Taktik "Penculikan Kucing" dan Intervensi Sang Naga Tua

Bab 12

Di ruang rahasia markas Black Dragon yang tersembunyi di balik dinding kusam toko kelontong, Mufan sedang menatap layar yang menampilkan skema kalung Yueyue. Pikirannya tidak fokus. Bayangan Yueyue yang tertawa memeluk tas bulu kucing pemberian Linxi semalam terus mengusik konsentrasinya.

"Bos, ada telepon dari 'Pusat'," bisik Gembul sambil menyodorkan ponsel satelit dengan tangan gemetar.

Mufan menarik napas panjang. Itu kode untuk kakeknya, Wira Ardhaka.

"Mufan," suara berat sang legenda terdengar di seberang sana, "aku dengar kau sibuk mengirim kamera tua dan bersaing dengan seorang aktor untuk mendapatkan perhatian gadis itu. Apakah kau lupa bahwa kau adalah seorang Ardhaka, bukan pemain sirkus?"

Mufan menegakkan punggungnya. "Ini adalah bagian dari strategi penetrasi emosional, Kek. Untuk mendapatkan kunci Azure, aku harus menjadi orang yang paling dipercayai oleh pemegangnya."

Kakek Wira terkekeh dingin. "Strategi atau distraksi? Hati-hati, Mufan. Semakin lama kau bermain peran sebagai 'Preman Gabut', semakin kau akan lupa bagaimana caranya menjadi predator. Ingat, Azure adalah masa depan kita. Jika para Kakak Xiao itu mulai mencium bau Black Dragon, mereka akan mengunci gadis itu di bunker terdalam mereka, dan misi ini gagal."

"Saya mengerti, Kek," jawab Mufan datar.

"Bagus. Gunakan kecerdikanmu. Jika mereka waspada pada 'Mufan si Preman', maka buatlah mereka berpikir bahwa preman ini hanyalah gangguan kecil yang tidak berharga. Biarkan mereka fokus pada dua pemuda itu sementara kau... kau masuk ke titik buta mereka."

Telepon diputus. Mufan membanting ponselnya ke meja.

"Gembul!" seru Mufan. "Siapkan motor bututnya. Kita tidak akan piknik."

"Lho, jadi batal piknik rahasianya, Bos?" Gembul kecewa.

"Nggak batal. Tapi tujuannya berubah," Mufan menyeringai licik, teringat kata-kata kakeknya tentang 'titik buta'. "Kaikai main di logika, Linxi di kemewahan, Huahai di ketenaran. Tapi nggak ada satu pun dari mereka yang tahu kalau rumah itu punya jalur rahasia melalui ducting AC yang dulu sempat aku petakan."

Mufan mulai memakai jaket lusuhnya kembali. "Kita akan menculik Yueyue."

"HAH?! BOS MAU NYULIK NONA GEMOY?!" Gembul nyaris terjungkal. "Itu mah cari mati sama empat singa Xiao!"

"Bukan penculikan kriminal, Mbul. Penculikan 'Gabut'. Aku akan menjemputnya lewat palfon saat para kakaknya sibuk berdebat soal kado, membawanya makan paha ayam di pinggir waduk, sambil secara diam-diam memindai frekuensi kalungnya lebih dekat. Itu namanya Multi-tasking."

***

Di tempat lain jaringan intelijen seorang aktor papan atas seperti Huahai ternyata bergerak lewat jalur yang sangat tidak terduga. Alih-alih meretas satelit militer, asisten pribadinya hanya perlu menyuap pelayan toko pakan kucing langganan Keluarga Xiao dengan dua tiket konser gratis demi memotret resi pengiriman kardus pasir kucing. Begitulah cara nomor pribadi Xiao Yueyue bocor.

Ponsel Yueyue tidak pernah tenang karena rentetan panggilan video dari “Artis Belek” yang selalu menggunakan filter kuping kucing virtual—sebuah usaha keras yang alih-alih terlihat imut, justru membuat Yueyue merasa sedang diteror oleh makhluk halus digital karena hari ini Huahai baru saja menelepon Yueyue untuk memamerkan tas kucingnya lagi melalui video call. Selesai urusannya dengan Huai, Yue lanjut asyik di balkon kamar, mencoba membidikkan kamera tua Mufan ke arah burung gereja yang hinggap di pagar.

