The power of DO'A IBU
Assalamualaikum Lemonandes ✨
#TentangKehidupan semenjak putri semata wayangku kuliah jauh dari orang tua nya untuk pertama kalinya #PerasaanKu ada kekawatiran tersendiri,bukan karena gak iklas atau gak Ridho Tapi cenderung ke kondisi mental Health nya 🥺
karena kami belom pernah melepasnya ,dan sekarang sudah waktunya untuk belajar mandiri.
✨ dan ternyata benar 1 tahun pertama putriku banyak mengalami perubahan karena berusaha untuk adaptasi dengan lingkungan dan karakter orang disekitarnya sehingga sampai dititik Mental Health nya kena dan diperiksa sudah ngarah ke kecemasan tinggi.
✨Disitu peran orang tua terutama ibu sangat penting untuk merangkul dan mensuport nya ..
Alhamdulillah..Doa ibu bisa sepower itu untuk kesembuhan putriku ..🥰
✨secara psikologis waktu anak bilang
" Ma..Doin ya.."
itu tandanya mereka sedang mencari dukungan dan sandaran .
Doa ibu jadi cara mereka merasa Tenang ,dan lebih berani menghadapi sesuatu padahal tanpa diminta pun ibu selalu mendoakan anak nya setiap hari
✨karena doa doa indah itu seperti napas kasih sayang yang gak pernah berhenti sepanjang masa ♥️
Menghadapi tantangan mental saat anak mulai mandiri, terutama saat jauh dari orang tua, memang tidak mudah. Pengalaman saya menunjukkan bahwa dukungan melalui doa ibu sangat berperan dalam membantu anak mengatasi stres dan kecemasan. Ketika anak bilang, "Ma... doain ya," sebenarnya mereka sedang butuh sandaran emosional yang membangun rasa aman. Selain doa, penting juga untuk tetap membangun komunikasi terbuka. Anak harus tahu bahwa meskipun jauh, orang tua selalu ada untuk mereka dan siap mendengarkan keluh kesahnya. Hal ini bisa mengurangi beban pikiran yang memicu stres. Ilustrasi beban hidup wanita yang sering kali multitasking juga berhubungan dengan peran ibu. Belajar memahami dan mengelola stres yang dirasakan anak bisa dimulai dari pengertian ibu terhadap tekanan yang dialami anak, baik akademis maupun sosial. Dengan begitu, kombinasi dukungan doa dan komunikasi bisa memperkuat kesehatan mental anak. Jangan lupa untuk mengajak anak melakukan aktivitas positif bersama secara virtual atau saat berkumpul, supaya mereka merasa mendapat penyegaran sekaligus dukungan moral. Ini semua membantu menghadapi masa transisi dengan lebih kuat dan penuh harapan.



ka, anakku cm 1 jg. dia baru kelas 7 tapi aku uda kepikiran saat dia nanti jauh dr kami. aku yakin dia bs krn walaupun semata wayang aku berusaha ajarkan dia mandiri. tapi aku sepertinya yg berat ka 😂