak Yueyue lagi, menghentikan langkah Mufan. "Besok kalau ke sini lagi, bawa martabak ya! Sebagai ganti karena Kakak sudah bikin plafon rumahku jadi bolong-bolong!"

​Mufan tidak menjawab. Ia hanya berjalan cepat keluar dari rumah itu, diikuti Gembul yang hampir tersandung kabel tangki freonnya sendiri.

​Begitu sampai di dalam van, Mufan langsung melepas masker medisnya dan menarik napas dalam-dalam. "Gembul, kita dalam masalah besar."

​"Kenapa Bos? Karena Nona itu tahu kita bohong?"

​"Bukan," Mufan menatap tangannya yang gemetar. "Karena Protokol Azure bukan cuma butuh data. Tapi butuh kalung yang ada di leher gadis itu. Dan celakanya... dia sepertinya mulai menganggap penyamaranku sebagai acara komedi harian."

​Mufan menyandarkan kepalanya ke setir. Ia baru saja menyadari bahwa misi paling sulit dalam hidupnya bukanlah menembus brankas baja, melainkan menghadapi logika Xiao Yueyue tanpa kehilangan kewarasannya.

​***

Sore itu ditutup dengan raungan mesin van yang menjauh, meninggalkan Yueyue yang masih berdiri di teras sambil memegangi kalungnya. Ia tersenyum tipis. "Mochi, kayaknya Kak Preman itu seru ya? Besok aku mau minta dia benerin kulkas, siapa tahu di dalemnya ada harta karun."

​Di dalam van, Mufan hanya bisa meratapi nasibnya, menyadari bahwa ia baru saja menjadi "Dokter Udara" favorit bagi variabel paling berbahaya di dunia.

To be continued

6/8 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam cerita "Penyamaran Freon dan Variabel Maut", kita dibawa ke dalam dunia spionase penuh intrik dan humor lewat karakter Mufan yang menyamar sebagai teknisi AC. Sebagai pembaca, saya merasa sangat terhibur sekaligus penasaran mengikuti petualangan unik ini, apalagi dengan sentuhan adegan sehari-hari seperti celana robek di pohon dan motor matic yang bising. Penggunaan elemen AC dan freon sebagai bagian dari penyamaran bukan hanya terasa segar tetapi juga menambah kedalaman cerita, menghubungkan teknologi sederhana dengan misi rahasia yang kompleks. Pengalaman saya pribadi dengan teknisi AC di rumah menambah kesan realistis saat membaca bagaimana Mufan harus menggunakan seragam berbau oli dan alat pengukur tekanan AC untuk menyembunyikan identitasnya. Selain itu, interaksi Mufan dengan Yueyue yang polos tapi kritis memberikan dinamika kuat, memperlihatkan bagaimana penyamaran bisa berantakan oleh tingkah laku tak terduga orang lain. Saya merasakan betul ketegangan dan kebingungan karakter utama saat harus berbohong sambil mengelola hubungan sosial yang mendadak rumit. Kalung dengan sensor dingin yang misterius menjadi pengejut yang menambah unsur supernatural atau teknologi canggih pada kisah ini. Ini membuka spekulasi terhadap perkembangan cerita selanjutnya, memancing rasa ingin tahu pembaca untuk mengikuti serial "Protokol Azure" lebih jauh. Bagi saya, cerita ini bukan sekadar fiksi spionase biasa, melainkan penggabungan cerdas antara elemen sehari-hari dan petualangan rahasia yang menghadirkan hiburan sekaligus inspirasi. Cerita ini mengingatkan saya bahwa dalam kehidupan, terkadang kita juga harus memainkan peran yang berbeda dan kreatif menghadapi masalah sambil menjaga kejujuran dan hubungan dengan orang-orang sekitar. Saya sangat merekomendasikan cerita ini bagi pembaca yang mencari keseimbangan antara ketegangan, humor, dan kisah misteri dengan sentuhan teknologi sehari-hari. Semoga Mufan berhasil menjalankan misinya dan rahasia kalung itu terungkap dengan cara yang memuaskan di kelanjutan kisahnya!