Firman Tuhan, "Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa." (Kisah Para Rasul 9:11)

Menangani Terlebih Dahulu

Tuhan meminta Ananias pergi ke suatu alamat.

"Mungkin di sana ada jemaat baru, " pikirnya.

Betapa terkejutnya ia ketika Tuhan berfirman: "Carilah ... seorang ... bernama Saulus" (ay. 11).

Merasa keberatan, ia mengingatkan Tuhan akan betapa berbahayanya orang itu bagi jemaat, termasuk juga bagi dirinya (ay. 13-14). Menemui Saulus bisa diibaratkan masuk ke liang serigala.

Seperti Ananias, kita sering kali mengajukan protes kepada Tuhan ketika Dia meminta kita melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Namun, Tuhan tidak sedang bersenda gurau! Terbukti, ketika Tuhan meminta Ananias untuk berangkat, Dia sudah menangani Saulus terlebih dahulu.

Beberapa hari sebelumnya, Tuhan menyinari Saulus dengan cahaya-Nya sehingga matanya buta, tetapi hatinya berubah (ay. 3-9). Saat itu, Saulus justru sedang menantikan kedatangan Ananias untuk kesembuhan matanya (ay. 12).

Beruntung, Ananias tidak terlalu lama berdebat dengan Tuhan. Karena ketaatan Ananias, Saulus (yang kemudian bernama Paulus) dapat menjadi orang yang giat melayani Tuhan.

Tuhan tidak pernah berniat mencelakakan anak-anak-Nya. Rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera yang memberikan hari depan penuh harapan (Yeremia 29:11). Namun, kadang-kadang kita memang tidak memahami keseluruhan rancangan-Nya. Kita berkata, "Mustahil! Bukankah di sana banyak hambatan, penghalang dan hal-hal menakutkan lainnya?" Tidak perlu takut, kita hanya perlu taat!

Percayalah, "Tangan Yang Tak Terlihat" sudah menangani masalah itu terlebih dahulu.

* * *

TIDAK SEPERTI MANUSIA YANG SERING LUPA AKAN TANGGUNG JAWABNYA,

TUHAN SELALU TAHU APA SAJA YANG PERLU DITANGANI-NYA.

3/19 Diedit ke

... Baca selengkapnyaWaktu membaca kisah Ananias dan Saulus, aku langsung keingat satu ayat yang sering banget dipakai untuk menyemangati, tapi kadang cuma lewat di kepala: Yeremia 29:11 tentang rencana Tuhan yang penuh damai sejahtera dan hari depan penuh harapan. Jujur, ayat ini baru berasa "hidup" ketika aku sendiri berada di posisi bingung dan takut. Ada hari-hari ketika langit terasa gelap, tapi justru di momen begitu Tuhan seperti pelan-pelan menunjukkan “langit cerah penuh harapan” versi-Nya. Bukan berarti masalah langsung hilang, tapi ada keyakinan baru bahwa Dia sudah bekerja lebih dulu di belakang layar, seperti yang Tuhan lakukan pada Saulus sebelum Ananias datang. Aku juga teringat 1 Korintus 2:9, yang bilang bahwa apa yang Tuhan sediakan bagi orang yang mengasihi-Nya melampaui apa yang pernah kita lihat, dengar, atau pikirkan. Ananias cuma melihat Saulus sebagai penganiaya jemaat, tetapi Tuhan melihat Paulus, rasul yang dipakai luar biasa. Kadang kita hanya fokus pada bahaya dan ketakutan di depan mata, padahal Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang jauh melampaui bayangan kita. Dalam perjalanan rohani, buah Roh (Galatia 5:22-23) juga kerasa banget relevan dengan kisah ini. Untuk taat seperti Ananias, kita butuh kasih (berani mengasihi musuh), damai sejahtera (tetap tenang walau takut), kesabaran (menunggu penjelasan Tuhan), dan ketaatan yang lahir dari penguasaan diri. Buah Roh itu nggak muncul instan, tapi perlahan bertumbuh lewat ketaatan-keputusan kecil setiap hari. Kalau kamu suka mengawali hari dengan "selamat pagi ayat Alkitab", kisah ini bisa jadi bahan renungan pagi yang kuat. Bayangin memulai hari dengan doa: “Tuhan, hari ini aku mau percaya bahwa Engkau sudah bekerja terlebih dulu dalam segala hal yang kutakuti.” Rasanya seperti melihat langit yang tadinya mendung perlahan jadi cerah. Ibrani 4:16 juga menguatkanku: kita diajak datang dengan penuh keberanian ke takhta kasih karunia. Ananias datang kepada Tuhan dengan jujur, bawa semua ketakutannya, dan dari situlah ia mendapat keberanian untuk melangkah. Jadi, kalau kamu lagi dihadapkan pada sesuatu yang terasa mustahil, jangan pendam sendiri. Datanglah pada Tuhan apa adanya. Pengalaman pribadiku, saat aku berani berkata, “Tuhan, aku takut, tapi aku mau taat,” situasi mungkin tidak langsung berubah, tapi hatiku pelan-pelan ditenangkan. Seperti gambar seseorang dengan tangan terentang menghadap langit cerah, aku belajar menyerahkan kekhawatiran dan percaya bahwa rencana Tuhan selalu lebih baik, bahkan ketika aku belum melihat akhirnya. Mungkin saat ini kamu belum melihat terang itu, tapi bukan berarti Tuhan tidak bekerja. Bisa jadi, sama seperti Saulus, Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu di balik layar yang nanti akan membuatmu berkata: ternyata benar, rencana-Nya adalah rencana damai sejahtera.