Bakat Bisa Datang Dari Mana Saja
Jujur, waktu saya pertama kali diundang ke SMKN 1 Jenangan Ponorogo, saya agak kaget. Ini sekolah teknik, besar sekali, konon siswanya lebih dari 2500 orang. Saya sampai mikir, “Ini kalau apel pagi, yang absen mungkin bisa satu RT.”🤭😁
Gak ada jurusan pemasaran di sana. Jadi begitu masuk kelas, ya kelihatan banget, pesertanya hampir semua laki2. Dalam hati saya bilang, “Wah, ini suasananya pasti beda.” 😏
Materi yang saya bawakan tentang struktur rencana bisnis. Isinya mulai dari deskripsi usaha, analisa pasar, strategi pemasaran, rencana keuangan, sampai tim dan operasional. Semua dirangkum dalam Business Model Canvas, biar mudah dipahami.
Awalnya saya ragu. Anak teknik belajar bisnis? Tapi setelah sesi dimulai, semua berubah. Mereka cepat tangkap dan responsif.
Apalagi contoh produk yang dibahas dekat dengan dunia mereka, seperti meja las, kursi lipat baja, chopper atau alat kerja langsung nyambung.
Diskusinya hidup. Ada yang nyeletuk, “Pak, kalau kursinya bisa dilipat, berarti bisa dikirim ke mana aja ya?” Yang lain jawab, “Tapi ongkos kirimnya gimana, Pak?” Wah, diskusi soal logistik pun muncul. Saya sampai kagum 😎
Saya lihat semangat mereka luar biasa. Walau jurusannya teknik, cara berpikir mereka sudah seperti calon pengusaha. Mereka terbiasa memecahkan masalah, tinggal diarahkan sedikit ke cara berpikir pasar.
Yang bikin saya senang, mereka gak malu bertanya. Ada yang nanya soal harga jual, bahan baku, bahkan strategi promosi. Beberapa kelompok malah sudah kepikiran bikin nama brand. Katanya, “Biar keren, Pak, sekalian latihan branding.”
Sesi pelatihan terasa cepat. Padahal materinya lumayan padat. Tapi suasananya hidup, kadang diselingi tawa, kadang serius mikir. Saya suka bagian itu.
Sebelum menutup sesi, saya bilang, “Kalian anak teknik, tapi kalian juga punya potensi bisnis yang besar. Ilmu itu bisa dipelajari, asal mau mencoba dan terbuka.”
Bakat bisa datang dari mana saja, asal diberi kesempatan. Dan semangat belajar anak-anak SMKN 1 Jenangan Ponorogo, bagi saya, adalah contoh terbaiknya.
Ahmad Madani
#TentangKehidupan #madanirei #PerasaanKu #JujurAja #PerasaanKu
SMKN 1 Jenangan Ponorogo memang merupakan sekolah teknik dengan jumlah siswa yang sangat besar, lebih dari 2500 orang. Namun, pengalaman saya mengajarkan bahwa bakat dan minat tidak selalu terkait dengan jurusan yang diambil. Bahkan anak-anak teknik bisa memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat jika diberi pengenalan yang tepat. Dalam lokakarya yang saya bawakan, saya membahas struktur rencana bisnis dengan pendekatan yang mudah dimengerti, yaitu Business Model Canvas. Hal ini membantu siswa, yang biasanya akrab dengan produk teknik seperti meja las dan kursi lipat baja, untuk melihat peluang bisnis yang nyata dari produk-produk mereka. Saya melihat siswa sangat antusias mengajukan pertanyaan, mulai dari harga jual, bahan baku sampai strategi promosi dan logistik. Ini menunjukkan bahwa mereka memang terbuka untuk belajar hal baru di luar bidang teknik, sekaligus mulai berpikir seperti calon pengusaha. Di sesi tanya jawab, suasana interaktif semakin terasa ketika saya memberikan kesempatan siswa untuk mencoba membuat nama brand sendiri, sebuah langkah awal latihan branding yang sangat penting bagi pengembangan produk mereka. Melalui pengalaman ini saya percaya bahwa SMKN 1 Jenangan Ponorogo tidak hanya mencetak lulusan yang ahli di bidang teknik, tapi juga membuka ruang bagi mereka untuk berkreasi dan mengasah kemampuan berbisnis. Semangat belajar dan keinginan mencoba adalah kunci untuk mengasah bakat yang mungkin tersembunyi di bidang yang berbeda dari disiplin utama mereka. Saya berharap sekolah-sekolah teknik lainnya bisa mengikuti jejak ini dengan mengintegrasikan pelajaran kewirausahaan yang aplikatif dan relevan dengan konteks siswa, agar potensi mereka tidak hanya terasah dalam bidang teknik saja, tapi juga dalam dunia bisnis yang menjanjikan.









