Related bangettt sama anak aku ‼️
Sebagai orang tua, pengalaman saya menghadapi anak yang hipersensitif terhadap sentuhan benar-benar membuka mata saya. Dulu saya sering menganggap anak rewel atau sengaja menolak dipotong kuku atau disiram keramas. Namun, setelah saya memahami bahwa ini adalah reaksi dari sistem sensorinya yang belum matang, saya mulai mengubah pendekatan saya. Sangat penting untuk tidak memaksa anak dalam situasi ini karena justru bisa membuat mereka semakin defensif dan tidak nyaman. Saya mulai melakukan stimulasi secara bertahap dan penuh kesabaran, misalnya dengan membiasakan anak memegang alat potong kuku sambil bermain dulu, atau menggunakan media seperti sikat yang lembut saat keramas. Selain itu, saya juga memperhatikan bahan pakaian dan lingkungan sekitar yang mungkin memicu ketidaknyamanan si kecil, seperti label baju atau sentuhan kain tertentu. Menghilangkan sumber ketidaknyamanan ini sedikit banyak membantu anak menjadi lebih tenang. Lewat pengalaman saya, saya menyadari pentingnya pemenuhan kebutuhan sensorik anak agar mereka tidak merasa kewalahan. Setelah stimulasi yang konsisten, saya melihat perubahan positif: anak lebih mudah diajak keramas, potong kuku jadi lebih santai, dan tantrum mulai berkurang. Ini juga membantu kemampuan regulasi emosi dan fokus mereka berkembang dengan baik. Jadi, kalau kamu mengalami hal serupa, cobalah sabar dan pelajari lebih dalam tentang hipersensitivitas taktil pada anak. Mendapatkan dukungan dari terapis atau psikolog anak juga sangat membantu agar stimulasi bisa dilakukan dengan tepat. Mari kita terus belajar dan berbagi pengalaman agar anak-anak kita tumbuh sehat dan bahagia dengan memahami kebutuhan unik mereka.









