Dari bangkrut jualan kopi, sampai bisa bantu beasiswa pelanggan mahasiswa nya 🎓🍗
Siapa sangka, tiga sahabat Pak Hasan, Pak Arofik, dan Pak Burhan yang dulu bangkrut jualan kopi,
sekarang bisa punya 60+ cabang resto dan 500+ karyawan lewat brand bernama Hara Chicken.
Namanya bukan asal “Hara” berarti Harapan Rakyat. 🌾
Mereka pernah buang 30 kg ayam cuma karena dirasa gak layak jual.
Katanya, “lebih baik rugi daripada nurunin standar.”
Dari situ aku ngerti kenapa Hara Chicken bisa sebesar sekarang.
Yang bikin makin terharu, Hara Chicken gak cuma mikirin untung.
Mereka selalu kasih sayur sop gratis serta nasi, dan es teh Refill ambil sepuasnya.
Bahkan banyak cabangnya yang parkir pun gratis.
sekarang, mereka malah buka program beasiswa total 10 juta rupiah
buat mahasiswa yang pengin terus berjuang dengan modal 10 ribuan aja.
Yang mau tau cara dapetin beasiswanya,
Like,Follow dan komen “Tag 1 orang + Beasiswa”, nanti aku DM caranya.
Contoh Komen : @gtna beasiswa
Jujur, awalnya aku cuma tahu Hara Chicken sebagai tempat makan ayam crispy murah meriah yang bikin puasnya! banget. Tapi setelah cari tahu tentang pemilik Hara Chicken, ternyata cerita di balik brand ini jauh lebih dalam dari sekadar jualan ayam goreng. Banyak yang penasaran, siapa sih owner Hara Chicken? Di balik nama besar Hara Chicken, ada tiga sahabat: Pak Hasan, Pak Arofik, dan Pak Burhan. Mereka bukan pengusaha yang langsung sukses dari awal. Justru dulu sempat jatuh sampai bangkrut waktu jualan kopi. Bayangin, dari gerobakan kecil jualan ayam crispy, pelan-pelan mereka bangun ulang usaha, sampai sekarang bisa punya lebih dari 60 cabang resto dan 500+ karyawan. Buat aku, angka itu kerasa banget perjuangannya, apalagi di F&B yang saingannya gila-gilaan. Hal yang bikin aku salut sama pemilik Hara Chicken adalah cara mereka jaga standar. Mereka pernah cerita, 30 kg ayam pernah dibuang karena merasa kualitasnya gak layak jual. Bukan karena basi, tapi karena standar mereka tinggi. Kalimat yang paling keinget di kepala aku: "lebih baik rugi daripada nurunin standar". Dari situ aku paham kenapa banyak orang balik lagi makan ayam Hara. Rasa itu penting, tapi konsistensi dan kejujuran soal kualitas, itu yang bikin pelanggan percaya. Sebagai pelanggan, aku ngerasain bedanya. Porsi ayam crispy-nya termasuk besar untuk harga segitu, terus ada sayur sop gratis, nasi yang cukup ngenyangin, dan es teh refill ambil sepuasnya. Beberapa cabang bahkan parkirnya gratis. Buat mahasiswa atau pekerja yang lagi irit, konsep kayak gini kerasa banget manfaatnya. Bukan cuma branding "murah", tapi beneran memikirkan harapan rakyat, sesuai namanya: Hara = Harapan Rakyat. Yang paling bikin aku terharu justru program beasiswa dari Hara Chicken buat pelanggannya yang mahasiswa. Jadi bukan cuma owner Hara Chicken cari untung, tapi juga nyisihin rezeki buat bantu anak-anak kuliah yang lagi berjuang. Total beasiswanya sampai 10 juta rupiah, dan syarat ikutnya pun terjangkau, cukup modal belanja sekitar 10 ribuan aja udah bisa sekalian dukung program ini. Menurutku, langkah kayak gini bikin Hara Chicken beda dari kebanyakan brand ayam lainnya. Kalau kamu lagi cari info tentang pemilik Hara Chicken atau penasaran siapa owner di balik ayam hara yang sering lewat di FYP atau depan kampus, semoga ceritaku ini bisa bantu ngasih gambaran. Buat aku pribadi, setelah tahu kisah dan nilai yang dipegang, rasanya tiap kali makan di sana jadi lebih "hangat". Rasanya kayak ikut dukung usaha orang yang pernah jatuh, bangkit lagi, dan sekarang bantu orang lain lewat beasiswa dan lapangan kerja. Kalau kamu punya pengalaman makan di Hara Chicken atau pernah daftar beasiswanya, boleh banget share juga. Seru rasanya kalau brand lokal kayak gini makin dikenal bukan cuma karena ayam crispy-nya enak, tapi juga karena pemilik dan perjalanannya yang inspiratif.
