#lebaran indah#CeritaLebaran #MomenBerharga #kaltim #.
Judul: Amplop Kosong di Saku Baju Baru
Matahari pagi Idul Fitri tahun itu bersinar terik, seolah ingin membakar setiap sudut kampung kami. Di halaman rumah, aroma opor ayam dan ketupat sudah menguar, bercampur dengan bau tanah kering yang retak. Bagi anak-anak sebayaku, hari ini adalah hari kemenangan. Mereka berlarian dengan baju koko dan gamis baru yang masih kaku, tertawa riang sambil mengguncang-guncangkan saku mereka, mendengarkan desir kertas amplop THR di dalamnya.
Namun, bagiku, suara itu hanyalah dengung yang menyakitkan.
Namaku Rian. Aku berusia sepuluh tahun. Hari ini, aku juga memakai baju baru. Bukan beli di toko, tapi hasil jahitan ibuku dari sisa kain perca yang masih layak. Warnanya sedikit pudar dibandingkan baju teman-temanku, tapi ibuku selalu bilang, "Yang penting bersih dan menutup aurat, Nak. Itu yang paling indah di mata Tuhan."
Aku mengangguk, meski dalam hati kecilku, aku berharap bajuku bisa sekilau milik Dimas, anak Pak Lurah yang tinggal di ujung jalan.
Tradisi di kampung kami sederhana namun membahagiakan bagi kebanyakan orang: setelah salat Id, anak-anak berkeliling ke rumah sanak saudara untuk bersalaman dan mendapatkan THR. Itu bukan soal nominalnya, tapi soal rasa dihargai, soal senyum lebar saat menerima amplop berwarna-warni itu.
"Rian, ayo kita ke rumah Nenek!" ajak Dimas semangat. "Kata Ibu, Nenek udah siapin amplop tebal buat kita semua."
Aku tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Aku... aku mau bantu Ibu beres-beres dulu, Dimas. Kalian duluan saja."
Dimas mengernyit, tapi akhirnya ia berlalu bersama gerombolan lainnya. Tinggallah aku di teras rumah kayu kami yang catnya sudah mulai mengelupas.
Ibuku sedang duduk di kursi rotan yang anyamannya sudah longgar. Wajahnya lelah, garis-garis halus di sekitar matanya tampak lebih dalam daripada biasanya. Ayahku, yang bekerja serabutan sebagai kuli panggul di pasar, sedang tidak ada di rumah. Kabar terakhir, ia sakit demam sejak semalam dan tidur di gubuk tempat ia menginap agar bisa mulai kerja lebih awal besok. Tidak ada rezeki lebih untuk berobat, apalagi untuk membeli beras tambahan lebaran ini.
Aku mendekat, lalu duduk di lantai beralaskan tikar di samping kaki Ibu. Ibu menatapku, tangannya yang kasar membelai rambutku.
"Kenapa tidak ikut teman-teman, Ri?" tanya Ibu lembut.
Aku menunduk, memainkan ujung sarungku. "Malu, Bu."
"Malu kenapa?"
"Rian nggak dapat THR, Bu," bisikku, suaranya hampir tertelan angin. "Tadi Dimas dapat banyak. Tante Siti juga kasih mereka semua. Tapi kalau Rian ke sana... pasti Tante cuma kasihan. Atau mungkin, Tante nggak kasih apa-apa karena tahu Ayah lagi susah."
Hening sejenak. Hanya suara jangkrik siang yang terdengar. Tiba-tiba, air mataku menetes. Bukan karena tamak ingin uang. Tapi karena rasanya begitu sepi menjadi satu-satunya anak yang tangan kanannya kosong saat bersalaman dengan kiri. Rasanya seperti ada tanda besar di dahiku yang bertuliskan: Anak Orang Miskin.
Ibu menarik napasnya panjang, lalu merogoh saku daster lusuhnya. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan sesuatu. Bukan amplop mewah bermotif ketupat seperti milik orang lain. Itu hanya selembar kertas bekas bungkus kue yang dilipat rapi, diikat dengan tali rafia sisa.
"Ini buat kamu, Nak," kata Ibu.
Aku menerima lipatan kertas itu dengan ragu. Saat kubuka, isinya bukanlah uang rupiah yang berderet. Di dalamnya terdapat dua lembar uang ribuan yang sangat lusuh, bahkan salah satunya sobek di bagian ujung. Itu mungkin seluruh uang simpanan Ibu untuk beli gula seminggu ke depan.
"Ibu nggak punya banyak, Ri," suara Ibu bergetar, matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Maafkan Ibu ya. Lebaran ini, Ibu cuma bisa kasih ini. Jangan marah pada Ibu, jangan marah pada Ayah. Kita memang belum diberi kelebihan harta, tapi kita punya hati yang bersih. Uang ini halal, Nak. Hasil ibu nyuci baju tetangga kemarin."
Aku menatap uang ribuan yang sobek itu, lalu menatap wajah Ibu yang penuh penyesalan. Rasa sedih di dadaku mendadak berubah menjadi sesak yang berbeda. Bukan lagi karena iri pada Dimas, tapi karena melihat betapa kerasnya Ibu berusaha membahagiakanku di tengah keterbatasan yang mencekik.
"Bukan ini yang Rian mau, Bu," isakku, lalu kusimpan uang itu kembali ke dalam lipatannya dan kumasukkan ke saku baju baruku. "Rian cuma sedih... Rian merasa nggak pantas jadi anak Ibu dan Ayah kalau nggak bisa bikin kalian senang."
Ibu langsung memelukku erat. Pelukan yang hangat, meski tubuhnya kurus. "Kamu sudah membuat kami sangat senang, Rian. Kamu anak sholeh, kamu nggak pernah minta macam-macam. Kehadiran kamu itu THR terbesar buat Ibu dan Ayah. Sungguh."
Siang itu, aku tidak berkeliling ke rumah saudara. Aku memilih duduk di samping Ibu, mendengarkan cerita masa kecilnya, sementara di kejauhan terdengar tawa anak-anak yang sedang menghitung uang THR mereka.
Saku baju baruku memang terasa ringan. Tidak ada desir kertas tebal di dalamnya. Hanya ada lipatan kertas bekas dan dua lembar uang ribuan sobek yang kurekatkan kembali dengan hati-hati. Namun, saat aku menatap Ibu yang tersenyum meski matanya bengkak, aku menyadari sesuatu.
Mungkin, amplop THR yang sesungguhnya bukan tentang seberapa tebal uangnya. Tapi tentang seberapa tulus seseorang memberikan apa yang ia miliki, meski itu adalah satu-satunya hal berharga yang ia punya.
Lebaran tahun itu memang menyedihkan bagi dompet kami, tapi pelukan Ibu mengajarkanku bahwa kemiskinan tidak bisa mencuri cinta. Dan cinta, adalah satu-satunya kekayaan yang tidak akan pernah habis








































