Plester Kucing dan Sidang Pleno Para Rival
Bab 15
Malam makin larut saat van ekspedisi hitam milik Keluarga Xiao membelah jalanan kota, bergerak pulang dengan muatan yang sangat tidak biasa. Jika beberapa jam lalu kabin van itu terasa sepi dan menegangkan seperti markas intelijen, kini suasananya terasa super padat, pengap, dan canggung maksimal.
Yueyue duduk di kursi tengah sambil masih memegang tas kucing yang ditemukannya. Di sebelah kanan ada Mufan yang kaosnya sudah robek dan pelipisnya terus meneteskan darah segar. Di sebelah kiri ada Linxi yang sibuk membersihkan debu di jas mahalnya dengan wajah masam. Sementara Huahai terpaksa duduk di lantai van beralaskan karpet modifikasi QiaoMu karena tidak kebagian kursi, sibuk menyemprotkan parfum rose gold-nya setiap tiga menit sekali demi mengusir bau mesiu.
“Aduh, Huai! Berhenti menyemprotkan cairan wangi itu! Mataku perih, layar monitorku jadi berminyak!” protes QiaoMu dari kursi depan tanpa menoleh.
“Ini parfum legal buatan Prancis. Lebih baik mencium ini daripada bau keringat mantan preman di sebelah Yueyue,” sindir Huahai sambil melirik Mufan yang hanya diam menatap keluar jendela dengan wajah sedingin es.
Yifan yang menyetir van hanya bisa memijat pelipisnya. Sesampainya mereka di kediaman Xiao, pintu van langsung digeser kasar oleh Feng.
“Turun semua! Masuk ke dalam! Kita butuh penjelasan sekarang juga!” perintah Feng dengan gaya interogator yang dipaksakan.
Ruang tamu kediaman Xiao mendadak berubah menjadi ruang sidang pleno. Yifan, Feng, QiaoMu, dan Kaikai—yang baru saja bergabung kembali setelah mengurus pembekuan saham avtur—duduk berjejer di sofa panjang dengan tangan bersilang di dada. Aura empat singa Xiao ini bener-bener intimidatif.
Di seberang mereka, Mufan duduk tegak dengan sisa luka pertempurannya. Linxi dan Huahai mengambil posisi di sisi kanan dan kiri, bertindak seolah-olah mereka adalah saksi ahli sekaligus rival yang siap menjatuhkan reputasi Mufan.
“Jadi, Tuan Mufan Ardhaka,” Yifan membuka suara, nadanya sedingin es kutub. “Kau berutang penjelasan yang sangat besar pada kami. Pertama, soal penyamaran konyolmu sebagai tukang AC dan preman gabut. Kedua, kenapa organisasi Black Dragon mengincar kalung adik kami?”
Mufan menarik napas panjang, bersiap menjawab dengan logis. Namun, sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya, langkah kaki ringan terdengar dari arah tangga. Yueyue datang membawa sebuah kotak P3K berwarna pink bergambar wajah kucing.
Tanpa memedulikan tatapan tajam keempat kakaknya, Yueyue langsung berjalan mendekati Mufan. Ia berlutut di samping kursi pria itu, membuka kotak obat, dan mengeluarkan sebotol alkohol serta kapas.
“Mas Mufan, diam dulu ya. Itu darahnya merembes terus ke pipi, nanti kena baju oblong kamu yang sudah robek itu,” kata Yueyue polos.
“Yue! Kembali ke kamarmu! Kita sedang melakukan interogasi serius!” seru Feng panik melihat adiknya mulai menyentuh dahi sang rival.
“Nggak mau, Kak Feng! Mas Mufan terluka gara-gara selamatin kalung aku. Kalau infeksi gimana? Memangnya Kak Feng mau tanggung jawab bayar rumah sakitnya?” balas Yueyue ketus sambil dengan telaten menepuk-nepuk kapas beralkohol ke pelipis Mufan.
Mufan sempat menegang saat jemari lembut Yueyue menyentuh wajahnya. Bau alkohol medis yang menyengat mendadak kalah oleh aroma manis stroberi dari sampo Yueyue. Sepasang mata tajam milik sang predator Black Dragon itu melunak seketika saat menatap wajah Yueyue yang berjarak begitu dekat dengannya. Ia bahkan tidak meringis sedikit pun saat alkohol itu menyengat lukanya.
Di seberang meja, Linxi langsung mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, sementara Huahai nyaris menggigit ujung kacamata hitamnya saking cemburu.
“Yueyue, biar aku saja yang mengobatinya. Aku punya sertifikat pertolongan pertama saat syuting film aksi tahun lalu,” tawar Huahai dengan senyum yang dipaksakan.
“Nggak usah, Kak Huai. Kak Huai duduk manis aja, nanti jas mahalnya kena noda darah,” tolak Yueyue tanpa menoleh.
