Kok menunggu terdesak?
Dalam keadaan yang terdesak ini, ia berusaha melunakkan hati TUHAN, Allahnya; ia sangat merendahkan diri di hadapan Allah nenek moyangnya.
(2 Tawarikh 33:12)
Tawar-menawar ternyata tak hanya terjadi antara pembeli dan penjual. Kita kadang-kadang juga tawar-menawar dengan Allah sehubungan dengan keputusan-Nya. Saat sakit keras, misalnya, kita membujuk Allah dengan mengobral janji akan melayani-Nya bila diberi kesembuhan. Atau, saat mengalami kesusahan, kita mencoba menawar Allah agar memberi kita kemurahan dan meringankan beban hidup kita.
Manasye adalah raja Yehuda yang jahat di hadapan Tuhan. Ia menyembah berhala dan mendirikan bukit pengorbanan. Ia mempersembahkan anak-anaknya sendiri sebagai korban dalam api. Ia pun melakukan sihir, ramal, dan telaah, serta memanggil roh orang mati.
Allah pun menghukumnya. Asyur menyerang dan mengalahkan Yehuda. Manasye ditangkap dan ditawan ke Babel. Di dalam keadaan terdesak ini, Manasye ingat akan Tuhan dan merendahkan diri dalam penyesalan.
Ia berharap Tuhan mau menolong dan menyelamatkan dirinya dan bangsa Yehuda dari Babel. Tuhan mendengarkan dan memulihkan keadaan Manasye, yang selanjutnya hidup takut akan Tuhan.
Kita sering kali hidup seperti Manasye, yaitu tidak taat pada Tuhan. Saat ada peristiwa yang membuat keadaan kita susah dan berat, kita berusaha menawar Tuhan dan mengatakan janji untuk bertobat, asalkan Tuhan terlebih dahulu menyelamatkan kita.
Pertanyaannya, kenapa kita harus mengalami keadaan yang tidak menyenangkan dulu, baru mau bertobat? Ketika menyadari perbuatan kita melawan Allah, seharusnya kita langsung bertobat tanpa menunggu terdesak oleh akibat dosa itu.
KITA BERTOBAT BUKAN KARENA MENANGGUNG KONSEKUENSI DOSA,
MELAINKAN KARENA TELAH MENYAKITI HATI ALLAH
Setiap kita pasti pernah mengalami masa-masa sulit atau peristiwa yang membuat kita merasa terdesak, entah itu masalah kesehatan, keuangan, atau persoalan hidup lainnya. Kisah Raja Manasye dalam 2 Tawarikh 33:12 mengajarkan bahwa penyesalan dan pertobatan yang tulus datang bukan saat kita berusaha menawar atau merayu Tuhan saat terpuruk, melainkan harus datang dari kesadaran hati yang paling dalam. Bertobat tidak seharusnya menjadi 'tawar-menawar' di saat sulit saja, melainkan sebuah sikap hati yang terus dijaga setiap hari. Ketika kita menyadari kesalahan dan dosa kita, alangkah baiknya untuk segera kembali kepada Tuhan tanpa mengharap terlebih dulu pertolongan atau keberhasilan. Karena sejatinya, pertobatan adalah ungkapan penyesalan yang tulus karena menyakiti hati Allah, bukan hanya karena takut akan akibat atau hukuman dosa. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sering juga menukar janji-janji dengan Tuhan saat mengalami kesusahan, misalnya berjanji lebih rajin beribadah, berbuat baik, atau hidup lebih taat jika masalah cepat selesai. Namun, ketulusan itu haruslah hadir tanpa pamrih dan bukan hanya sebagai reaksi terhadap situasi tertekan. Napas harapan dan penyembuhan juga terdapat dalam pesan positif yang ditemukan di bagian gambar dari artikel ini: "Each day, we can speak hope into despair, love into loneliness, & healing into the most broken and beaten down hearts. WHOLLY LOVED." Ini mengingatkan kita bahwa harapan, kasih, dan kesembuhan berasal dari mengenal dan hidup di dalam kasih Allah yang sempurna tanpa syarat. Menerapkan pelajaran ini dalam kehidupan berarti kita berusaha hidup benar dan taat setiap waktu, bukan hanya saat menghadapi kesulitan. Ketika kita hidup dengan hati yang penuh penyesalan dan rendah hati, selain hubungan dengan Allah semakin dekat, kita juga membuka diri untuk mengalami damai sejahtera dan pertolongan-Nya secara nyata. Marilah kita belajar dari Manasye, lebih dari sekadar takut akan hukuman, mari bertobat karena kita telah menyakiti hati Allah, dan mulai hidup baru yang penuh ketaatan dan kasih. Dengan demikian kita tidak perlu mengalami keterdesakan baru bertobat, melainkan hidup setiap hari dengan sikap hati yang ingin mendekat dan menyenangkan Tuhan.

