“Dan yang paling prihatin adalah saat warga mengalami kebanjiran, developer yang dulu mempromosikan sebagai kawasan yang aman dan nyaman bagi hunian tidak pernah menemui konsumennya yang hari ini berteriak-teriak,” ujar Dedi dikutip dari unggahan media sosial pribadinya, Jumat (23/1/2026).
Dedi menegaskan para pengembang tersebut lebih sibuk mengajukan izin pembangunan perumahan baru kepada pemerintah, ketimbang menemui warga yang terdampak banjir akibat janji palsu yang mereka berikan.
“Mereka lebih sibuk mengajukan izin baru, untuk itu saya mengajak kepada para pengembang perumahan di seluruh provinsi Jawa Barat di daerah-daerah perumahan yang dibangun yang hari ini dilanda banjir sebaiknya turun temui warga dan sama-sama cari solusi dengan pemerintah,” kata pria yang akrab disapa Kang Dedi itu.
Lebih jauh eks Bupati Purwakarta itu juga menekankan kepada para developer untuk ikut berperan aktif bersama pemerintah Provinsi dalam mencari solusi membenahi persoalan banjir di wilayah perumahan Bekasi.
“Jangan segala sesuatunya dibebankan kepada pemerintah, karena bagaimanapun ketika mengembangkan perumahan pasti dulu mendapatkan keuntungan,”
... Baca selengkapnyaSebagai orang yang sering lihat iklan perumahan di Bekasi dan kota-kota lain, aku makin sadar kalau cek developer itu penting banget, bukan cuma tergiur brosur yang bilang "bebas banjir" atau "lingkungan aman dan nyaman". Kasus yang disorot Dedi Mulyadi ini menurut aku jadi pengingat buat kita sebagai calon pembeli rumah supaya lebih kritis ke developer Bekasi.
Sebelum tertarik beli rumah di satu kawasan, aku biasanya cari tahu dulu rekam jejak developer: apakah pernah terseret masalah banjir, gimana respon mereka kalau ada keluhan, dan apakah benar mereka ikut tanggung jawab saat terjadi musibah. Banyak kompleks yang dulunya dipromosikan bebas banjir, tapi saat hujan besar, kawasan perumahan malah jadi langganan banjir parah seperti yang terlihat di gambar perumahan Bekasi yang terendam. Di titik ini kelihatan banget mana developer yang cuma jual janji, dan mana yang benar-benar peduli.
Hal lain yang aku pelajari, penting banget buat cek izin dan rencana tata ruang. Developer Bekasi yang serius biasanya transparan soal drainase, saluran air, dan kerja sama dengan pemerintah daerah. Kalau cuma sibuk mengajukan izin perumahan baru tanpa memperbaiki kawasan lama yang sudah kebanjiran, itu menurut aku tanda merah. Dedi Mulyadi juga menyinggung soal ini, bahwa pengembang jangan hanya mengejar keuntungan, tapi perlu turun langsung menemui warga dan cari solusi bareng pemerintah provinsi.
Kalau kamu lagi survei rumah di Bekasi atau Jawa Barat, coba lakukan beberapa langkah praktis: tanya langsung ke warga sekitar soal sejarah banjir, cek media sosial apakah kawasan itu pernah trending karena banjir, dan lihat kondisi fisik lingkungan seperti tinggi permukaan tanah, jalur sungai, sampai kualitas saluran air. Di era sekarang, foto-foto perumahan tergenang banjir mudah banget ditemukan, dan itu bisa jadi bahan pertimbangan sebelum DP.
Aku pribadi sekarang lebih nyaman kalau developer mau diajak diskusi terbuka soal risiko banjir dan penanganannya. Misalnya, apakah ada rencana normalisasi saluran, pembuatan kolam retensi, atau koordinasi rutin dengan pemerintah daerah. Sikap tanggung jawab sosial ini menurut aku sama pentingnya dengan desain rumah. Musibah memang bisa datang kapan saja, tapi sikap developer saat warga berteriak minta solusi itu yang membedakan antara pengembang yang cuma cari cuan dan pengembang yang benar-benar memikirkan penghuninya.
Jadi, buat kamu yang lagi cari rumah di Bekasi, jangan ragu buat banyak bertanya dan kritis terhadap klaim "bebas banjir" di brosur. Pengalaman warga dan rekam jejak developer Bekasi jauh lebih berharga daripada janji manis saat promosi.