Prolog: Novel Rumah Tanpa Parasit
Rumah mewah itu selalu memiliki cara untuk menyimpan rahasia, tersembunyi di balik dinding-dinding marmernya yang dingin dan tak bersuara. Selama satu dekade penuh, wangi melati dari parfum mewah Rania berhasil menyamarkan bau busuk pengkhianatan yang mengendap di setiap sudut ruangan. Namun, malam ini, wangi itu tunduk kalah oleh aroma lembab tali tambang nilon yang masih baru.
Di dalam gudang kecil yang kini berubah fungsi menjadi ruang interogasi kedap suara, cahaya tajam lampu LED warm white membentuk bayangan panjang yang terkesan menyeramkan di atas lantai vinyl bermotif kayu. Di tengah ruangan itu, Rania wanita yang biasa memerintah dengan sorot mata angkuh dan gerak-gerik elegan kini tampak seperti bayang-bayang dirinya yang dulu.
Tubuhnya tenggelam dalam kursi eksekutif kulit hitam yang seharusnya memancarkan kewibawaan, tetapi kini hanya menjadi simbol ironi yang menyakitkan. Tali tambang tebal melilit tubuhnya dengan simpul sempurna yang nyaris mustahil terlepas.
Lilitan itu mencekik dada, mengunci pinggang, hingga melingkari kaki Rania dengan kejam, menyatukan semuanya dengan kaki kursi. Pergelangan tangannya terikat rapat pada sandaran lengan kursi tersebut, menghilangkan segala kendali dari jari-jarinya yang dulu begitu terampil dan memikat.
"Mas Razi! Arfan! Lepaskan aku!" Suara nyaring Rania menggema tak berarti, terserap habis oleh lapisan dinding kedap suara yang membatasi dunia luar. Tidak ada yang akan mendengar seruannya tidak pembantu rumah tangga, tidak pula tetangga-tetangga sebelah.
Arfan berdiri kokoh di hadapannya, tubuhnya terpancang seperti tiang pancang yang sulit digoyahkan. Remaja berusia enam belas tahun itu terlihat begitu tenang, hampir menyerupai sosok malaikat dalam balutan baju koko putih yang sempurna melekat pada tubuhnya. Di jemarinya tergenggam erat sebuah tasbih digital yang terus berbunyi seiring bibirnya bergerak perlahan, tidak pernah henti melafalkan dzikir dengan khusyu'.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak momen yang disebutkan oleh Arfan suara lembutnya mengalir bak alunan balada yang berlawanan tajam dengan teriakan histeris Rania di depannya. Arfan membiarkan kata-katanya menggantung di udara dengan dingin, membekukan setiap sudut ruangan. Mama masuk ke rumah ini sambil membawa senyum terindah, katanya, senyum termanis yang pernah Papa lihat kala itu.
Tetapi di balik kelembutan itu, lanjutnya tanpa ragu, Mama adalah topeng sempurna dari kasih tipu daya. Mama memberikan perhatian penuh kepura-puraan kepada kami; tangan yang menyuapi hanyalah fasad, sementara di bawah meja kaki itu menendang Arfin hingga memar biru menghiasi kulitnya. Suara Arfan semakin tajam ketika Arfan mengatakan bahwa meski saat itu Mama menyebut kami anak-anaknya, isi percakapan di telepon mengubah definisi itu menjadi kedok menuju harta Hadwan.
Di samping Arfan, berdiri seorang remaja lelaki lain yang identik dan memancarkan aura yang serba hening. Itu adalah Arfin, saudara kembar yang selama ini dipandang hanya sebagai bayangan diam tak ubahnya patung hidup yang dikekang oleh kehampaan emosional. Tidak ada tasbih di tangannya, tidak pula kemarahan menyelimuti wajah polosnya. Namun tatapannya, tatapan kosong yang ia arahkan lurus pada Rania, menimbulkan sensasi lebih memukul daripada seribu tamparan keras sekalipun.
Mata itu berbicara tentang luka terdalamnya, mengingatkan Rania pada dosa-dosa silam. Kenangan yang terbingkai jelas tentang suatu sore gelap ketika Arfin kecil dikunci di sebuah gudang tua yang lembap dan gelap oleh tangan Mama Tirinya sendiri, dibiarkan menjerit sendirian hingga tangisnya redup ditelan keheningan.
Air mata membanjiri wajah Rania hingga bercampur dengan sisa riasan tebal yang melebur, kepolosan palsu yang retak di setiap katasenggukannya. Rania memelas tanpa daya; Arfin... Mama minta maaf... Semua hanya khilaf belaka...
Namun permohonan maaf itu seakan melewati telinga Arfin tanpa makna. Arfin tidak membalas rungutan tersebut. Yang dilakukan Arfin hanyalah maju perlahan tanpa sepatah kata pun, jemari dinginnya merambat tenang ke layar monitor besar 75 inci di hadapan mereka semua. Dengan suatu ketukan pelan di permukaan layar, ia menghidupkannya hingga seluruh ruangan terselimuti semburat cahaya tajam dari monitor tersebut. Di layar itu hadir sebuah rekaman CCTV dari ruang tamu rumah Afnan.
