Abuse itu gak selalu kasar atau teriak.

Kadang bentuknya dibikin ragu sama perasaan sendiri.

Kalau kamu harus mengecilkan diri biar relasi tetap damai,

kalau kamu lebih sering koreksi diri daripada merasa didengar—

itu bukan dewasa, itu tanda ada yang gak sehat.

Capek yang kamu rasain itu valid.

Dan kalau kamu mulai ngecek ulang relasi di hidupmu,

itu bukan lebay.

Itu self-awareness.

#brokenstrings #brokenstringsaurelie #brokenstringsaureliemoeremans #narsis #narsisistik

1/14 Diedit ke

... Baca selengkapnyaAbuse atau kekerasan dalam hubungan sering kali dipahami hanya sebagai tindakan fisik yang kasar atau teriakan yang keras. Namun, pengalaman pribadi yang dibagikan dalam artikel ini membuka mata saya bahwa abuse bisa sangat halus dan sulit dikenali, terutama ketika ia berbentuk manipulasi emosional yang membuat kita meragukan perasaan sendiri. Saya pernah berada di situasi di mana saya merasa harus mengecilkan diri agar hubungan tetap damai. Seringkali saya mengoreksi diri sendiri dan merasa suara saya tidak didengar. Pada akhirnya, ini bukan tanda kedewasaan, melainkan sinyal hubungan yang tidak sehat dan abuse dalam bentuk gaslighting atau penyerangan psikologis. Capek yang saya rasakan itu benar-benar valid. Sering kali, ketika kita mulai mengevaluasi kembali hubungan yang ada, kita merasa seperti sedang berlebihan atau 'lebay'. Padahal, itu merupakan sebuah self-awareness yang penting untuk melindungi kesehatan mental dan emosional kita. Salah satu hal yang perlu dipahami adalah abuse tidak harus manifestasi melalui kekerasan fisik. Abuse bisa berupa gestur atau kata-kata yang membuat kita merasa terkikis kepercayaan pada diri sendiri. Dalam kasus saya, saya merasa kehilangan kepercayaan pada perasaan dan intuisi saya akibat terus-menerus 'dikecilkan' dan diabaikan oleh orang terdekat. Mengenali tanda-tanda abuse seperti ini sangat penting agar kita dapat mengambil langkah untuk melindungi diri dan mencari bantuan jika diperlukan. Abuse bisa terjadi dalam berbagai hubungan, bukan hanya pasangan, tetapi juga keluarga, teman, atasan, atau siapa saja yang berpotensi mendominasi dan merusak mental kita. Jika kamu merasakan hal serupa—selalu merasa salah, merasa harus menahan diri demi orang lain, atau sering meragukan perasaan sendiri—ingatlah bahwa itu bukan kesalahanmu. Validasi perasaanmu dan jangan ragu untuk mencari dukungan atau berbagi cerita dengan orang yang dipercaya. Pengalaman ini membuka perspektif saya bahwa self-awareness adalah langkah awal untuk mengenali dan memutus pola abuse tersembunyi. Dengan menyadari tanda-tanda ini, kita bisa mulai mengambil kendali atas hidup kita dan menuju hubungan yang sehat.