... Baca selengkapnyaKadang aku suka bengong sendiri dan nanya ke diri sendiri: kenapa sih aku bisa secinta itu sama suami? Jawabannya ternyata bukan cuma soal romantis-romantisan, tapi hal-hal kecil yang dia lakuin setiap hari yang bikin aku ngerasa dihargai.
Suami aku tipe pekerja keras, sampai kelihatan banget di tangannya. Tangan yang kapalan, kadang ada luka kecil, kulitnya nggak halus. Dulu aku sempat mikir, "Kok kasar banget ya?" Tapi lama-lama aku sadar, justru dari tangan itulah semua kebutuhan rumah tangga dipenuhi. Dari situ aku mulai belajar buat lebih menghargai jerih payahnya.
Setiap kali dia pulang kerja, aku bisa lihat rasa capek di wajah dan tangannya yang lelah. Tapi yang bikin aku makin sayang, dia nggak pernah pelit soal rezeki. Gajinya bukan yang besar banget, tapi dia selalu berusaha berbagi: buat kebutuhan rumah, buat aku, bahkan buat keluarga besarnya kalau ada yang lagi kesusahan. Rasanya hangat banget kalau ada suami yang nggak cuma mikirin diri sendiri.
Jujur, hubungan kami bukan tanpa masalah. Kadang ada perdebatan soal uang, soal waktu, soal capek masing-masing. Ada momen aku ngerasa nggak dipahami, dan dia juga mungkin ngerasa aku terlalu banyak maunya. Tapi setelah marah reda, kami selalu cari cara buat ngobrol baik-baik. Dari situ aku sadar, cinta itu bukan berarti nggak pernah berantem, tapi bagaimana kita berdua mau sama-sama belajar.
Hal lain yang bikin aku secinta itu adalah sikapnya yang nggak gengsi bantu di rumah. Walaupun tangannya terbiasa pegang alat kerja, dia nggak masalah bantu angkat galon, betulin barang, atau kadang nyapu kalau lihat aku kecapekan. Keliatan sepele, tapi hal-hal kayak gini bikin aku ngerasa ditemani dan nggak sendirian.
Aku juga belajar buat nggak cuma lihat sisi romantis dari suami, tapi lihat tanggung jawabnya. Misalnya, meski kadang kami debat, dia tetap pastikan kebutuhan pokok rumah aman dulu sebelum mikir hal lain. Dia juga suka cerita soal capeknya kerja, dan dari situ aku jadi bisa lebih peka, bukan cuma nuntut perhatian.
Kalau kamu lagi ngerasa bingung kenapa bisa secinta itu sama suami, coba lihat lagi hal-hal kecil yang dia lakukan. Mungkin dia bukan tipe yang pandai ngomong manis, tapi tangannya yang pekerja keras, cara dia jaga keluarga, dan keputusannya buat selalu berbagi rezeki itu bentuk cinta yang beda cara.
Buat aku pribadi, tangan suami yang pekerja keras justru jadi simbol perjuangan. Setiap kali aku pegang tangannya, aku ngerasa: "Ini tangan yang tiap hari berjuang bareng aku." Dari situ, rasa cinta pelan-pelan tumbuh bukan cuma dari kata-kata, tapi dari rasa saling menghargai dan saling dukung di tengah segala capek dan perdebatan yang kami hadapi bareng-bareng.