5/22 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita dihadapkan dengan berbagai komentar atau pernyataan yang tampaknya meremehkan perasaan dan pikiran kita, seperti 'Katanya, gak usah didengerin' atau 'gak usah bawa perasaan'. Namun, dari pengalaman pribadi, saya belajar bahwa memiliki telinga untuk mendengar, otak untuk berpikir, dan hati untuk merasakan adalah anugerah yang tidak boleh diabaikan. Kadang kala, saat kita merasa tidak didengar atau tidak dipahami, memilih untuk tidak menjadi manusia—dalam arti mengabaikan emosi dan rasionalitas—terasa menjadi jalan keluarnya. Tapi sejatinya, menjadi manusia yang utuh berarti menerima dan menyelaraskan ketiga aspek tersebut, bukan menolaknya. Saya pernah mengalami masa di mana perasaan saya dikesampingkan oleh lingkungan sekitar. Pada saat itu, saya mencoba untuk tidak peduli dan melanjutkan hidup seperti biasa. Namun, lama-kelamaan, saya menyadari bahwa menekan perasaan justru membuat saya kehilangan keseimbangan emosional dan membuat saya sulit berpikir jernih. Setelah itu, saya mulai belajar untuk mendengarkan diri sendiri dan memberi ruang bagi semua pikiran dan perasaan tersebut agar bisa saling membantu dalam menghadapi masalah. Bagi siapa pun yang sedang berjuang menghadapi situasi serupa, penting untuk mengingat bahwa tidak ada yang salah dengan berperasaan atau menggunakan otak. Kedua hal ini saling melengkapi dalam membentuk keputusan yang bijaksana. Jangan ragu untuk mengakui apa yang Anda rasakan dan pikirkan, karena itu bagian dari menjadi manusia sejati. Semoga refleksi ini memberi semangat dan pemahaman bagi pembaca dalam menjalani hari-hari dengan lebih penuh kesadaran dan penerimaan terhadap diri sendiri.