2/9 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMengalami langsung acara ruwahan seperti ini sungguh memberikan kesan mendalam tentang pentingnya kebersamaan dalam komunitas kecil di lingkungan RT. Biasanya, ruwahan memang pakai peran utama bapak-bapak, tapi di sini justru emak-emak juga ikut serta sigap turun gunung, menciptakan suasana yang lebih hidup dan hangat. Saya teringat betapa indahnya ketika semua warga berkumpul di lapangan, bukan hanya untuk berdoa bersama, tapi juga berbagi tawa dan santap bersama. Ada tradisi unik seperti pembagian isian pilus cikur, bolu kukus, teh hangat, dan minuman khas bir pletok yang sehat, semuanya disajikan dengan penuh perhatian. Mengemas makanan supaya mudah dibawa pulang juga menambah nilai kebersamaan karena semua gotong royong menjaga kelancaran acara. Yang paling mengharukan adalah momen santunan anak yatim yang dilakukan secara sederhana tapi penuh makna. Hati terasa meleleh melihat senyum anak-anak yang menerima, membuat kita semakin bersyukur dan tergerak untuk terus melestarikan tradisi ini. Tidak kalah istimewa adalah halal bihalal keliling yang menyambung silahturahmi dan membersihkan hati menjelang Ramadan. Menurut pengalaman saya, kegiatan seperti ini sangat penting untuk terus dipertahankan di kampung-kampung kita. Selain sebagai ajang mempererat silaturahmi antarwarga, juga memberi contoh kepedulian sosial yang nyata. Peran emak-emak yang kompak dalam acara ini membuktikan bahwa kolaborasi antarwarga tanpa sekat gender dan usia mampu menghasilkan suasana penuh berkat dan kehangatan. Semoga tradisi ruwahan seperti ini tidak pernah hilang dan terus menjadi perekat kampung yang damai dan rukun.