Berita tentang kematian terus bermunculan, ada yang mati karena kecelakaan, ada yang karena sakit, ada yang tiba² mati tanpa diketahui sebabnya, semuanya akan meninggalkan dunia ini pada masanya.
Hariku dan harimu pasti akan tiba, maka persiapkanlah bekal untuk perjalanan yang tak dapat kembali itu.
Wahai orang yang menunda taubat dengan alasan karena masih muda..
Ingatlah akan kematian itu nyata 😞..
2025/12/1 Diedit ke
... Baca selengkapnyaShalat memang sering kali terasa sulit pada awalnya, itulah sebabnya ungkapan "Shalat itu mesti dipaksa" sangat relevan. Setelah dipaksa untuk melakukannya secara konsisten, kemudian lama-kelamaan shalat akan menjadi kebiasaan. Saat kebiasaan itu tumbuh, rasa cinta terhadap shalat pun akan ikut berkembang. Menurut sebuah pesan yang sering dikutip, "Setelah terbuat menjadi kebiasaan, akan tumbuh rasa cinta, dan ketika sudah jatuh cinta, bila sewaktu-waktu tidak dikerjakan, diri kita merasa sangat bersalah dan berdosa."
Memang benar, kehidupan dunia penuh dengan berbagai aktivitas yang menguras waktu, mulai dari menonton pertandingan bola selama 90 menit, serial film 60 menit, nongkrong hingga 240 menit, menggunakan media sosial sekitar 180 menit, sedangkan shalat hanya membutuhkan waktu sekitar 8 menit. Perbandingan waktu ini mengingatkan kita bahwa seharusnya prioritas kita dalam beribadah harus lebih besar daripada sekadar hiburan dan interaksi sosial yang bersifat duniawi.
Selain itu, penting untuk diingat bahwa apa yang kita bawa setelah meninggalkan dunia ini bukanlah harta atau teman sebanyak apapun di media sosial, tetapi amalan baik yang kita lakukan selama hidup. Teman sejati di masa sulit dan jenazah hanyalah keluarga dan amalan itu sendiri. Inilah yang perlu direnungkan saat memperhatikan banyaknya berita kematian yang terus bermunculan di sekitar kita, baik akibat kecelakaan, sakit, maupun sebab yang tidak diketahui.
Pesan ini juga menegaskan bahwa menunda taubat dan ibadah karena alasan masih muda adalah kesalahan persepsi. Kematian adalah kenyataan yang pasti, dan umur kita tidak ada yang tahu kapan akan berakhir. Oleh karena itu, kita harus segera memperbaiki diri dan kembali kepada ibadah agar bekal hari akhir siap. Berusaha memaksa diri untuk shalat hingga menjadi kebiasaan adalah langkah awal untuk membangun kedekatan spiritual dan mengikis rasa malas.
Menggenggam prinsip bahwa "Tak ada yang memberi manfaat selain ibadahmu" akan menguatkan niat dan tekad dalam beribadah. Kebiasaan shalat yang dimulai dengan memaksa diri tidak hanya akan melahirkan ketaatan tetapi juga rasa cinta yang tulus. Jadi, mari mulai membiasakan diri untuk shalat tepat waktu dan menjadikannya bagian vital dalam setiap aktivitas kita.
Refleksi ini bukan hanya soal kewajiban, tetapi juga soal membangun kesadaran spiritual agar setiap detik kehidupan kita bermakna dan membawa bekal menuju akhirat.