Yueyue kemudian merobek bungkus sebuah plester obat. Dan astaga... itu adalah plester anak-anak bermotif wajah Mochi yang sedang cemberut. Dengan gerakan manis, Yueyue menempelkan plester kucing itu tepat di pelipis kanan Mufan Ardhaka—seorang calon penerus tunggal organisasi mafia paling ditakuti di kota ini.
Feng dan QiaoMu langsung menahan tawa melihat wajah sangar Mufan kini dihiasi oleh stiker kucing gemoy berwarna merah muda. Reputasi seram Black Dragon runtuh dalam satu kali tempel.
“Nah, selesai!” ujar Yueyue puas sambil tersenyum manis. “Sekarang silakan lanjut sidangnya. Mas Mufan, jangan banyak gerak ya, nanti plester Mochinya lepas.”
Yueyue pun kembali duduk di sofa pojok, membiarkan suasana ruang tamu kembali hening, namun kali ini dengan tensi cemburu yang naik tiga kali lipat dari sebelumnya.
Mufan berdeham kecil, mencoba mengabaikan rasa hangat di pipinya yang mulai memerah. Ia kembali menatap Yifan dengan serius. “Mengenai Protokol Azure di dalam kalung itu... Kakek Wira menginginkannya karena itu adalah cetak biru kecerdasan buatan terenkripsi yang dirancang oleh nenek kalian bersama kakekku dulu, sebelum hubungan mereka hancur. Kakekku merasa memiliki hak atas setengah data tersebut untuk memperluas jaringan Black Dragon.”
Kaikai menyipitkan matanya, langsung menangkap poin penting. “Jadi, kalung itu bukan sekadar perhiasan lama. Itu adalah kunci akses server utama?”
“Benar,” jawab Mufan. “Dan karena Kakek Wira gagal malam ini, dia pasti akan mencari cara lain melalui jalur bayangan. Aku di sini... bukan lagi sebagai penyusup, melainkan sebagai orang yang tahu bagaimana cara naga tua itu bergerak. Aku menawarkan aliansi jangka panjang untuk melindungi Yueyue.”
Linxi langsung mendengus sinis. “Aliansi? Atau itu Cuma caramu agar bisa terus berada di dekat Yueyue dengan alasan perlindungan, Tuan Ardhaka?”
Mufan terdiam sejenak mendengar sindiran tajam Linxi. Ia melirik Yueyue yang kini duduk tenang.
Mufan kembali menatap Linxi, lalu beralih ke empat Kakak Xiao. Sorot matanya berubah serius, tidak ada lagi kilat main-main dari seorang ‘Preman Gabut’.
“Ini bukan Cuma soal aku ingin berada di dekat Yue,” ujar Mufan dengan nada berat. “Kalian harus tahu, Protokol Azure itu jauh lebih besar dari sekadar kecerdasan buatan. Di dalam kalung itu, mendiang Kakek Xiao secara cerdik menyisipkan data penting jaringan pengusaha papan atas, pejabat negara, serta koordinat rahasia untuk menguasai triliunan kekayaan yang tersebar di berbagai belahan dunia. Itulah alasan kenapa Kakek Wira sampai se-obsesif itu.”
Mendengar frasa ‘triliunan kekayaan’ dan ‘jaringan pejabat’, Kaikai langsung menegakkan punggungnya. Sebagai otak finansial keluarga, ia tahu betul jika data itu jatuh ke tangan yang salah, peta ekonomi dan stabilitas negara bisa runtuh dalam semalam.
“Dan kau... berniat merebutnya dari kami untuk kakekmu?” tanya Yifan, menelisik langsung ke manik mata Mufan.
Mufan menggeleng perlahan, plester Mochi di pelipisnya ikut bergerak. “Wira Ardhaka adalah kakekku, satu-satunya darah dagingku yang tersisa. Aku tidak akan pernah mengkhianati keluargaku sendiri demi orang lain. Tapi, aku juga tidak akan membiarkan Kakek melangkah terlalu jauh hingga menyakiti Yueyue.”
Mufan mengepalkan tangannya di atas lutut. Targetnya adalah membuat Kakek sadar, menyerah, dan pensiun dini dari dunia hitam. Biar dia yang mengambil alih kemudi Black Dragon dan mencari cara untuk mengembangkan organisasi itu menjadi lebih besar dengan jalur yang bersih, tanpa perlu melibatkan atau menyakiti Yueyue. Tapi untuk melakukan itu butuh waktu, dan butuh pengorbanan yang besar, perasaan yang perlahan tumbuh di hatinya untuk Yue kini harus sedikit dikorbankan.
Huahai mendengus sambil merapikan tatanan rambutnya yang mulai lepek. “Terdengar sangat mulia, Tuan Muda Ardhaka. Tapi bagaimana kami bisa menjamin kau tidak akan berubah pikiran di tengah jalan?”