"Kamera ini unik banget," gumam Yueyue. "Rasanya seperti... ada rahasia di dalamnya."

Ia tidak tahu bahwa di bawah balkon, bayangan seorang 'Preman Gabut' sudah bersiap untuk memanjat, membawa misi yang bisa meruntuhkan dunia, namun terhenti sejenak hanya karena melihat Yueyue hampir terjatuh saat mencoba memotret kucing liar dari ketinggian.

"Ceroboh sekali gadis ini," bisik Mufan dari balik semak. "Bagaimana bisa dia memegang kunci nasib dunia dengan cara seberantakan itu?"

***

Suasana di ruang tengah kediaman Xiao sudah mirip pusat komando taktis darurat. Empat singa Xiao—Yifan, Feng, Kaikai, dan QiaoMu—berdiri mengelilingi meja, mengawasi Yueyue yang duduk lesu menghadap sepiring Ayam Goreng Mentega yang dibawa Linxi, Yue turun karena merasa lapar setelah asyik dengan kamera tua pemberian Mufan tapi seleranya mendadak hilang saat aturan Yifan mulai diberlakukan.

"Yue, kenapa ayamnya cuma dicuil sedikit? Komposisi menteganya sudah aku hitung pas dengan kebutuhan kalorimu hari ini," tanya Kaikai sambil menatap jeli piring tersebut, seolah-olah sedang membaca grafik saham.

"Bosan, Kak. Kak Yifan melarangku makan pakai tangan. Katanya Nona Muda Xiao harus elegan. Masa makan ayam goreng harus dipotong-potong pakai pisau dan garpu perak? Rasanya seperti sedang mengunyah penghapus karet," gerutu Yueyue sambil menusuk-nusuk malang kulit ayamnya.

Mufan, yang sejak tadi menempel di pipa ducting AC ruang tengah seperti cicak raksasa berjas hitam, langsung menangkap peluang emas ini. Melalui celah kisi-kisi ventilasi, ia menjatuhkan selembar kertas kecil tepat di atas pangkuan Yueyue, memanfaatkan momen ketika keempat kakaknya sedang sibuk berdebat apakah tas bulu pemberian Linxi perlu dibongkar untuk diperiksa sensor pelacaknya atau tidak karena sebelum pamit pergi tadi Linxi sempat berpesan kalau tas itu hanya Yue yang boleh membukanya. Mencurigakan.

Yueyue membuka kertas kusut itu. Tulisan tangannya cakar ayam, khas tulisan preman yang jarang pegang pulpen: "Mochi kabur ke genteng warung sebelah. Katanya mau digebuk warga karena nyolong ikan asin. Mau ikut nyelametin?"

Bagi seorang Xiao Yueyue, semua aturan protokoler keluarga berada di urutan kedua, sementara keselamatan seekor kucing—adalah urusan darurat nasional yang tidak bisa ditunda.

Dengan alasan ingin ke kamar mandi untuk "merenungi kesalahan estetikanya," Yueyue berhasil menyelinap ke balkon belakang dan meluncur turun melalui dahan pohon mangga. Di bawah, Mufan sudah bersiap di atas motor bututnya yang bergetar hebat seolah-olah mesinnya bisa rontok kapan saja.

"Mana Mochi?" tagih Yueyue, melipat tangan di dada dengan tatapan curiga.

"Mochi aman, sudah disogok pakai sosis di markas," dusta Mufan tanpa berkedip sedikit pun. "Tapi karena kamu sudah terlanjur basah kabur dari rumah, bagaimana kalau kita ke ujung waduk? Ada Ayam Bakar Madu yang dibakar pakai arang kayu jati asli. Bumbunya meresap sampai ke sumsum tulang. Kita makan langsung pakai tangan sampai belepotan, tanpa pisau dan garpu."