Gambarnya terlalu hidup untuk disebut sebagai kenangan masa lalu. Terlihat Raihan putra bungsu kesayangan Rania yang baru saja menginjak usia tujuh tahun tertawa dengan ceria, seolah dunia ini hanya miliknya seorang. Dalam bingkai kamera itu, bocah tersebut tengah belajar trik-trik sulap sederhana dari tangan cekatan Afnan sambil sesekali mencuri pandang ke arah kamera, tersenyum lebar seakan ingin menyapa kedua kakak laki-lakinya.
Raihan aman bersama Om Afnan di tempat ini, Ma. Bukannya menyesakkan suasana, kali ini suara Arfan justru melembut sedikit dibanding sebelumnya; nadanya bergeser menjadi getir, namun tetap tak menyisakan celah bagi pembelaan diri dari lawan bicaranya. Dia tidak perlu tahu siapa sebenarnya Mamanya wanita yang tega menjadikan hampir segalanya sebagai alat tawar-menawar material semata demi angka-angka kosong yang menghiasi tabungan banknya. Dia berhak untuk tetap menjalani hidup dengan pikiran polos seorang anak kecil, percaya bahwa Mama hanya sedang pergi jauh untuk liburan panjang mencari nafkah demi keluarga kecil ini.
Rasa ironi merayap naik dalam setiap kata terakhir dari pernyataan itu, meninggalkan Rania terperangkap dalam lautan penyesalan yang tak terucapkan.
Rania terisak, tubuhnya menggigil hebat hingga tali tambang yang membalut dadanya berderit keras. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Kalian iblis… kalian anak-anak setan!" ucapnya dengan suara gemetar.Â
Arfan hanya menanggapi dengan senyum tipis, datar, tanpa kehangatan yang mencapai sorot matanya yang biasanya menenangkan. "Tidak, Ma. Kami hanya mencoba membersihkan rumah. Sebuah rumah yang sehat tidak seharusnya menyimpan parasit di dalamnya."Â
Pandangan Arfan berpindah ke Arfin, memberikan isyarat kecil. Tanpa berkata-kata, Arfin menekan tombol play pada remote di tangannya. Suara rekaman percakapan telepon Rania terdengar jelas memenuhi ruangan. Dalam rekaman itu, sang wanita tengah merencanakan sebuah kecelakaan fatal yang ditujukan untuk Arfin.Â
Suara itu bergema seperti Pengumuman kematian bagi nama baik Rania, membuyarkan segala topeng mulianya.Â
Segala sesuatu baru saja dimulai. Penyekapan ini akan menjadi panggung utama bagi penderitaannya selama tujuh hari ke depan neraka berlapis emas bagi seorang ratu yang kini kehilangan mahkotanya. Di ruangan kedap suara ini, kebenaran akan dipaksa muncul ke permukaan, perlahan namun pasti, seperti manik-manik tasbih yang digulirkan jari Arfan setiap detiknya.
Dalam membaca Prolog Novel Rumah Tanpa Parasit ini, saya merasa begitu terserap oleh suasana mencekam yang tercipta. Penggunaan setting ruang interogasi di dalam rumah mewah sangat efektif menggambarkan ketegangan psikologis yang dialami karakter Rania. Cerita ini membuka refleksi saya tentang bagaimana rumah—seharusnya menjadi tempat perlindungan—justru bisa menjadi sumber luka dan pengkhianatan. Sebagai pembaca yang gemar menyimak novel bergenre drama keluarga, saya merasa tokoh Arfan dengan tasbih digitalnya memberikan nuansa spiritual yang unik dan menguatkan pesan moral tentang pembersihan diri dan lingkungan dari 'parasit' atau hal negatif. Kisah yang mengangkat isu kepura-puraan dalam hubungan keluarga dan manipulasi demi kekayaan membuat saya teringat pada fenomena sosial nyata yang juga kerap terjadi. Penggunaan simbolisme tali tambang yang melilit Rania jelas mengisyaratkan pengekangan dan keterikatan yang tidak mudah diloloskan, baik secara fisik maupun emosional. Ini membuat cerita terasa hidup dan realistis, memancing saya untuk bertanya-tanya bagaimana kelanjutan perjuangan Rania menghadapi pengkhianatan anak-anaknya. Berbagi pengalaman pribadi, saya pernah mengalami konflik keluarga yang juga penuh dengan rahasia dan rasa sakit. Membaca novel ini seolah memberi ruang untuk merenungkan betapa pentingnya komunikasi yang terbuka dan kejujuran dalam keluarga. Novel ini juga mengingatkan saya untuk tidak mudah menilai seseorang hanya dari permukaan atau penampilan saja. Secara keseluruhan, prolog ini sukses menyuguhkan pembukaan cerita yang menggugah dan memancing rasa penasaran. Saya sangat menantikan kelanjutan perjalanan Rania dan dinamika hubungan antar karakter yang semakin dalam dan kompleks. Bagi para pecinta novel dengan tema intrik keluarga dan drama psikologis, karya ini layak untuk diikuti.

