... Baca selengkapnyaAku sering baca candaan di internet soal janda dan duda, apalagi yang temanya kayak di gambar: "Beda duda beda rasa, salah pilih duda perpanjang masa janda". Kedengarannya lucu, tapi kalau dialami sendiri rasanya nggak selucu itu. Sebagai perempuan berhijab yang pernah ada di posisi janda, aku ngerasa banget pandangan orang itu bisa kejam, padahal kita juga manusia biasa yang cuma pengen bahagia.
Banyak yang kepo soal hubungan janda dan duda. Sebenarnya, duda itu sama aja kayak laki-laki lain, cuma bedanya mereka juga bawa luka dan masa lalu. Dari pengalamanku dan cerita teman-teman, wanita yang disukai duda biasanya yang kelihatan tulus, nggak gampang nge-judge, dan bisa diajak ngobrol dari hati ke hati. Bukan cuma soal fisik atau penampilan doang, meskipun foto janda berhijab di media sosial sering banget jadi bahan komentar nggak penting.
Aku sendiri pernah dekat dengan seorang duda. Awalnya dia kelihatan perhatian, dewasa, dan sefrekuensi. Tapi makin lama, aku sadar kalau dia belum benar-benar selesai dengan masa lalunya. Di situ kerasa banget, beda duda itu memang beda rasa. Ada yang benar-benar siap membangun lagi, ada juga yang cuma cari pelarian. Di titik itu aku belajar, kalau salah pilih duda atau pasangan apa pun, bisa-bisa cuma memperpanjang masa janda dan luka batin.
Soal penampilan, banyak yang bilang janda berhijab itu kelihatan lebih kalem dan anggun. Aku pernah upload foto pakai hijab cokelat, kemeja putih, dengan pose sederhana aja, tapi tetap aja ada komentar yang menggiring ke arah janda menggairahkan atau janda putih, seakan label janda itu selalu dikaitkan dengan hal-hal fisik dan fantasi laki-laki. Padahal di balik satu foto, ada hati yang lagi berusaha kuat dan bangkit.
Buat kamu yang sekarang statusnya janda atau duda, jangan keburu minder. Label itu nggak menentukan seberapa berharganya kamu. Kalau pun mau dekat dengan duda atau janda lain, nggak masalah sama sekali, asalkan dua-duanya sama-sama sudah selesai dengan masa lalu dan saling jujur. Komunikasi itu penting banget, supaya nggak ada yang merasa dimanfaatkan.
Sekarang, aku lebih hati-hati kalau ada duda yang mendekat. Aku belajar buat nggak gampang baper cuma karena dimengerti dan didengar. Aku juga nggak mau lagi pilih pasangan yang malah bikin aku merasa sendirian padahal sedang bersama. Status janda bukan aib, tapi juga bukan alasan buat sembarang pilih. Kalau ternyata harus sendiri dulu lebih lama, nggak apa-apa, yang penting hati lebih tenang dibanding memaksakan diri dengan orang yang salah.
Kalau kamu punya pengalaman sebagai janda atau duda, terutama soal memilih pasangan baru, boleh banget share. Siapa tahu cerita kita bisa saling menguatkan, biar nggak ada lagi yang merasa masa jandanya "diperpanjang" karena salah pilih orang.
Lihat komentar lainnya