Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal “orang desa tidak pakai dolar” memicu perdebatan publik. Partai Gerindra melalui juru bicaranya, Bahtra Banong, menegaskan ucapan tersebut bertujuan menenangkan masyarakat di tengah melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Menurutnya, pidato Prabowo dipotong sehingga menimbulkan kesalahpahaman. Gerindra menyebut pemerintah sedang fokus memperkuat ekonomi domestik lewat hilirisasi industri, swasembada pangan, ketahanan energi, dan penguatan koperasi desa.
Bahtra juga meminta publik tidak mudah terpengaruh narasi pesimisme karena Indonesia dinilai masih memiliki fondasi ekonomi yang kuat di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak nilai tukar rupiah yang terus menjadi perhatian masyarakat luas.
Sebagai seseorang yang memperhatikan dinamika ekonomi Indonesia, saya memahami betapa pentingnya menjaga psikologi publik di tengah gejolak nilai tukar rupiah dan ketegangan ekonomi global. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang “orang desa tidak pakai dolar” sebenarnya mengandung pesan optimisme dan ketenangan, yang sangat relevan untuk kondisi perekonomian saat ini. Memang, ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, kekhawatiran masyarakat terhadap ekonomi seringkali meningkat. Namun, fokus pemerintah yang didukung oleh Gerindra untuk memperkuat ekonomi domestik seperti hilirisasi industri, swasembada pangan, ketahanan energi, dan penguatan koperasi desa memberikan harapan besar. Dari pengalaman saya mengikuti perkembangan tersebut, penguatan sektor-sektor ini tidak hanya menjaga kemandirian ekonomi, tapi juga memperkuat basis ekonomi di tingkat akar rumput. Misalnya, penguatan koperasi desa sebagai fondasi ekonomi lokal menunjukkan upaya untuk membangun ketahanan dari bawah. Saat koperasi desa dapat berkembang, hal ini membantu memperkuat daya beli masyarakat dan mengurangi ketergantungan mereka pada mata uang asing. Pengalaman saya melihat beberapa koperasi di daerah memang semakin aktif, yang menunjukkan bahwa inisiatif ini berjalan baik dan memberi dorongan positif bagi ekonomi desa. Selain itu, hilirisasi industri mendorong pemrosesan bahan baku di dalam negeri sehingga nilai tambah bisa diperoleh secara domestik. Ini bukan hanya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga membuka lapangan kerja baru yang bermanfaat bagi masyarakat secara luas. Dengan swasembada pangan dan ketahanan energi, Indonesia mengurangi risiko ketergantungan impor yang rentan terhadap fluktuasi valuta asing. Dari sisi psikologis, pesan untuk tidak mudah terpengaruh oleh narasi pesimisme sangatlah penting. Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan, menjaga optimisme dan fokus pada upaya memperkuat ekonomi lokal menjadi kunci utama. Semangat ini saya lihat menjadi landasan yang kuat bagi banyak pelaku usaha dan masyarakat desa untuk tetap bersemangat berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional, meskipun ada tekanan dari kondisi global. Secara keseluruhan, pernyataan Prabowo tersebut harus dipahami dalam konteks lebih luas, yaitu upaya memelihara stabilitas mental dan ekonomi masyarakat. Kesalahpahaman karena potongan kalimat tidak utuh seringkali memicu reaksi yang sebenarnya bisa dihindari dengan komunikasi yang lebih jelas. Pengalaman saya mengikuti isu ini mengajarkan bahwa sangat penting bagi publik untuk menerima informasi secara lengkap agar tidak terjebak pada narasi yang keliru.

























