Hasil sidak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menemukan bahwa air Aqua berasal dari sumur bor mendapat respons cepat dari badan perlindungan konsumen. Pasalnya, selama ini jenama Aqua mengklaim isinya berasal dari air pegunungan, bukan dari sumur bor.
Oleh karena itu, Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN RI) segera memanggil manajemen dan Direktur Utama PT Tirta Investama selaku produsen air minum kemasan merek Aqua terkait dugaan sumber air produksi dari sumur bor atau air tanah bukan air pegunungan.
“Kami akan memanggil pihak manajemen dan Direktur PT Tirta Investama untuk meminta klarifikasi resmi terkait sumber air yang digunakan dalam produksi Aqua. BPKN juga akan mengirim tim investigasi langsung ke lokasi pabrik guna memverifikasi kebenaran informasi tersebut,” ujar Ketua BPKN RI Mufti Mubarok dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Rencana pemanggilan tersebut dilakukan setelah muncul dugaan bahwa sumber air produksi berasal dari sumur bor atau air tanah, bukan dari mata air pegunungan sebagaimana diklaim dalam iklan produk mereka selama ini.
Mufti menegaskan bahwa lembaganya telah menerima berbagai laporan dan pemberitaan publik mengenai hal tersebut dan akan mengambil langkah tegas untuk memastikan hak konsumen atas informasi yang benar, jelas, dan jujur sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
... Baca selengkapnyaJujur, waktu pertama dengar soal dugaan air Aqua berasal dari sumur bor, aku langsung kepikiran: kalau benar dari sumur bor, seberapa aman sih? Terus, kalau kita sebagai konsumen sudah bayar lebih mahal karena mengira itu air pegunungan, rasanya gimana?
Buat yang lagi cari info soal sumur bor dan harga, konteks ini juga penting. Banyak orang mulai mempertimbangkan bikin sumur bor sendiri di rumah karena isu kepercayaan ke air galon dan air kemasan. Tapi sebelum terjebak iklan atau promosi, ada beberapa hal yang menurutku wajib dipikirkan.
Pertama, sumur bor itu tidak otomatis sama dengan "air buruk". Kualitas air sumur bor sangat bergantung pada kedalaman pengeboran, kondisi tanah, dan sistem filtrasi. Di rumah orang tuaku pernah bikin sumur bor, biayanya waktu itu sekitar beberapa juta rupiah (beda kota bisa beda harga), tapi setelah itu kami tetap tes kualitas air di lab kecil di kota untuk cek bakteri, kadar besi, dan bau. Ternyata aman, meski tetap kami saring lagi pakai filter rumahan.
Kedua, soal harga sumur bor. Dari pengalamanku tanya-tanya ke tukang bor, biasanya harga dihitung per meter kedalaman dan tipe tanah. Misalnya ada yang pasang tarif sekian ratus ribu rupiah per meter, plus biaya pipa, mesin pompa, dan instalasi listrik. Jadi kalau di iklan atau penawaran cuma dibilang "paket murah", aku sarankan jangan langsung percaya. Tanyakan rinci: total estimasi biaya sampai air benar-benar bisa digunakan, termasuk kalau harus bor ulang karena airnya keruh.
Ketiga, standar kualitas. Kasus dugaan Aqua pakai sumur bor ini justru bikin aku makin sadar pentingnya standar. Bagi perusahaan besar seperti PT Tirta Investama, meskipun sumber airnya sumur bor, seharusnya ada proses pengolahan, uji lab berkala, dan izin resmi. Dan yang paling penting: informasi tersebut seharusnya tertulis jelas di label produk, bukan cuma dikomunikasikan lewat iklan yang indah-indah.
Di level rumah tangga, kita juga bisa meniru prinsip itu. Kalau pakai sumur bor sendiri, jangan hanya mengandalkan mata dan hidung. Kalau air agak kuning, berbau, atau meninggalkan noda di peralatan, itu sinyal buat cek lebih lanjut. Kalau perlu, tes di lab setempat. Biayanya biasanya masih lebih murah dibanding risiko kesehatan jangka panjang.
Dari sisi konsumen, aku merasa BPKN RI turun tangan dalam kasus ini itu penting banget. Kita berhak tahu sumber air minum yang kita konsumsi setiap hari, apakah benar dari mata air pegunungan atau dari air tanah/sumur bor yang diolah. Hak atas informasi yang jujur ini diatur di UU Perlindungan Konsumen, jadi bukan sekadar keluhan di media sosial.
Kalau kamu lagi galau antara tetap pakai air galon merek terkenal atau berinvestasi di sumur bor sendiri, menurutku pertimbangannya bukan hanya harga sumur bor, tapi juga transparansi informasi dan kontrol kualitas. Dengan sumur bor sendiri, kita punya kontrol lebih besar tapi juga tanggung jawab lebih besar untuk rutin cek kualitas air. Sementara dengan air kemasan, kita mengandalkan kejujuran klaim perusahaan dan pengawasan lembaga seperti BPKN.
Intinya, kasus dugaan air Aqua dari sumur bor ini jadi pengingat buat kita supaya lebih kritis: baca label, cari tahu sumber air, bandingkan harga dengan kualitas, dan jangan ragu menyuarakan keberatan kalau merasa klaim produk tidak sesuai kenyataan.