... Baca selengkapnyaSebagai anak rantau yang doyan banget jajan, aku tuh sering kebingungan kalau teman nanya, “Makan di mana ya selain warteg yang itu-itu lagi?” Apalagi di Surabaya, pilihan tempat makan sebenarnya banyak banget, tapi kadang bingung mulai dari mana. Makanya aku mulai bikin semacam list pribadi, dari yang tipe hemat sampai yang lebih niat dikit kayak Haidilao.
Kalau biasanya makan di warteg itu andalan buat yang pengin cepet, murah, dan pilihan lauk banyak, aku suka pakai warteg sebagai pembanding. Di warteg, dengan harga belasan-ribuan, kita udah bisa dapat nasi, sayur, tempe, telur, bahkan lauk berkuah. Nah, ketika aku cobain makan di tempat lain, aku selalu mikir: "Se-worth it apa sih dibanding makan di warteg?" Misalnya, pas cobain Haidilao Surabaya, jelas harganya jauh di atas standar makan siang di warteg, tapi yang dibayar tuh suasana, pelayanan, dan pengalaman hotpot-nya. Refill kuah, pilihan topping banyak, plus side snack dan service-nya yang terkenal ramah. Kalau datang bareng teman-teman, jatuhnya bisa lebih hemat karena sharing porsi.
Di sisi lain, kalau pengin makanan yang lebih rumahan tapi tetap terasa spesial, aku suka banget konsep nasi bakar kayak di Tunjungan39. Nasi bakar cumi (bahkan kalau pesan tanpa pete) itu menurutku jadi versi "naik kelas" dari makan nasi lauk di warteg. Aromanya daun pisang yang kebakar, isian cuminya yang gurih, plus ada tempe goreng dan kerupuk, bikin makan terasa lebih niat walau masih berasa ‘sederhana’. Cocok buat kalian yang biasa makan di warteg tapi lagi pengin upgrade dikit tanpa bikin kantong langsung menjerit.
Nah, buat yang mau eksplor di luar jalur warteg, Haidilao Surabaya bisa masuk wishlist kalau lagi ada budget lebih. Tips dari aku, datang rame-rame biar bisa pesan banyak jenis topping hotpot dan sharing biaya. Jangan lupa manfaatin snacks dan minuman yang disediain, jadi terasa lebih worth. Kalau lagi nggak pengin yang terlalu berat, kalian bisa pindah ke tempat seperti Dining Club, yang punya menu unik kayak muscat cheese tart dan indomie dengan keju parut, nduja, dan kulit ayam babi renyah. Ini tuh tipe makanan yang lebih ke jajan manja, bukan makanan harian, tapi enak buat self-reward setelah kerja atau kuliah.
Untuk penggemar Chinese food, Dong Bei Yi Jia Ren juga menarik buat dicoba. Menu seperti Telor Tomat, Mun Tahu, ayam pedas, sampai babi asam manis, cocok banget buat makan bareng keluarga atau sahabat. Rasanya comfort food, mirip masakan rumahan tapi versi restoran. Kalau biasanya kalian makan di warteg dan suka lauk berkuah atau tumisan, menu seperti Mun Tahu atau Telor Tomat ini bisa jadi jembatan yang pas sebelum eksplor menu lain yang lebih bold rasanya.
Penutupnya, kalau habis makan kenyang dan masih pengin yang manis-manis, aku biasanya cari dessert kayak mochi daifuku dari Drool Bakery. Teksturnya lembut dengan isian krim dan stroberi, perfect buat nutup sesi makan. Intinya, makan di warteg tetap jadi andalan sehari-hari, tapi sesekali nggak ada salahnya eksplor pilihan lain seperti Haidilao Surabaya, nasi bakar, atau Chinese food supaya pengalaman kulineran di Surabaya makin seru dan nggak monoton.