Tragedi di Butik Mewah dan Selera "Kucing Pasar"
Bab 10:
Sebelum menginjakkan kaki di aspal mal mewah, Huahai menghabiskan tiga jam pertama di pagi harinya dengan melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan seumur hidup: Stalking tanpa henti.
Ia duduk di sofa vannya dengan laptop menyala, membedah setiap cuplikan video CCTV festival kuliner kemarin yang berhasil dicuri asistennya, hingga memelototi foto-foto lama keluarga Xiao yang pernah bocor di media sosial. Huahai bukan sekadar melihat kecantikan Yueyue, ia sedang menganalisis "Jiwa sang Nona Gemoy".
"Lihat ini," gumam Huahai sambil menunjuk layar yang menampilkan Yueyue sedang memegang bando kucing murah di festival. "Dia pakai gaun bunga-bunga yang manis, tapi kakinya pakai sepatu kets yang sudah agak kotor karena lari-larian. Dia nggak peduli sama image elegan. Dia itu... makhluk bebas yang hanya tunduk pada dua hal: makanan enak dan segala sesuatu yang punya kuping kucing."
Huahai menyimpulkan Yueyue adalah tipe gadis yang akan menguap bosan jika diberi kalung berlian, tapi akan lompat kegirangan jika diberi gantungan kunci yang bisa bunyi. Baginya, kemewahan keluarga Xiao hanyalah latar belakang, sedangkan kebahagiaan sejati Yueyue ada pada hal-hal sederhana yang gemoy. Dengan keyakinan penuh bahwa ia telah memecahkan kode kepribadian Yueyue, Huahai pun meluncur ke medan tempur.
Sesuai perintah darurat yang ia berikan pada manajernya semalam, hari ini jadwal syuting drama ratusan episode Huahai resmi kosong melompong. Persetan dengan kontrak iklan atau pemotretan majalah bagi Huahai, reputasinya yang hancur karena tepung terigu harus dipulihkan dengan sebuah persembahan yang tak tertandingi.
Maka, di sinilah sang superstar berada. Sejak toko-toko di mal elit itu baru saja memutar kunci pintunya, Huahai sudah berdiri di depan butik "Le Meow-Gance" dengan setelan santai namun tetap seharga satu unit apartemen.
"Selamat datang, Tuan Muda Huahai! Suatu kehormatan Anda berkunjung sepagi ini," sambut manajer butik dengan membungkuk dalam.
Huahai melepaskan kacamata hitamnya, matanya yang sedikit sembab menatap tajam ke arah rak pajangan. "Saya mau tas kucing paling eksklusif di dunia. Harga bukan masalah. Yang penting, gambarnya harus mirip kucing asli yang sedang lapar," ucap Huahai tanpa basa-basi.
Manajer itu langsung bersemangat. Ia mengeluarkan sebuah koper beludru berisi koleksi 'The Royal Feline' dari Paris. "Ini dia, Tuan Muda. Kulit buaya albino dengan ornamen emas murni. Lihat desain kucingnya, sangat minimalis, abstrak, dan elegan. Hanya diproduksi tiga di dunia. Sangat cocok untuk wanita kelas atas yang ingin terlihat berwibawa."
Huahai memutar-mutar tas itu dengan wajah tidak puas. "Ini apa? Abstrak? Minimalis? Kucing kok cuma garis lurus doang begini, ini mah lebih mirip penggaris daripada kucing!"
"Tapi Tuan Muda, ini adalah tren quiet luxury yang sedang digemari para sosialita..."
"Yueyue bukan sosialita!" potong Huahai dengan nada tinggi. "Dia itu putri bungsu keluarga Xiao. Kalau dia mau tas kulit buaya, dia bisa beli pabrik buayanya sekalian. Tapi Yueyue itu beda. Hasil risetku menunjukkan dia itu polos, sederhana, dan kalau lihat kucing lucu, dia bisa jerit-jerit sampai kaca jendela getar. Saya mau tas yang kalau dilihat orang, orang langsung tahu itu kucing, bukan jajar genjang!"
Pelayan butik itu mulai berkeringat dingin. Mereka menawarkan tas demi tas, mulai dari yang bertabur berlian hingga yang bermerek besar. Namun bagi Huahai, semuanya gagal total. Tas-tas di butik mewah ini terlalu "elegan" dan "dewasa" untuk gadis seperti Yueyue yang lebih suka lari-larian mengejar paha ayam daripada duduk cantik di pesta teh.
"Kalian ini katanya butik terbaik, tapi selera kalian payah!" gerutu Huahai sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Yueyue itu unik. Dia nggak butuh logo merek sebesar piring buat pamer. Dia cuma butuh sesuatu yang bikin dia senang saat memeluknya."
Setelah hampir tiga jam mengelilingi mal dan masuk ke belasan toko mewah namun tetap tidak menemukan "jiwa kucing" yang pas, Huahai nyaris menyerah. Ia berjalan gontai menuju parkiran.
Namun, saat ia melewati sebuah gang kecil di sisi luar mal yang berisi deretan toko aksesoris remaja yang sedang diskon besar-besaran, matanya menangkap sesuatu. Di tumpukan barang clearance sale, di antara jepit rambut warna-warni, ada sebuah tas punggung bulu berbentuk kepala kucing putih dengan pipi merah yang gembul—persis seperti wajah Yueyue kalau sedang ngambek karena lapar.