“Kalian tidak punya pilihan selain memercayaiku,” balas Mufan dingin. “Karena saat ini, hanya aku yang tahu jalur bayangan mana yang akan diambil Kakek Wira untuk kembali bergerak.”
Yifan menatap ketiga adiknya—Feng, QiaoMu, dan Kaikai—bertukar kode lewat pandangan mata yang intens. Ruang tamu itu mendadak diselimuti keheningan yang berat, terkecuali suara Yueyue yang tiba-tiba menguap kecil karena jam tidurnya sudah lewat terlalu lama.
Yifan akhirnya berdiri, menandakan sidang pleno malam itu selesai. “Aliansi ini berlaku bersyarat, Mufan. Sampai Wira Ardhaka benar-benar mundur, kau diawasi. Dan satu hal lagi...” Yifan melirik plester kucing merah muda di wajah sang mafia. “Obati lukamu dengan benar besok pagi. Kucing di pelipismu itu sama sekali tidak membantu wibawamu sebagai calon ketua Black Dragon.”
Mufan hanya bisa berdeham kaku, sementara Linxi dan Huahai langsung mendengus kesal karena gagal mendepak si “Tukang AC” dari radar Keluarga Xiao.
Malam itu, atas kesepakatan bersama untuk mengantisipasi serangan balasan mendadak dari Black Dragon, Linxi, Huahai, dan Mufan akhirnya memutuskan untuk menginap di kediaman Xiao. Sementara di luar pagar, Gembul masih setia berjaga di dalam van komando sambil sesekali memancing di parit depan rumah menggunakan joran patahnya demi mengusir kantuk.
***
Keesokan paginya, suasana rumah yang sempat tenang mendadak gempar oleh suara raungan mesin dua tak yang sangat bising dari halaman depan.
BRRREMMMM! Ckiiiiiittt!
Sebuah motor Kawasaki Ninja hitam metalik berhenti dengan posisi stunt yang agak kasar di depan teras. Yangya turun, melepas helm full-face-nya dengan kasar, lalu melangkah lebar dan menggebrak pintu depan rumah Xiao yang kebetulan tidak terkunci. Napasnya memburu, seragam sekolahnya sedikit berantakan, dan wajahnya pucat pasi.
***
Pagi ini, saat Yangya sedang bersiap-siap di kamarnya untuk menjemput Yueyue seperti biasa, Papanya mendadak menggedor pintu setelah menerima telepon darurat dari Yifan. Yifan mengabari bahwa Yueyue izin tidak masuk sekolah hari ini karena kejadian penculikan semalam. Begitu mendengar kata ‘penculikan’ dan ‘Black Dragon’ dari Papanya, Yangya yang biasanya jaim langsung panik setengah mati, menyambar kunci Ninja-nya, dan tancap gas tanpa pikir panjang.
***
Di ruang tengah, Mufan, Linxi, dan Huahai yang baru selesai sarapan fungsional langsung menoleh serempak.
Sementara itu, Yifan tampak sudah mengenakan setelan jas formalnya yang rapi, sibuk memakai jam tangan sambil menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Ada meeting direksi penting pagi ini di kantor yang sama sekali tidak bisa ia tinggalkan.
“Yueyue! Yue, kamu di mana?!” seru Yangya, mengabaikan keberadaan para pria dewasa di ruangan itu.
Yueyue yang baru turun dari tangga sambil mengucek matanya langsung mengerjap. “Eh, Yangya? Kok kamu di sini? Kan aku udah izin gak masuk sekolah hari ini.”
Tanpa babibu, Yangya langsung melangkah cepat, mencengkeram kedua bahu Yueyue, lalu memutar tubuh gadis itu ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa apakah ada luka. “Kau bodoh ya?! Bisa-bisanya diculik mafia?! Ada yang terluka tidak? Mana yang sakit?!”
“Aduh, Yangya, pusing! Aku gak apa-apa tahu, Cuma paha ayam bakarku aja yang kemarin jatuh,” keluh Yueyue polos.
Melihat Yueyue benar-benar aman, Yangya diam-diam mengembuskan napas lega yang amat berat. Detak jantungnya yang berpacu gila sejak di atas motor Ninja tadi akhirnya melambat. Meskipun sehari-hari ia selalu bersikap cuek, ketus, dan gengsi tinggi, kenyataannya Yangya sangat menyayangi dan peduli pada Nona Gemoy itu.
“Sialan. Bikin jantungan saja,” umpat Yangya pelan, lalu tanpa ragu ia menarik kepala Yueyue dan merangkul leher gadis itu dengan akrab—gaya pelukan persahabatan ala anak remaja yang sangat santai. “Kalau begitu, aku juga ikut bolos hari ini. Aku mau menjagamu di sini.”
Deg!
