Pemkab Garut Bakal Perbaiki Infrastruktur Pasar

Pemerintah Kabupaten merehabilitasi drainase dan jalan Pasar Guntur Ciawitali sejak awal Agustus 2025.

Revitalisasi ini untuk memberikan rasa nyaman terhadap warga, baik pedagang maupun pembeli karena selama ini pasar kotor dan becek.

Revitaliasi Pasar Guntur Ciawitali menghabiskan anggaran sekitar Rp1,4 miliar. Pembangunannya pun sudah tuntas akhir 2025 lalu.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral (Disperindag ESDM) Kabupaten Garut Ridwan Effendi mengatakan, tahun 2026 akan ada revitalisasi lanjutan.

“Kalau yang sekarang ini tahun 2026 itu ada revitalisasi lanjutan,” ucapnya, Minggu, (25/1/2026).

Ia menyampaikan, tahun ini lebih ke perbaikan infrastruktur di Pasar Guntur Ciawitali dan pasar-pasar lainnya di wilayah Kabupaten Garut.

Beberapa pasar yang akan diperbaiki seperti Pasar Wanaraja, Pasar Malangbong, dan Pasar Kadungora.

“Ada beberapa perbaikan infrastruktur seperti tangga di Pasar Wanaraja di Malangbong, TPS di Pasar Kadungora,” katanya.

Beberapa pasar tersebut, termasuk Pasar Guntur merupakan pasar yang akan dilakukan perbaikan pada tahun 2026. Meskipun memang dilakukan secara bertahap.

Ridwan mengatakan, anggaran untuk perbaikan variatif.

“Anggaran itu bervariatif, ada yang sekitar di bawah Rp200 juta, ada yang di Pasar Guntur itu kurang lebih ada hampir Rp1 miliar lebih lah,” pungkasnya. (Agi Sugia)

#trump2024 #biden #maga

Kabupaten Garut
1/26 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai warga yang lumayan sering belanja di pasar tradisional Garut, aku cukup ngerasain bedanya ketika ada program revitalisasi pasar dari pemerintah daerah. Tujuan utama renovasi sejumlah pasar ini sebenarnya sederhana tapi penting banget: bikin pasar lebih nyaman, aman, dan layak untuk pedagang maupun pembeli. Kalau dulu banyak pasar tradisional Garut yang identik dengan becek, bau, dan macet karena drainase kurang baik, sekarang mulai pelan-pelan dibenahi. Di Pasar Guntur Ciawitali misalnya, perbaikan drainase dan jalan bikin genangan air mulai berkurang. Jalur motor dan pejalan kaki juga lebih tertata, jadi nggak terlalu semrawut seperti dulu. Hal yang sama diharapkan terjadi di pasar-pasar lain seperti Pasar Malangbong Garut, Pasar Wanaraja, dan Pasar Kadungora. Di Malangbong, pasar ini kan jadi pusat aktivitas warga lintas kecamatan. Kalau infrastrukturnya buruk, yang rugi bukan cuma pedagang, tapi juga pembeli yang tiap hari harus belanja di tempat yang kotor dan licin. Dengan adanya perbaikan, risiko tergelincir, kemacetan di dalam area pasar, sampai penumpukan sampah bisa dikurangi. Dari sudut pandang ekonomi lokal, renovasi pasar tradisional Garut ini juga penting untuk meningkatkan daya tarik pasar. Pembeli yang biasanya malas ke pasar karena sumpek dan kotor bisa jadi balik lagi kalau suasananya lebih rapi dan terang. Pedagang juga lebih percaya diri karena lapaknya terlihat lebih layak, dan kadang omzet bisa naik ketika pembeli merasa nyaman berlama-lama belanja. Yang menarik, perbaikan ini nggak hanya soal bangunan utama, tapi juga detail seperti tangga pasar, TPS (tempat pembuangan sampah), dan akses jalan. Hal-hal kecil begini seringkali justru paling berpengaruh ke pengalaman pengunjung. Misalnya, tangga yang sebelumnya rusak dan licin kalau hujan, setelah diperbaiki jadi lebih aman buat lansia dan ibu-ibu yang bawa banyak barang. Menurutku, pasar tradisional Garut punya peran besar sebagai pusat ekonomi rakyat. Jadi ketika pemerintah kabupaten merencanakan renovasi sejumlah pasar di kotanya, tujuan dari kegiatan tersebut jelas untuk meningkatkan kualitas hidup warga: lingkungan lebih bersih, aktivitas jual beli lebih lancar, dan keamanan lebih terjamin. Harapannya, setelah semua tahap revitalisasi ini tuntas, image pasar tradisional Garut bukan lagi kotor dan becek, tapi jadi tempat belanja favorit yang nyaman dan tetap mempertahankan nuansa tradisionalnya.