syair abunawas
Syiir Al-I’tirof ini sering dinisbatkan kepada Abu Nawas, seorang Ulama yang Sufi, namun terkenal kelucuannya. Maka syiir ini sering kali disebut juga Syiir Abu Nawas.
Syiir Al-I’tirof yang secara bahasa berarti pengakuan ini sering kali disenandungkan oleh masyarakat Indonesia karena bahasanya yang bagus dan isinya yang mengandung makna yang dalam.
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga
tapi aku tidak kuat dalam neraka jahim
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku
sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar
Dosaku bagaikan bilangan pasir
Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah
bagaimana aku menanggungnya َ
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu َ
Maka jika engkau mengampuni
maka Engkaulah yang berhak mengampuni.
Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
Aku pribadi pertama kali kenal syair Abu Nawas atau Syiir Al-I’tirof justru dari majelis sholawat. Waktu itu habis pembacaan sholawat, dilanjutkan dengan lantunan lirik syair Abu Nawas ini. Jujur, meski bahasanya sederhana, tapi maknanya nusuk banget ke hati. Buat yang mungkin baru dengar, syair ini sering diselipkan di tengah-tengah pembacaan sholawat karena temanya masih satu: mengagungkan Allah, mengakui dosa, dan berharap rahmat-Nya. Jadi suasananya tetap khusyuk, kayak lagi baca doa panjang. Banyak orang yang menyebutnya sholawat syair Abu Nawas, padahal secara teknis ini lebih ke doa atau pengakuan (i’tirof), tapi fungsinya di majelis mirip: dibaca berulang, dilagukan, dan jadi sarana mendekat kepada Allah. Waktu lirik "Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka jahim" dilagukan, rasanya kayak ditampar. Kita sadar diri, amal belum seberapa, tapi takut sama siksa neraka. Di bait lain ada kalimat "Dosaku bagaikan bilangan pasir" yang bikin kita merenung, seberapa sering kita mengulang dosa kecil yang dianggap sepele. Justru dari pengakuan itulah muncul rasa butuh sama ampunan Allah. Biasanya syair ini aku dengar dibaca setelah sholat atau di akhir majelis ilmu. Ada juga yang menjadikannya wirid pribadi, dibaca pelan-pelan sebelum tidur kayak doa. Kalau kamu sudah hafal lirik syair Abu Nawas atau I’tirof ini, enak banget dilantunkan sendiri di kamar dalam keadaan gelap, sambil mikirin umur yang "setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah". Kalimat ini mengingatkan kalau waktu kita nggak banyak, tapi daftar dosa justru nambah. Kalau mau mengamalkan, menurutku nggak perlu nunggu momen khusus. Boleh dibaca setelah sholat wajib, sholat malam, atau kapan pun lagi down dan merasa jauh dari Allah. Anggap saja ini curhatan jujur kita di hadapan Tuhan: datang sebagai hamba yang penuh salah, tapi tetap yakin bahwa Allah Maha Pengampun dosa yang besar. Yang penting, jangan cuma berhenti di lirik dan rasa haru. Syair ini harus jadi pemicu buat kita beneran bertaubat: pelan-pelan ninggalin kebiasaan buruk, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki sholat. Dengan begitu, lantunan syair Abu Nawas ini bukan cuma indah di telinga, tapi juga mengubah hati dan perilaku kita sehari-hari.













