Blokade Hukum dan Pertempuran di Atap Langit
Bab 14
Suasana aula bawah tanah berubah mencekam dalam sekejap. Tepat tiga puluh detik setelah pintu baja terkunci, pasokan listrik terputus total. Kegelapan pekat langsung menelan ruangan, menyisakan lampu indikator merah darurat dari komputer pemindai yang berkedip lambat seperti detak jantung yang sekarat.
“Semuanya, merapat!” seru Yifan rendah. Ia menyalakan senter taktis berintensitas tinggi yang terpasang di bawah laras senjatanya. Cahaya putih memotong kegelapan, menyoroti puing-puing laboratorium.
Mufan bergerak gesit di depan. Ia melompat ke atas meja, menjangkau panel pemeliharaan udara di langit-langit, lalu menyentak pintunya hingga jebak terbuka. “Yifan, Feng, naik sekarang! Tangganya sempit, biar aku yang jaga barisan paling belakang!”
Feng dengan sigap mengangkat Yueyue yang masih erat memeluk tas kucing lusuh yang ditemukannya. “Ayo Nona Gemoy, saatnya naik wahana ekstrem. Pegangan yang kuat!”
Yueyue tidak protes. Bau mesiu, debu, dan kegelapan ini bener-bener membuatnya sadar kalau ini bukan syuting drama Huahai. Dengan cepat mereka berempat merayap naik ke dalam lorong vertikal tangga darurat, berkejaran dengan waktu sebelum helikopter Kakek Wira lepas landas.
Sementara itu, di luar perimeter Kediaman Utama Ardhaka, situasi tidak kalah kacau. Ratusan fans militan Huahai yang dikoordinasi oleh sang aktor lewat akun rahasianya benar-benar memblokir jalan utama dengan spanduk-spanduk besar, membuat barisan mobil pengawal Black Dragon di luar tidak bisa bergerak maju maupun mundur.
Namun, kejutan sesungguhnya datang dari arah udara dan jalur hukum.
Di dalam van komando, QiaoMu mendadak bersorak melihat layar monitornya. “Yifan! Mufan! Kakek Wira tidak bisa langsung terbang! Linxi dan Kaikai baru saja melakukan pergerakan gila!”
Melalui earpiece yang terpasang, suara Kaikai terdengar memotong jalur komunikasi dengan nada bicara yang cepat dan penuh perhitungan matematis. “Yifan, aku sudah membeli lima puluh persen saham perusahaan penyedia avtur yang menyuplai helipad Ardhaka secara real-time dua menit lalu. Secara hukum korporasi, aku punya hak veto untuk membekukan izin operasional penerbangan privat mereka hari ini atas tuduhan pelanggaran dokumen lingkungan hidup!”
Belum sempat Feng mencerna kegilaan logistik Kaikai, suara Linxi ikut masuk dengan nada dingin khas pengacara elit. “Dan aku baru saja mandarat di gerbang samping bersama tiga unit helikopter dari firma hukum keluargaku, lengkap dengan surat perintah penyitaan aset dan perintah penahanan darurat atas dugaan penculikan warga sipil. Kakek Wira tidak akan bisa keluar dari zona udara kota ini tanpa dicegat oleh otoritas penerbangan sipil dan militer!”
“Kerja bagus!” balas Yifan sambil terus memanjat tangga besi. “Tapi naga tua itu tidak akan peduli pada hukum kalau dia sudah terdesak. Kita harus merebut kalungnya secara fisik!”
Wuzzzzzzzz!
Angin kencang langsung menerpa wajah mereka saat Mufan berhasil menjebol pintu keluar di atap gedung. Di atas helipad beton yang luas, baling-baling helikopter Eurocopter hitam milik Kakek Wira sudah berputar hebat, menimbulkan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Kakek Wira, yang dibantu oleh dua pengawal raksasanya, baru saja hendak melangkah naik ke pintu helikopter ketika suara tembakan peringatan dari Yifan memecah udara.
BANG!
Peluru menghantam lantai beton, hanya beberapa senti dari sepatu lars pengawal Wira.
“Wira Ardhaka! Turun dan kembalikan kalung adikku!” raung Yifan, berdiri tegap di tengah terpaan angin badai helikopter, diikuti oleh Feng yang langsung memasang posisi protektif di depan Yueyue.
