lin beichuan

📌 251122

🥀 Hari pertama Lin Beichuan kembali ke unitnya. ID-nya, "Lin Beichuan," diambil dari frasa "Di utara pegunungan dan sungai, kita berdiri bersama di monumen yang sama," yang menandakan dedikasinya seumur hidup untuk mengenang rekan-rekannya yang gugur di pasukan pertahanan perbatasan.

Ia adalah seorang pensiunan tentara berusia 24 tahun dari keluarga dengan tiga generasi dinas militer; kakek dan ayahnya meninggal di perbatasan, sebuah keluarga martir. Ia adalah seorang mahasiswa sains, awalnya sedang menempuh program Magister dan Doktor gabungan di Hong Kong, tetapi terpaksa berhenti kuliah karena ia membela Yu Menglong. Ia bermain piano, berlatih kaligrafi, dan memiliki latar belakang budaya yang kaya. Ia juga menulis novel dan memiliki banyak pengikut, menyumbangkan semua hasil dari donasi pembaca. Namun, karena keterusterangannya, artikel dan akunnya, termasuk akun pensiunan tentaranya yang terverifikasi di Weibo, semuanya dihapus. Ia rasional, memiliki arahan yang jelas, dan gigih di bawah tekanan di dalam Tembok Api Besar, namun ia difitnah dan dicap oleh sekelompok orang, dituduh menghasut subversi. Bahkan karena statusnya memberinya keuntungan (dan kerugian) karena dilindungi oleh negara, sehingga mustahil untuk mengungkap informasi pribadi apa pun, ia dituduh secara keliru sebagai orang yang palsu, tidak ada, atau direkayasa.

Ia patriotik dan memiliki rasa keadilan yang kuat. Ia bersikeras berbicara melalui jalur yang wajar dan sah, tetapi ia berulang kali ditekan dan dipanggil kembali ke Beijing dua kali. Ia tidak menyerah dan bertahan selama lebih dari dua bulan.

Ia benar benar kecewa dengan dunia dan berada di bawah tekanan yang luar biasa. Ia mengatakan ia merindukan orang tuanya. Pada akhirnya, ia memilih untuk kembali ke garis depan perbatasan, yang dulu ia katakan tidak berani ia ingat siang atau malam, tetapi sekarang ia rindukan. Ia lebih suka m4ti di sana, di medan per4ng untuk membela negaranya.

#linbeichuan #YuMenglong #alanyu #fyp #beritaartis

2025/11/28 Edited to

... Read moreLin Beichuan’s story is a profound example of dedication and sacrifice that deeply resonates beyond just his personal journey. Growing up in a family marked by military service — with both his grandfather and father having lost their lives at the border — Lin embodies a legacy of courage and commitment that few can match. While many may not be aware, Lin was not only a soldier but also a scholar pursuing advanced degrees in science at a prestigious program in Hong Kong. His life’s path took a dramatic turn when he chose to defend Yu Menglong, a decision that forced him to leave his studies and face intense governmental pressures. This shows a side of him that values principles over comfort, describing a man who is both rational and fearless, standing firm even when confronted with false accusations of subversion. Despite facing censorship, defamation, and the isolation of being under constant watch, Lin's cultural talents—such as piano playing, calligraphy, and novel writing—paint a picture of a well-rounded individual who values cultural expression and uses it as a form of support for causes close to him. His willingness to donate all proceeds from his writings to charity demonstrates a generosity often unseen in public figures. Importantly, Lin’s choice to return to the frontline after experiencing disillusionment with the world illustrates a profound commitment to his values and his country. It is a reminder of the heavy personal costs borne by individuals who stand up for their beliefs in difficult circumstances. By reflecting on Lin Beichuan’s life, readers gain insight into the complexities faced by those who serve their country not only in battle but also in the public and cultural spheres. His story encourages us all to consider the depth of conviction, the strength of cultural roots, and the harsh realities of speaking truth to power.