Seandainya Pindah Warga Negara, Kalian mau kemana
Dear Lemonade 🍋
Sejujurnya, Keadaan saat ini ditambah dari Hari sebelumnya, keadaan di Konoha ini bikin makin Migren ku kambuh lagi🤢
Terlintas lah di Fikiranku, Seru Kali ya Pindah Negara🤔 Udah Mumet banget di sini🥹😌 #Seandainya Pindah Negara aku kayanya Milih Perth Australia, Karena aku pernah kesana 4 hari 3 Malam, udah cukup lama waktu itu tahun 2014..di Bulan September awal lagi Musim Semi jadi udara Masih sedikit cukup dingin pada waktu itu..
Negara yang gak terlalu Jauh juga dari Indonesia, hanya kurleb 7 Jam lebih waktu penerbangan.
Ketika Berada di Perth Aussy tuh, nyaaamaan banget bawaanya, Langit yang berwarna Biru seperti Lukisan, udara yang sangat Sejuk serta bersih..Karena minim polusi.
Kendaraan Pribadi pun sangat sedikit, Karena penduduk disana lebih senang berjalan kaki, baik ke kantor, sekolah maupun ke pusat perbelanjaan.
Jangan bayangin Jalan kaki seperti di area Jalan di sini ya Karena jauh banget perbedaanya🤭
oh iya, Bule bule di Perth itu Ramah ramah ketika sedang berjalan kaki mereka saling bertegur sapa lho dengan orang gak dikenal pun 🤩 ( Seperti Pagi hari sedang berjalan kaki, pasti ada yang menyapa ku dengan sebutan Morning sambil Tersenyum )
Di Perth Aussy itu area Trotoar nya luas luas, Rapih, tekstur bentuk Jalannya juga Unik, bersih sehingga nyaman banget ketika berjalan kaki jauh pun gak bakalan cape. cocok buat aku yang hobi Jalan kaki betah banget disana🤭🤩.
Dan tata kota nya tertata rapi banget,.jadi Jarak Dari Rumah, apartemen ke pusat perkantoran atau pusat perbelanjaan itu terasa dekat dengan berjalan kaki, kalau misal janjian ngafe dengan temen Jalan kaki pun cukup🤭
Yang menggunakan sepeda pun cukup banyak, namun aku gak lihat motor sama sekali..untuk transum yang ku lihat hanya bus, busnya juga nyaman.
di Perth terdapat ,Bus CAT (Central Area Transit) beroperasi gratis di pusat kota (CBD).
Perth itu terdapat River yang cukup luas, jadi banyak spot buat bengong atau healing sambil duduk di kursi kursi yang disediakan di Taman sekitar. Area Tamannya pun bersih Dan Rapih Dan sangat terjaga.
Ketika aku di Perth, ternyata banyak banget ketemu Orang Indonesia yang bekerja atau kuliah disana lho.
( ternyata kabur aja dulu udah pada duluan guys mereka 🤭 )
Begitu aku mau pulang kembali rasanya waktu itu berat banget, Karena SE betah itu rasanya gak mau pulang🤭 Jadi nostalgia lagi deh ketika aku upload foto fotoku ini 🥰
Oh iya, perjalanan ke Perth ini dulu, edisi Reward Dari kantorku waktu itu bersama teman teman kantorku berangkatnya.
Dan Perth Menjadikan Perjalananku ke Luar negeri untuk pertama Kali nya waktu itu 🥰
Tahun 2014 aku belum berhijab jadi aku close sebagian ya🤭
Nah,.kalau kalian seandainya Pindah Warga Negara mau pilih ke Negara Mana nih 🤩 share yuks..
Sejak pulang dari Perth, aku tuh sering banget kepikiran, kalau beneran pindah kewarganegaraan ke Australia itu rasanya gimana ya? Bukan cuma soal udaranya yang bersih dan sejuk, tapi juga soal realitanya sebagai orang Indonesia yang mau hidup dan mungkin jadi warga negara sana. Dulu pas pertama kali ke Perth sebagai reward kantor, aku bener-bener jatuh cinta sama kotanya. Kings Park yang super luas dan rapi, Swan River yang tenang, sampai Pinnacles Desert yang berasa lagi di planet lain, semuanya bikin aku mikir, "Kok bisa ya negara orang seluas dan sebersih ini, taman-tamannya terawat, trotoarnya manusiawi banget buat pejalan kaki?" Apalagi pas musim semi, jalan malam di trotoar yang lebar dan rapi itu berasa healing jalan kaki beneran, bukan sekadar pindah dari titik A ke B. Tapi kalau ngomongin pindah kewarganegaraan Australia, pasti nggak semudah itu juga. Dari ngobrol sama beberapa orang Indonesia yang aku temui di Perth, kebanyakan awalnya datang pakai visa pelajar atau kerja. Banyak yang mulai dari kuliah dulu, habis itu cari kerja, baru pelan-pelan mikirin soal permanent resident (PR) dan kemungkinan jadi citizen. Jadi nggak ada yang instan: ada proses adaptasi budaya, bahasa Inggris sehari-hari, sampai kangen makanan Indonesia yang rasanya beda banget. Yang aku perhatiin, hidup di Perth itu lebih banyak jalan kaki dan naik transportasi umum. Motor nyaris nggak ada, mobil pun nggak seramai di sini. Trotoar luas, bersih, dan aman banget buat pejalan kaki, terutama buat perempuan. Malam hari pun masih enak jalan-jalan karena lampu jalannya terang dan suasananya nggak terlalu chaos. Buat aku yang hobi jalan kaki, ini nilai plus besar. Terus, soal suasana sosialnya, bule-bule di Perth itu ramah. Mereka suka nyapa duluan, sekadar bilang "Morning" sambil senyum. Hal-hal kecil kayak gitu yang bikin aku ngerasa dihargai sebagai manusia, meskipun cuma turis. Kebayang kalau tinggal lebih lama, mungkin mental health juga jauh lebih keurus karena nggak terlalu kebisingan sama drama jalanan dan polusi. Kalau beneran mau pindah kewarganegaraan Australia, menurutku sih perlu mikirin hal-hal ini: apa siap jauh dari keluarga, apa siap kerja dari nol di sistem yang beda, dan apa siap lewat proses panjang mulai dari visa, PR, sampai citizen yang bisa makan waktu bertahun-tahun. Tapi melihat pengalaman singkatku di Perth—dari Kings Park yang katanya salah satu taman botani terbesar dan terindah di dunia dengan ribuan flora unik, sampai santainya suasana kota di pinggir Swan River—aku paham banget kenapa banyak orang Indonesia betah dan pengin menetap. Untuk sekarang, aku masih di tahap "seandainya" dan nostalgia tiap lihat foto-foto di Perth. Tapi siapa tahu suatu hari nanti, bukan cuma sekadar jalan-jalan, tapi beneran bisa ngerasain hidup lebih lama di sana. Kalau kamu juga kepikiran pindah kewarganegaraan ke Australia, terutama ke Perth, mungkin bisa mulai dari liburan dulu, rasain vibe kotanya, baru pelan-pelan cari info soal studi atau kerja di sana.






kayaknya enak kalau ke Swiss😂