Pertahanan iman seorang Xiao Yueyue runtuh seketika. "Pakai tangan? Benar tidak akan ada Kak Yifan yang memelototiku dengan tatapan penuh penghakiman?"

"Jamin seratus persen. Di sana bahkan tidak ada tisu, cuma ada kobokan air jeruk nipis," jawab Mufan meyakinkan.

Tanpa pikir panjang, Yueyue langsung naik ke jok belakang. Motor matic itu pun melesat pergi, meninggalkan kepulan asap hitam pekat tepat saat QiaoMu di dalam rumah berteriak histeris menatap layar laptopnya, "Kak! Sinyal GPS di kalung Yueyue bergerak menjauh! Kecepatan 50 kilometer per jam... Sial, ini frekuensi mesin motor yang olinya jarang diganti!"

***

Warung pinggir waduk itu sangat sederhana, hanya beralaskan tikar pandan di bawah pohon rindang. Yueyue sedang menikmati momen kebebasannya, menggigit paha ayam bakar madu dengan bumbu kecap yang sukses membuat pipinya cemong. Mufan duduk di hadapannya, memperhatikan gadis itu dengan senyum tipis yang buru-buru ia hapus setiap kali Yueyue mendongak.

Namun, ketenangan itu hancur berantakan ketika sebuah mobil Bentley hitam mengkilap—yang harganya setara dengan seluruh aset warung tersebut dikalikan seribu—berhenti mendadak di tepi jalan tanah.

Gembul yang sedang berjaga sambil pura-pura memancing di pinggir waduk langsung menjatuhkan jorannya ke air. "Bos! Gawat! Itu bukan tim hore kita! Itu unit elit 'Black Wing' milik Kakek Wira!"

Mufan langsung berdiri tegap. Aura "preman gabut"-nya menguap dalam sekejap, digantikan oleh tatapan dingin dan mematikan khas calon penerus organisasi Black Dragon. Kakek Wira Ardhaka rupanya sudah muak melihat cucunya menghabiskan waktu berminggu-minggu hanya untuk menyamar jadi teknisi AC dan tukang ojek kuliner demi sebuah kalung. Bagi sang naga tua, Protokol Azure harus dibuka sekarang juga, tanpa peduli pada taktik pendekatan Mufan.

Enam pria berjas hitam dengan potongan rambut militer turun dari mobil. Langkah mereka sinkron, dingin, dan efisien.

"Tuan Muda Mufan," ucap pimpinan rombongan dengan suara datar. "Tuan Besar Wira menilai pergerakan Anda terlalu banyak distraksi kulinernya. Biar kami yang mengeksekusi sisa misi ini."

"Mundur. Dia di bawah perlindunganku," desis Mufan, tangannya diam-diam meraih pisau lipat taktis di saku belakangnya.

Yueyue, yang mulutnya masih penuh dengan daging ayam, menatap bingung ke arah orang-orang berjas tersebut. "Mas Tukang AC... ini penari latar untuk drama barunya Huahai ya? Kok mukanya judes semua?"

Para pria berjas itu tidak menjawab. Mereka bergerak serentak dalam satu komando. Dua orang langsung mengunci gerakan Mufan dengan teknik pitingan militer yang presisi. Mufan berontak keras, menyikut salah satu dari mereka hingga rahangnya berbunyi krek, namun jumlah mereka terlalu banyak. Sementara itu, dua orang lainnya langsung memegangi kedua lengan Yueyue.

"Eh! Lepasin! Ayamku belum habis!" teriak Yueyue. Ia mencoba menendang tulang kering pria di depannya, namun sebuah sapu tangan beraroma kimia menyengat langsung membekap hidung dan mulutnya. Dalam hitungan detik, pandangan Yueyue mengabur, paha ayam bakar madunya jatuh ke tanah, dan tubuhnya ambruk pingsan.

"YUEYUE!" raung Mufan. Sebuah hantaman popor senjata di tengkuknya membuat Mufan berlutut di tanah, menahan pening yang luar biasa. Mobil Bentley itu langsung melesat pergi membawa Yueyue, meninggalkan debu yang mengepul di pinggir waduk.

