selflove
Selflove bukan sekadar sebuah kata yang sedang tren, tapi merupakan fondasi penting dalam menjaga kesejahteraan pribadi. Dari pengalaman saya sendiri, mencintai diri berarti menerima setiap sisi yang ada—baik itu kelebihan maupun kekurangan. Perasaan berisik yang muncul saat kita merasa tidak dipahami atau terluka, seperti pada kutipan "Kalo aku berisik, berarti kamu masih segalanya", sebenarnya menjadi sinyal bahwa kita masih terhubung dengan perasaan dan kebutuhan kita. Namun, selflove juga mengajarkan kita untuk bisa tenang, meredam gejolak emosi yang berlebihan, karena jika kita tidak peka dengan keadaan ini, bisa saja kita kehilangan momen-momen penting dalam menjalani hidup. Kutipan "dan kalo aku tenang. berarti kamu kehilangan aku selamanya." memberi pelajaran bahwa ketenangan yang tercapai lewat selflove bukanlah sebuah pasifitas, tetapi sebuah kekuatan yang menunjukkan kita telah menemukan kedamaian dalam diri. Menumbuhkan selflove perlu proses dan latihan sehari-hari. Misalnya dengan membuat jurnal syukur, mengelilingi diri dengan orang yang mendukung, dan memberi waktu untuk refleksi diri. Melalui cara ini, kita dapat mengurangi suara berisik dalam kepala yang sering kali mengganggu ketenangan dan kelangsungan hidup emosional. Lebih jauh lagi, selflove membantu kita menetapkan batasan sehat dalam hubungan pribadi dan sosial. Kita jadi lebih mudah mengatakan ‘tidak’ saat merasa tidak nyaman, dan lebih mampu menghargai waktu serta energi yang kita miliki. Pengalaman saya menunjukkan bahwa semakin kita mencintai diri, semakin kita menghargai hidup dan siap menghadapi tantangan dengan lebih kuat. Singkatnya, selflove bukan hanya cara untuk merasa lebih baik tentang diri sendiri, tapi sebuah perjalanan penting untuk kedamaian batin dan kebahagiaan jangka panjang. Jangan ragu untuk memulai cinta pada diri sendiri hari ini, berikan perhatian pada suara berisik dalam hati sebagai tanda bahwa kita masih berjalan di jalan menuju pemahaman dan penerimaan diri.








