Aku punya pengalaman kerja 6 tahun sebagai relation officer dan 3 tahun sebagai data entry.
Aku alhamdulillah sebelumnya tidak pernah menganggur, tapi kali ini sudah 8 bulan sejak menikah aku jadi pengangguran. Rasanya dulu setiap apply kerja tidak sesulit ini. Aku dulu satu perusahaan dengan suami tapi karna regulasi perusahaan jadi aku mengalah selain karna posisi suami juga kebih menguntungkan di perusahaan itu aku pikir aku bisa cari lagi kok.
Dan boom, 8 bulan aku belum bekerja. Setiap melamar selalu ada pertanyaan “ada rencana punya anak”. Ada tentu ada, kapan ? Akupun gatau kapan ini datang karna ini ketetapan tuhan bukan ?. Bekerja yang jauh dari rumah pun menurutku ga mungkin karna aku ga enak dengan suami.
Bahkan aku apply di salon dekat rumah pun tertolak setelah kirim cv katanya akan dikabari tapi sudah lama tidak dengar kabarnya. Aku ikut kursus ambil pelatihan pelatihan, dan coba apply lagi tapi sampai sekrang panggilan kerja itu ga pernah ada. 🥹
Aku bingung apa karna usia ku yang sudah 30 tahun atau karna aku seorang yang sudah menikah sekarang ? Atau karna keduanya ?.
Aku kadang sedih, tapi kadang bersyukur. Aku fokus di dunia konten tapi emang sulit persaingan nya banyak banget. #NgurusRumah#PengalamanKu#pengangguran
1/26 Diedit ke
... Baca selengkapnyaMengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah menikah memang menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan dan menyedihkan bagi banyak perempuan, termasuk saya. Dari pengalaman pribadi, salah satu hal yang paling sering menjadi penghalang adalah pertanyaan seputar rencana punya anak. Ini merupakan salah satu bentuk diskriminasi terselubung yang masih banyak terjadi di dunia kerja saat ini.
Banyak perusahaan merasa ragu menerima perempuan yang sudah menikah karena asumsi bahwa mereka akan segera cuti panjang atau berhenti bekerja setelah memiliki anak. Padahal, setiap perempuan memiliki kondisi dan keputusan yang berbeda-beda, dan melekatkan stigma ini tentu tidak adil.
Selain itu, faktor usia juga sering menjadi pertimbangan. Usia 30 tahun yang biasanya sudah menikah, terkadang dijadikan alasan oleh perusahaan untuk tidak memprioritaskan pelamar. Padahal, pengalaman kerja yang bertahun-tahun seharusnya menjadi nilai tambah yang kuat.
Saya juga merasakan tekanan ketika harus menolak pekerjaan yang jauh dari rumah, karena ingin tetap menjaga keharmonisan keluarga. Hal ini menjadi dilema tersendiri antara keinginan berkarier dan tanggung jawab rumah tangga.
Untuk mengatasi hal ini, saya mencoba mengembangkan diri melalui kursus dan pelatihan agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Selain itu, mencoba membangun portofolio di dunia konten digital membuka peluang baru yang fleksibel dari segi waktu dan lokasi. Meskipun persaingan ketat, hal ini membantu saya tetap produktif dan menemukan cara baru untuk berkarya.
Bagi perempuan yang menghadapi situasi serupa, penting untuk bersiap mental dan terus memperbaharui keterampilan. Jangan ragu mencari jaringan yang mendukung dan berbagi pengalaman dengan komunitas yang memiliki pengalaman serupa. Ingatlah bahwa ketidakpastian adalah bagian dari proses, dan selalu ada jalan untuk terus berkembang.
Pada akhirnya, perjuangan mencari pekerjaan setelah menikah memang tidak mudah, namun dengan kesabaran dan ikhtiar, setiap perjuangan pasti ada hasilnya. Jangan biarkan stigma dan diskriminasi menghalangi mimpi dan potensi kita.