"JANGAN FOKUS PADA KEKURANGAN"
---
"Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan ..."
(Filipi 2:14)
---
Kita mungkin sering merasa hidup kita kurang.
Kurang uang, kurang nyaman, kurang dihargai, kurang berhasil, kurang ini dan itu. Akhirnya, secara nggak sadar kita lebih banyak mengeluh daripada bersyukur.
Padahal coba kita renungkan.
Posisi yang hari ini kita anggap biasa saja, bisa jadi adalah posisi yang sedang didoakan dan diimpikan orang lain.
Kita mengeluh soal pekerjaan, padahal di luar sana ada orang yang sedang mati-matian mencari pekerjaan.
Kita mengeluh soal rumah, sementara ada yang masih berharap punya tempat tinggal yang layak.
Kita mengeluh tentang keluarga, padahal ada orang yang rela melakukan apa saja hanya untuk bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.
Kita boleh punya target, cita-cita, dan harapan.
Tetapi jangan sampai karena mengejar yang belum ada, kita jadi meremehkan apa yang sudah Tuhan berikan.
Bangsa Israel juga pernah begitu. Mereka sudah keluar dari Mesir dan mengalami pembebasan, tetapi ketika perjalanan menjadi sulit, mereka mulai mengeluh.
Mereka lebih sibuk melihat kesulitan daripada mengingat pertolongan Tuhan.
Seringkali kita pun seperti itu.
Kita sibuk mengeluhkan perjalanan, sampai lupa bahwa kita sedang berjalan menuju sesuatu yang dulu pernah kita doakan.
Syukur bukan berarti kita berhenti bermimpi.
Syukur berarti kita tidak menghina berkat yang sudah Tuhan berikan hanya karena kita belum mendapatkan apa yang kita inginkan.
Hari ini, sebelum mengeluh tentang hidupmu, coba lihat lagi apa yang ada di tanganmu. Mungkin ternyata Tuhan sudah memberikan jauh lebih banyak daripada yang selama ini kita sadari.
---
Reflection:
Apa yang bisa kita renungkan?
- Apa yang akhir-akhir ini paling sering kita keluhkan?
- Apa yang sebenarnya sudah Tuhan berikan, tetapi mulai kita anggap biasa?
---
"Jangan terlalu sibuk menghitung kekurangan, karena apa yang kita anggap biasa, bisa jadi adalah sesuatu yang orang lain minta dalam doanya."
Dalam pengalaman saya, sering kali kita terjebak dalam siklus keluhan yang membuat kita sulit menikmati hidup. Saya pernah merasa kurang dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari karier hingga hubungan sosial. Namun, ketika saya mulai mengubah perspektif dan lebih fokus untuk bersyukur atas hal-hal sederhana—seperti memiliki pekerjaan, rumah yang layak, dan keluarga yang peduli—hidup menjadi lebih bermakna dan damai. Penting untuk diingat bahwa seperti bangsa Israel dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir, kita juga sering lupa betapa besar pertolongan Tuhan dalam perjalanan hidup kita karena terlalu fokus pada kesulitan yang dihadapi. Ketika saya mencoba untuk tidak bersungut-sungut dan lebih mengingat doa-doa yang pernah saya panjatkan serta jawaban yang sudah saya terima, hati menjadi lebih ringan dan semangat bertumbuh. Syukur tidak membatasi kita untuk bermimpi dan berencana. Sebaliknya, syukur memberikan pondasi kuat agar kita tidak meremehkan berkat saat ini hanya karena mengejar sesuatu yang belum tercapai. Saya belajar bahwa dengan menghargai apa yang ada di tangan kita, kita justru membuka pintu bagi berkat yang lebih besar datang ke depan. Menghitung kekurangan sering membuat kita lupa bahwa apa yang kita anggap biasa bisa menjadi hal besar dan didambakan oleh orang lain. Jadi, sebelum mengeluh, cobalah melihat dari sudut pandang lain dan hargai setiap anugerah yang telah diberikan. Ini bukan hanya soal perubahan mindset, tapi juga memperkaya kualitas hidup secara spiritual dan emosional.