Kakek Wira berbalik perlahan. Di tangan kanannya, kalung perak Yueyue berkilau terkena sorot lampu helikopter. Senyum sinisnya mengembang. “Kalian terlambat, anak-anak muda. Hukum, saham, atau gertakan senjata tidak ada artinya di hadapan Black Dragon.”
Namun, sebelum Kakek Wira sempat melangkah masuk ke dalam kabin, sosok Linxi mendadak muncul dari pintu tangga darurat sisi seberang helipad, mengenakan setelan jasnya yang kini agak berantakan, didampingi oleh beberapa pengawal pribadinya yang bersenjata.
“Tuan Besar Wira,” teriak Linxi, suaranya lantang menembus deru angin. “Helikopter Anda tidak akan mendapatkan izin clearance untuk melewati batas wilayah. Menyerahlah, atau seluruh aset Ardhaka di luar negeri akan saya bekukan malam ini juga melalui pengadilan internasional!”
Di saat perhatian Kakek Wira terpecah oleh kedatangan Linxi dan ancaman hukumnya, Mufan memanfaatkan titik buta tersebut. Dengan kecepatan luar biasa khas predator, Mufan melesat rendah di atas beton helipad, menerjang langsung ke arah dua pengawal raksasa kakeknya.
Bugh! KRAK!
Mufan melakukan tendangan memutar yang mematahkan pertahanan pengawal pertama, sementara Yifan ikut merangsek maju untuk mengunci gerakan pengawal kedua. Pertempuran penentu di atas atap langit Ardhaka pun pecah dengan sangat sengit.
Yueyue, yang berdiri di belakang Feng, hanya bisa menyaksikan dengan mata bulatnya. Di satu sisi ada Mas Tukang AC yang bertarung seperti kesurupan, di sisi lain ada kakak-kakaknya, dan di seberang sana ada Linxi yang datang membawa pasukan jas hitam.
“Aduh... ini kenapa jadi ramai banget sih?” gumam Yueyue polos. “Padahal aku Cuma mau makan ayam bakar pakai tangan.”
Di tengah dentuman adu fisik antara Mufan, Yifan, dan para pengawal raksasa di atas helipad, sebuah suara klakson bernada melodi klasik yang sangat nyaring mendadak terdengar dari arah langit.
Bukan suara helikopter militer, melainkan sebuah helikopter mewah bernuansa rose gold dengan logo inisial “H” besar di lambungnya. Helikopter itu meluncur turun dengan anggun, memotong jalur angin Eurocopter milik Kakek Wira.
Pintu geser helikopter mewah itu terbuka. Di sana, berdiri Huahai dengan setelan jas sutra desainer Paris terbaru, kacamata hitam anti-radiasi meskipun situasi saat itu malam hari, dan sebotol parfum mahal di tangan kirinya.
Dengan gerakan lambat yang sangat estetis, ia menyemprotkan parfum ke udara sebelum melompat turun ke beton helipad dengan pendaratan yang sangat mulus—seolah-olah sedang berjalan di atas karpet merah Cannes Film Festival.
“Berhenti!” seru Huahai dramatis, menunjuk ke arah Kakek Wira dengan botol parfumnya. “Tuan Besar Ardhaka, Anda telah melanggar hukum tertinggi di dunia ini: Membuat Nona Gemoy-ku melewatkan jam makan malamnya!”
Feng yang sedang menjaga Yueyue langsung menepuk jidatnya. “Ya ampun... si Artis Belek malah bikin konser tunggal di sini. Kacamata hitam itu buat apa coba, ini kan gelap?!”
Yueyue justru melambaikan tangannya dengan polos. “Wah, Kak Huai! Helikopternya bagus banget warna pink!”
“Ini Rose Gold, Sayang,” ralat Huahai sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Yueyue, membuat aura pertempuran mafia ini mendadak bergeser jadi lokasi syuting drama romantis.
Kakek Wira yang melihat interupsi absurd ini mulai kehilangan kesabaran. “Siapa lagi pemuda konyol ini? Berani-beraninya mengacaukan jalur penerbanganku!”
Linxi melangkah maju, membenahi posisi dasinya yang miring. “Dia adalah bagian dari pengalihan isu, Tuan Wira. Di bawah sana, gerbang Anda sudah lumpuh total.”