"Nah! Ini dia!" Huahai berteriak kegirangan, membuat orang-orang di sekitar menoleh heran melihat seorang pria tampan berteriak di depan tumpukan barang diskon.
Ia segera mengambil tas itu. Harganya? Bahkan lebih murah daripada biaya cuci mobilnya tadi pagi. Tapi bagi Huahai, ini adalah "Harta Karun" yang sesuai dengan hasil analisisnya.
"Bungkus ini!" perintah Huahai saat kembali ke butik mewah "Le Meow-Gance" tadi dengan membawa tas bulu murah tersebut. "Masukkan ke kotak emas kalian, beri pita sutra paling mahal, dan semprotkan parfum terbaik. Jangan sampai ada satu butir debu pun yang menempel!"
Manajer butik itu melongo menatap tas bulu pasar malam yang diletakkan di atas meja marmer mereka. "Tuan... Anda yakin tas... um... 'ekonomis' ini ingin dimasukkan ke kotak eksklusif kami?"
"Yakin seratus persen! Ini kado dari Huahai untuk Nona Gemoy-nya. Cepat kerjakan!"
Tanpa Huahai sadari, di sudut parkiran, Gembul yang sedang menyamar mengenakan rompi parkir berwarna oranye terang sedang sibuk mengambil foto dengan kamera lensa panjangnya.
"Lapor Bos Mufan," bisik Gembul ke radio panggilnya yang tersembunyi di balik kerah. "Si Artis Belek baru saja menemukan 'senjata' barunya. Sebuah tas bulu yang harganya mungkin cuma bisa buat beli tiga porsi sate. Dia sepertinya mau main strategi 'merakyat' sesuai hasil kepo-nya pagi tadi."
***
Di markasnya, Mufan yang sedang memakai kaos oblong putih (mulai mendalami peran preman gabut) mendengus remeh. "Tas bulu? Cih, murahan. Gembul, siapkan rencana kita sendiri. Kalau dia main di harga murah, kita main di harga... kenangan."
Mufan masih berdiri di depan monitor saat suara deru motor butut terdengar berhenti tepat di depan markas. Tak lama kemudian, pintu besi tua itu terbuka dengan bunyi decit yang memilukan. Gembul masuk sambil terengah-engah, wajahnya masih memerah karena kepanasan memakai rompi parkir oranye di bawah terik matahari.
“Bos! Lapor! Target ‘Artis Belek’ sudah menyelesaikan misinya!” seru Gembul sambil melempar topi parkirnya ke meja. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto-foto Huahai yang sedang keluar dari butik mewah dengan kotak emas berpita sutra.
“Dia benar-benar niat, Bos. Dia beli tas bulu kucing di pasar kaget, tapi dibungkus pakai kotak Le Meow-Gance yang harga kotaknya saja bisa buat kita makan enak sebulan. Dia sepertinya mau pakai taktik ‘Barang Murah Selera Mewah’ buat narik perhatian Nona Gemoy,” lapor Gembul dengan nada meremehkan.
Mufan menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang jarang terlihat sejak insiden “Kumis Melorot” kemarin. Ia berdiri dari kursi rongsokannya, melangkah menuju sebuah lemari tua di pojok markas yang digembok dengan rantai besi.
“Bagus, biarkan dia bermain dengan pembungkus emasnya,” gumam Mufan sambil memutar kunci. “Harga kenangan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan kartu kredit platinum Huahai, atau sogokan beta test game dari Linxi. Itu adalah sesuatu yang membuat Yueyue merasa... pulang.”
Pintu lemari terbuka, mengeluarkan aroma kayu tua dan debu. Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak kayu kecil yang sudah agak kusam. Mufan membukanya perlahan, memperlihatkan sebuah kamera saku analog tua merk Olympus yang bodinya sudah lecet-lecet di sana-sini.
“Bos? Itu kan kamera rongsokan yang Bos temuin di pasar loak waktu kita pertama kali nyamar jadi pemulung tahun lalu?” celetuk Gembul sambil menggaruk kepalanya. “Masa Bos mau kasih barang bekas ke Nona Gemoy? Bisa-bisanya Nona pikir Bos itu beneran gembel.”
Mufan menggeleng perlahan. “Kamu nggak paham, Mbul. Yueyue itu suka fotografi human interest. Dia suka menangkap momen yang jujur. Tas bulu Huahai Cuma bisa dipakai, tapi kamera ini... bisa menangkap dunianya.”
Mufan mengeluarkan sebuah gulungan film (roll film) dari sakunya. “Dan ini rahasianya. Roll film ini sudah aku isi dengan foto-foto candid kucing-kucing liar di sekitar sekolahnya, foto pedagang paha ayam yang lagi kipas-kipas sate dengan semangat, sampai foto bunga-bunga liar di pinggir jalan yang sering dia lewati saat pulang sekolah.”
Gembul melongo. “Jadi Bos... selama ini Bos bukan Cuma ngintipin Nona, tapi juga motretin dunianya Nona?”