Mufan bangkit dengan susah payah, mengusap darah segar yang mengalir dari pelipisnya. Gembul berlari mendekat dengan wajah pucat pasi. "Bos... Kakek membawa Nona ke Kediaman Utama Ardhaka. Sistem keamanannya level militer!"

Mufan tidak membuang waktu. Ia merogoh ponselnya, menekan nomor darurat yang terhubung langsung ke ruang kerja Yifan Xiao.

"Yifan," suara Mufan terdengar berat, berwibawa, dan sangat dingin. "Singkirkan dulu pikiranmu tentang tukang AC atau preman komplek sebelah. Nama asliku Mufan Ardhaka. Dan adikmu baru saja diculik oleh kakekku, Wira Ardhaka."

Di ujung telepon, suasana langsung hening seketika. Suara Yifan terdengar seperti embusan angin kutub yang membekukan. "Jadi, desas-desus tentang Black Dragon itu benar. Kalau ada satu goresan saja di tubuh adikku..."

"Kalau kau mau dia selamat, simpan dulu ancaman bodohmu itu!" potong Mufan kasar. "Kakekku tidak akan ragu memotong leher siapa pun demi isi kalung itu. Aku tahu semua titik buta di kediaman Ardhaka. Jemput aku di koordinat waduk sekarang juga. Bawa semua pasukan, senjata, dan si jenius komputer itu."

Yifan terdiam selama dua detik sebelum menjawab, "QiaoMu, Feng, Kaikai! Ambil unit taktis darurat. Kita akan melakukan kunjungan keluarga ke markas Black Dragon."

To be Continued

6/8 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai pembaca setia cerita dengan latar belakang penuh intrik seperti ini, saya merasa terhubung dengan perjuangan Mufan yang harus berperan sebagai "Preman Gabut" demi mencapai tujuannya. Kisahnya mengingatkan saya pada pentingnya strategi yang cermat, terutama dalam situasi di mana lawan kita sangat waspada dan berlapis-lapis penjagaan. Terlebih lagi, penggunaan jalur rahasia melalui ducting AC dan taktik multi-tasking saat menculik Yueyue menunjukkan bagaimana taktik yang tidak konvensional bisa menjadi kunci dalam operasi rahasia. Penggambaran momen kecil seperti makan ayam bakar madu sambil menikmati kebebasan sejenak menambah warna cerita dan memberikan sentuhan humanis yang membuat karakter-karakter dalam cerita terasa nyata. Saya pribadi pernah merasakan bahwa terkadang hal-hal kecil dan sederhana, seperti makan bersama tanpa aturan kaku, bisa menjadi pelarian yang menyegarkan dalam situasi penuh tekanan. Selain itu, bagaimana konflik keluarga dan organisasi dengan latar belakang teknologi dan pengawasan membuat cerita ini makin seru. Contohnya, sensor pelacak di tas bulu kucing, dan bagaimana nomor pribadi bocor melalui cara sederhana tapi efektif seperti suap pelayan toko, memperlihatkan sisi modern dan realistis dalam cerita fiksi ini. Pengalaman membaca bagian ini juga mengingatkan saya pada pentingnya keseimbangan antara pendekatan emosional dan taktik licik dalam menyelesaikan misi penting. Mufan yang harus menyakinkan orang-orang di sekitarnya akan loyalitasnya, namun tetap harus berhati-hati agar tidak kehilangan identitas asli sebagai predator yang lihai, menunjukkan dinamika psikologis yang kompleks. Kesimpulannya, cerita ini tidak hanya tentang aksi dan penculikan, tetapi juga tentang bagaimana rasa percaya, strategi, dan bahkan hal-hal kecil seperti makan ayam bisa menjadi bagian dari strategi besar. Saya menantikan kelanjutan kisah ini, khususnya bagaimana unit taktis keluarga Xiao akan menghadapi markas Black Dragon dan misi penyelamatan yang penuh risiko.

1 komentar

Gambar ヨッシー
ヨッシー

🥰🥰