Huahai tersenyum puas, melipat tangannya di dada. “Benar sekali. Di bawah sana, lima ratus fans militanku dari aliansi ‘Istri Sah Huahai’ sedang melakukan aksi mogok makan darurat di depan gerbang utama Anda. Mereka tidak tahu apa itu Protokol Azure, mereka juga tidak tahu siapa itu Keluarga Xiao. Yang mereka tahu hanyalah satu instruksi yang kukirim di grup chat rahasia lima belas menit lalu: ‘Suami kalian sedang dikepung oleh naga tua jahat bau minyak kayu putih di dalam gedung ini. Selamatkan aku!’”
Yifan yang baru saja mengunci lengan pengawal Black Dragon hingga berbunyi KRAK, langsung menoleh dengan tatapan ngeri. “Kau mengerahkan massa garis keras tanpa memberi tahu alasan sebenarnya?”
“Tentu saja tidak, Kak Yifan,” jawab Huahai dengan nada santai tanpa beban. “Kalau aku bilang kita sedang merebutkan kalung berisi rahasia teknologi dunia, mereka akan mengira aku sedang ikut audisi film fiksi ilmiah. Tapi kalau aku bilang aku sedang tertindas... Para wanita di bawah sana siap merubuhkan pagar listrik Kakek Wira hanya dengan kekuatan jeritan melengking mereka!”
Kakek Wira menatap layar monitor kecil di dalam kokpit helikopternya. Benar saja, di bawah sana, para penjaga berjas hitam yang biasanya kejam dan tidak punya rasa takut, kini tampak kewalahan, pucat, dan terdesak mundur oleh kepungan para gadis belia dan wanita paruh baya yang membawa spanduk bergambar wajah Huahai sambil membawa panci dan rebana. Kekuatan Black Dragon resmi tak berdaya menghadapi barikade fans fanatik.
“Sialan!” umpat Kakek Wira. Di bawah kepungan Yifan, Linxi, dan kehadiran Huahai yang merusak atmosfer, sang naga tua sadar posisinya sudah skakmat.
Mufan memanfaatkan momen kepanikan kakeknya. Dengan satu gerakan cepat bak kilat, ia menerjang maju, merebut kalung perak Yueyue dari cengkeraman tangan Wira Ardhaka sebelum sang kakek sempat melompat ke dalam helikopter.
“Mufan! Kau rebel?!” bentak Kakek Wira saat tangannya mendadak kosong.
Mufan berdiri tegak, memegang kalung perak itu dengan erat. Tatapannya dingin, namun ada ketegasan yang tak terbantahkan. “Aku adalah seorang Ardhaka, Kek. Dan seorang Ardhaka tidak akan membiarkan wanitanya terluka, bahkan oleh keluarganya sendiri. Pergilah, sebelum Kakak Xiao benar-benar meratakan tempat ini.”
Mendengar helikopter dari firma hukum Linxi mulai mengepung perimeter udara dan jeritan fans Huahai yang makin mendekat ke area tangga luar, Kakek Wira akhirnya mendengus geram. Ia terpaksa masuk ke dalam kabin helikopternya sendiri. Pintu ditutup rapat, dan Eurocopter hitam itu terpaksa lepas landas secara ilegal, melesat pergi menembus kegelapan malam tanpa membawa hasil apa pun.
Atap helipad mendadak senyap dari deru mesin musuh.
Mufan membalikkan badannya perlahan, berjalan mendekati Yueyue yang masih memeluk tas kucing. Di bawah tatapan tajam dan penuh selidik dari Yifan, Feng, Linxi, Kaikai (via earpiece), dan Huahai yang mulai sibuk merapikan rambutnya yang terkena angin, Mufan berlutut di depan Yueyue.
Ia mengulurkan tangannya, memperlihatkan kalung perak yang berhasil ia rebut kembali. “Ini... kalungmu, Yue. Maaf karena paha ayam bakarmu harus jatuh ke tanah tadi.”
Yueyue menatap kalung itu, lalu menatap Mufan dengan binar mata yang campur aduk. “Mas Tukang AC... eh, Mas Mufan... makasih ya.”
Perang perebutan kalung di sarang naga malam itu resmi berakhir, namun perang yang sesungguhnya—perang memperebutkan restu dari empat kakak Xiao dan hati sang Nona Gemoy antara Mufan, Linxi, dan Huahai—baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih melelahkan.
To be continued





















































