Muhammad Riyadi :
DALAM PERJALANANNYA MENUJU Allah, seorang murid harus sibuk melakukan amal-amal saleh yang diridai Tuhannya. Hatinya ti-dak boleh sibuk mencari sesuatu yang lain karena itu tercela dan bisa memutus jalannya menuju Allah.
Bila kau meminta kepada Allah agar Dia memberimu rezeki dan makanan yang dapat membantumu berjalan atau agar Dia meluaskan rezekimu, sama dengan menuduh-Nya tidak pernah memberimu rezeki.
Jika kau percaya bahwa Dia Maha Mengetahui kebutuhanmu dan Mahakuasa memberimu tanpa kauminta, tentu kau tidak akan meminta sesuatu pun dari-Nya. Bila kau mencari-cari Allah agar kau didekatkan kepada-Nya, dihilangkan hijab antara dirimu dengan-Nya, dan dapat melihat-Nya dengan mata hatimu, tindakan ini sama saja dengan melakukan gibah terhadap-Nya (membicarakan-Nya di belakang) karena Dzat Yang Mahahadir tidak perlu lagi dicari-cari. Bila kau mencari selain Tuhanmu, baik itu berupa harta, ke-dudukan, kehormatan, maupun yang lainnya, itu membuktikan sedikitnya rasa malumu kepada-Nya.
Jika kau malu kepada-Nya, tentu kau tidak akan mencari selain-Nya. Bila kau meminta kepada selain-Nya, seperti meminta kepada seorang manusia untuk mengatasi persoalan-persoalanmu dan saat meminta itu kaulupa kepada Tuhanmu, itu menandakan bahwa kau begitu jauh dari-Nya. Jika kau dekat dengan-Nya, pasti kau akan jauh dari selain-Nya. Sekiranya kau menyadari kedekatan-Nya denganmu, niscaya kau akan menghindari makhluk-makhluk-Nya.
Namun, karena kejauhanmu dengan-Nya, kau merasa butuh kepada selain-Nya untuk kaujadikan tempat berlindung dan meminta. Bagi kalangan Murid, meminta kepada sang Khalik adalah hal yang lumrah. Bahkan, meminta kepada makhluk pun adalah hal yang wajar, kecuali meminta dalam kerangka ibadah, etika, mengikuti perintah, atau menyatakan kebutuhan. Sementara itu, orang-orang 'arif hanya memandang kepada Allah. Permintaan mereka, walaupun secara lahir tampak kepada makhluk, namun sebenarnya kepada sang Khalik.
Dalam perjalanan spiritual menuju Allah, pengalaman pribadi saya seringkali mengajarkan bahwa fokus pada amal saleh adalah kunci yang paling utama. Seringkali kita terjebak dalam keinginan meminta secara berlebihan, padahal percaya pada ke-Maha Kuasaan Allah sebenarnya memberikan ketenangan batin yang luar biasa. Sebagai contoh, ketika saya menghadapi masa sulit dan merasa kekurangan, saya belajar untuk tidak terlalu sibuk meminta secara eksplisit, melainkan memperkuat iman dan terus berbuat baik. Ternyata, dengan percaya penuh bahwa Allah Maha Mengetahui dan akan memenuhi kebutuhan saya secara tepat waktu, saya merasa lebih dekat dan diberkahi dengan cara yang tidak saya duga. Selain itu, penting untuk menyadari bahwa mencari kedekatan dengan Allah tidak berarti kita harus 'mencari'-Nya dengan cara yang salah, seperti sibuk memikirkan bagaimana tampil lebih religius atau berharap keajaiban secara kasat mata. Yang paling utama adalah membersihkan niat dan menjaga hati agar selalu tunduk dan malu kepada-Nya. Ketika saya mempraktikkan rasa malu dan hormat ini, saya jadi lebih mudah menjauhi hal-hal duniawi yang menyesatkan hati dan mampu fokus pada pemenuhan diri secara spiritual. Saya juga belajar dari pengalaman, bahwa meskipun manusia di sekitar kita dapat membantu, rasa ketergantungan kepada makhluk bisa menimbulkan jarak dengan Allah. Oleh sebab itu, menjaga niat agar senantiasa hanya memandang kepada Allah dalam setiap permintaan dan harapan sangatlah penting, agar hubungan kita dengan-Nya menjadi lebih bermakna. Dari sisi praktik, saya menemukan bahwa menguatkan dzikir, doa yang tulus tanpa terlalu banyak berharap secara lahiriah, serta amal saleh yang konsisten membuat hati menjadi ringan dan siap menerima segala ketentuan Allah dengan lapang dada. Ini adalah refleksi sederhana namun sangat bermakna dalam perjalanan menuju Allah, yang saya rasa juga bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang tengah meniti jalan spiritualnya.











