Tiga pasang mata di ruangan itu langsung menatap tajam ke arah lengan Yangya yang bertengger manis di leher Yueyue.
Mufan, yang pelipisnya masih ditempeli plester kucing Mochi dari Yueyue, menyipitkan matanya dengan aura predator yang mendadak bangkit. Linxi langsung meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras yang disengaja, sementara Huahai nyaris mengacak-acak rambutnya sendiri saking cemburu.
Mereka bertiga, yang semalam bertaruh nyawa di atas helipad berdarah-darah, mendadak merasa tersaingi dan cemburu setengah mati oleh seorang anak SMA bermotor Ninja yang dengan mudahnya memeluk leher Yueyue tanpa kena amuk empat Kakak Xiao.
Yifan yang melihat kepanikan Yangya hanya mengangguk samar, merasa adiknya aman karena ada teman seumuran yang menjaganya. “Aku harus ke kantor sekarang, ada rapat penting. Feng, urus sisanya,” ucap Yifan dingin sebelum melangkah keluar dengan langkah tegap, mengabaikan drama kecemburuan para pelamar di ruang tamunya.
Di sudut ruangan, QiaoMu sama sekali tidak peduli pada aura cemburu yang membakar ruangan. Ia sedang memakai headphone kedap suara yang besar, jemarinya menari brutal di atas keyboard laptop untuk memperkuat sistem pertahanan siber rumah mereka dari serangan balasan tim IT Black Dragon. Baginya, baris kode biner jauh lebih menarik daripada cinta segitiga.
Sementara Kaikai, si otak finansial, duduk di meja makan dengan kacamata bacanya, dikelilingi oleh tumpukan berkas grafik saham avtur yang ia manipulasi semalam. Ia sedang sibuk menelepon sekuritas luar negeri untuk memastikan kerugian bandar udara milik Kakek Wira membengkak maksimal pagi ini. Urusan triliunan rupiah lebih penting daripada mengurusi bocah SMA bermotor Ninja.
Merasakan atmosfer ruangan kembali drop ke titik minus karena ulah Yangya, Feng tiba-tiba muncul dari arah dapur sambil membawa kemoceng bulu ayam dan sebuah sapu ijuk. Karena Yifan sudah pergi, dan dua saudaranya yang lain sibuk dengan dunianya masing-masing, Feng merasa punya kekuasaan penuh untuk bertindak sebagai kepala rumah tangga darurat.
“Heh, heh, heh! Ini kenapa ruang tamu saya jadi tempat penampungan pelamar begini?!” seru Feng berkacak pinggang, langsung mengarahkan ujung kemocengnya ke hidung Huahai. “Tuan Artis Belek, jam menginap Anda sudah habis. Silakan pulang, fans Anda di luaran sana pasti sudah rindu bau parfum Anda! Dan Anda, Tuan Pengusaha Necis,” Feng beralih menunjuk Linxi dengan sapu ijuk, “persahaman dunia tidak akan berjalan kalau Anda terus nongkrong di sini. Hus, hus! Pulang!”
Terakhir, Feng menatap Mufan yang masih duduk tegak dengan plester pink-nya. “Dan kau, Mas Tukang AC alias Calon Bos Mafia... tolong bawa pulang anak buahmu yang di luar itu. Dia sudah menghabiskan tiga bungkus sereal saya!”
Huahai dan Linxi yang tadinya berniat mengulur waktu agar bisa terus memantau Yueyue dan Yangya, akhirnya mendengus kesal. Dengan berat hati dan sisa harga diri mereka, kedua pria perlente itu merapikan pakaian mereka, melirik tajam ke arah Yangya yang masih asyik mengobrol dengan Yueyue, lalu berjalan keluar.
Mufan berdiri perlahan. Sebelum melangkah keluar, ia sempat menatap Yueyue sejenak, menyimpan rapat-rapat rasa hangat di hatinya ke dalam narasi batin yang paling dalam. Mulai hari ini, dia harus bersiap menghadapi badai yang lebih besar demi masa depan Black Dragon dan keselamatan gadis itu. Perasaannya yang perlahan tumbuh untuk Yue kini harus sedikit dikorbankan demi misi yang lebih besar.
“Aku pergi dulu, Yue,” pamit Mufan pendek.
“Dadah Mas Mufan! Hati-hati ya, jangan lupa plester Mochinya diganti kalau mandi!” seru Yueyue riang sambil melambaikan tangan.
Feng menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pintu depan akhirnya tertutup. “Aneh-aneh saja kelakuan anak muda zaman sekarang,” gerutunya, sementara Yangya hanya mendengus geli melihat saingan-saingan beratnya baru saja diusir menggunakan kemoceng oleh Kakak Xiao.
To be continued

























































