Pernah nggak sih… satu kalimat dari orang lain terdengar biasa aja, tapi malah tinggal di kepala berhari-hari sampai hati capek sendiri?
Kadang bukan karena kita lemah, tapi karena kita terlalu peduli. Terlalu banyak memikirkan perasaan, sampai lupa menenangkan diri sendiri. Kalau kamu lagi ada di fase overthinking karena kata-kata orang, tenang… kamu nggak sendirian 🤍 Banyak dari kita sedang belajar kuat
di tengah pikiran yang nggak pernah benar-benar diam.
Tulis kalimat apa yang paling sering bikin kamu kepikiran.
Atau cukup tulis “aku”, kalau hari ini kamu lagi butuh dipeluk lewat doa dan pengertian. Kamu boleh capek.
Kamu boleh berhenti sebentar. Dan kamu pantas merasa tenang 🌿
#BelajarTenang
#Lemon8Diary
Pengalaman pribadi saya menghadapi overthinking yang dipicu oleh kata-kata orang lain mengajarkan banyak hal penting tentang menjaga kesehatan mental. Ketika seseorang mengucapkan kata yang terdengar biasa bagi mereka, saya seringkali merasa terluka dan terus memikirkannya, yang sebenarnya merupakan gejala rumination — kecenderungan terpaku pada pikiran negatif secara berulang. Saya belajar bahwa keadaan ini bukanlah kelemahan, melainkan respons alami dari otak yang merasa terancam. Salah satu metode yang sangat membantu saya adalah teknik grounding 5-4-3-2-1. Dengan mengalihkan fokus pada hal-hal nyata di sekitar, seperti menyebutkan 5 benda yang bisa saya lihat atau 4 hal yang bisa saya sentuh, saya dapat menenangkan pikiran yang kacau dan merasa lebih terkoneksi dengan lingkungan. Hal ini membantu menurunkan kecemasan dan mengurangi overthinking yang melelahkan. Selain itu, saya mulai berlatih self-compassion, yaitu memberi pengertian dan kebaikan kepada diri sendiri layaknya seorang sahabat ketika merasa terluka. Menerima bahwa proses sembuh itu butuh waktu, dan sesekali memberi diri izin untuk beristirahat, sangat membantu mengurangi tekanan batin. Saya juga menyadari pentingnya membedakan antara opini beracun dan fakta objektif. Kata-kata negatif dari orang lain sering mencerminkan ketidakamanan mereka, bukan siapa diri saya. Dengan mengubah fokus dari 'apa yang mereka katakan' ke 'siapa yang mengatakannya', saya bisa mengurangi efek negatif yang dirasakan. Mengutip kalimat dari artikel, "Jadikan pikiranmu bukan tempat parkir sampah." Ini mengingatkan saya untuk menjaga ruang mental agar tetap bersih dan hanya diisi hal-hal yang membangun diri. Jika kamu juga sering merasa capek dengan pikiran yang tak henti berputar tentang kata-kata orang lain, kamu tidak sendirian. Kamu berhak atas kedamaian mental. Semoga pengalaman dan teknik ini bisa membantu kamu seperti saya.










