Rasanya memang melelahkan ya, ketika kita terus-terusan jadi pihak yang harus "waras" sementara perasaan sendiri babak belur. Ada titik di mana sabar bukan lagi bentuk kebaikan, tapi malah jadi pengabaian terhadap diri sendiri.
Memaklumi orang lain itu mulia, tapi kalau harganya adalah kedamaian batin kita, itu sudah terlalu mahal. Terkadang, menjaga jarak atau berani bilang "ini menyakitkan buatku" adalah bentuk sayang ke diri sendiri yang paling nyata.
Kamu sudah melakukan yang terbaik dengan bertahan sejauh ini, tapi jangan lupa kalau perasaanmu juga butuh didengar.Â
Apakah orang ini adalah seseorang yang harus kamu temui setiap hari, atau seseorang yang sebenarnya bisa kamu beri batasan lebih tegas?
#reminder #foryou #quotes #kedamaian #jagadiri #perasaan
Saya pernah mengalami situasi di mana saya selalu berusaha memaklumi kesalahan orang lain, bahkan saat itu membuat saya merasa sangat lelah dan tertekan. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa memaklumi tidak berarti harus mengabaikan diri sendiri. Saya mulai belajar untuk menetapkan batasan, terutama dengan orang-orang yang membuat saya merasa tidak nyaman secara emosional. Dengan berani mengatakan "ini menyakitkan buatku", saya bisa menjaga kedamaian batin dan kesehatan mental saya. Dari pengalaman saya, penting untuk memahami bahwa menjaga jarak bukan berarti memutuskan hubungan tetapi lebih kepada bentuk self-care yang sangat penting. Kita tidak perlu selalu menjadi pihak yang mengalah demi orang lain, apalagi sampai perasaan sendiri terluka terus-menerus. Mengenal kapan harus bertahan dan kapan waktunya untuk mengutamakan diri sendiri adalah langkah penting agar hati tetap sehat. Selain itu, saya juga belajar bahwa standar toleransi kita tidak boleh terus-menerus diturunkan hanya karena merasa harus selalu mengalah. Kebiasaan buruk orang lain tidak pantas dibenarkan dengan terus-menerus memberi ruang tanpa batas. Melalui pengalaman ini, saya merasa lebih kuat untuk memprioritaskan perasaan sendiri tanpa merasa bersalah, karena menjaga diri bukanlah bentuk egoisme, melainkan wujud menghargai diri. Kini, saya lebih selektif dalam menentukan siapa yang layak saya beri energi setiap hari. Menjaga jarak bukan hanya soal fisik, tapi juga menjaga kesehatan mental agar tetap waras dan damai dalam menjalani hidup. Saya merekomendasikan agar setiap orang tidak ragu untuk mendengarkan hati, menetapkan batasan, dan berani berkata jujur tentang apa yang dirasakan. Percayalah, hati yang sehat tahu kapan harus memberi dan kapan harus menjaga jarak agar kebahagiaan tetap terjaga.