bus hantu

Judul: Penumpang Terakhir di Jalan Lingkar

Jam menunjukkan pukul 02.15 WIB ketika Rian memutuskan untuk mengambil jalan pintas. Sebagai seorang pengemudi ojek online yang baru bekerja shift malam, ia ingin menghindari kemacetan sisa pesta pernikahan di pusat kota yang baru saja usai. Aplikasi peta di ponselnya menyarankan sebuah jalan lingkar baru di daerah pinggiran Jakarta yang konon belum sepenuhnya rampung pembangunannya. Jalanan itu sepi, hanya diterangi lampu jalan yang beberapa di antaranya sudah mati, menciptakan pulau-pulau kegelapan di antara cahaya kuning yang remang.

Udara malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis mulai turun, menyelimuti aspal yang masih berbau tanah basah. Rian mencoba menghibur diri dengan mendengarkan lagu-lagu dangdut koplo melalui speaker motornya, namun tiba-tiba sinyal internetnya hilang total. Layar ponselnya menjadi gelap, hanya menampilkan peta yang membeku.

"Tidak mungkin," gumam Rian sambil menepikan motor di bahu jalan yang dipenuhi semak belukar tinggi. Ia mencoba me-restart ponselnya.

Di saat keheningan itu, suara deru mesin terdengar dari kejauhan. Bukan suara motor, melainkan suara berat seperti bus besar. Rian menoleh ke belakang. Dari arah kegelapan, muncul sebuah bus tua berwarna hijau pudar dengan cat yang mengelupas. Tidak ada nomor rute yang tertera di depannya, hanya tulisan buram yang sulit dibaca. Anehnya, bus itu tidak mengeluarkan asap knalpot, dan suaranya terdengar datar, seolah-olah mesinnya tidak benar-benar bekerja, melainkan hanya rekaman suara yang diputar ulang.

Bus itu melambat dan berhenti tepat di samping Rian. Pintu tengah terbuka dengan bunyi krieeet yang nyaring, mirip engsel karat yang lama tidak diminyaki.

"Mbangun, Mas? Mau ikut? Sekalian saja, jalanan depan lagi longsor," kata seorang kernet muda dengan seragam lusuh dan topi miring. Wajahnya pucat, dan matanya tampak kosong, tidak berkedip sedikitpun saat menatap Rian.

Rian ragu. Instingnya berteriak untuk lari, tetapi rasa penasaran dan keinginan untuk segera pulang mengalahkan logikanya. "Ke arah mana, Bang?" tanya Rian cautiously.

"Ke terminal lama. Ayo naik, sebentar lagi tutup," jawab kernet itu dengan suara datar.

Rian memarkir motornya di semak-semak, berpikir akan mengambilnya nanti, lalu naik ke dalam bus. Saat kakinya menyentuh lantai bus, hawa dingin langsung menusuk tulang. Bau apek campuran bunga melati layu dan tanah kuburan menyergap hidungnya. Di dalam bus, hanya ada tiga penumpang.

Satu wanita berbaju kebaya merah duduk di pojok belakang, menunduk dalam-dalam hingga rambut panjangnya menutupi wajah. Satu pria tua bersarung putih duduk di dekat jendela, tangannya gemetar memegang tas kresek hitam. Dan satu lagi, seorang anak kecil berpakaian sekolah dasar yang duduk sendirian di baris tengah, menghadap ke belakang, bukan ke depan.

Rian memilih duduk di kursi paling depan, dekat sopir yang mengenakan kaca mata hitam tebal meski sudah tengah malam. Sopir itu tidak menoleh sama sekali, fokus menyetir dengan tangan kaku di atas setir.

Bus mulai bergerak lagi. Semakin jauh mereka melaju, pemandangan di luar jendela semakin aneh. Pohon-pohon di pinggir jalan tampak memanjang tidak wajar, seolah-olah membungkuk menuju bus. Lampu jalan yang tadi mati, sekarang menyala dengan cahaya merah redup, bukan kuning.

"Mas, kenapa nggak ada penumpang lain?" tanya Rian mencoba memecah keheningan yang mencekam.

Kernet yang tadi mengajaknya naik kini berdiri di lorong sempit, menatap Rian dengan senyum tipis yang terlalu lebar untuk wajah manusia normal. "Mereka sudah sampai, Mas. Tinggal kita yang belum."

Jantung Rian berdegup kencang. Ia melirik ke spion besar di dalam bus. Di pantulan spion itu, kursi-kursi di belakangnya terlihat kosong. Tidak ada wanita berkebaya, tidak ada pria tua, tidak ada anak kecil. Hanya Rian dan sang kernet yang terlihat. Namun ketika ia menoleh langsung ke belakang, ketiga penumpang itu masih ada di sana, dalam posisi yang sama persis.

Tiba-tiba, wanita berkebaya itu mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya hancur, separuh dagingnya hilang, memperlihatkan tulang rahang yang putih bersih. Ia menatap Rian dan berbisik, "Turun... ini bukan jalan hidup..."

Pria tua di sebelah jendela mulai menangis tanpa suara, air mata darah mengalir dari matanya yang buta. Anak kecil itu kemudian menoleh sepenuhnya, lehernya berputar 180 derajat, menampilkan wajah yang hangus terbakar. "Panas, Mas... Panas sekali..." bisik anak itu.

Rian panik. Ia berlari ke arah pintu depan, berteriak pada sopir, "Berhenti! Turunkan saya! Berhenti!"

Sopir itu akhirnya menoleh. Perlahan ia menurunkan kaca mata hitamnya. Di balik kaca mata itu, tidak ada bola mata, hanya rongga hitam pekat yang berputar-putar seperti lubang cacing. "Kita sudah sampai, Nak," kata sopir itu dengan suara yang bergema dari segala arah.

Bus mengerem mendadak. Pintu terbuka lebar. Di luar bukanlah terminal, melainkan sebuah jurang dalam yang gelap gulita, dengan akar-akar pohon raksasa menjulang seperti tangan-tangan ingin menangkap.

"Lompat, Mas. Atau ikut kami selamanya," ujar kernet itu, yang kini tubuhnya mulai membusuk di depan mata Rian.

Dengan sisa tenaga dan adrenalin, Rian melompat keluar dari bus, bukan ke arah jurang, melainkan menggulingkan tubuhnya ke semak belukar di samping jalan aspal yang nyata. Ia mendengar suara tawa terkikik dari dalam bus sebelum pintu tertutup kembali.

Bus hijau tua itu melaju kencang, menembus kabut, dan menghilang begitu saja di tikungan, seolah tidak pernah ada.

Rian terbangun dengan napas tersengal-sengal. Ia tergeletak di bahu jalan lingkar yang sama, di samping motornya yang masih terparkir. Fajar mulai menyingsing, burung-burung mulai berkicau. Ponselnya bergetar, sinyal kembali penuh. Ada notifikasi dari aplikasi ojek online: "Pesanan baru di lokasi Anda."

Namun, ketika Rian melihat ke arah jalan, ia melihat jejak ban bus yang besar dan dalam di atas aspal kering—jejak yang seharusnya tidak mungkin ada karena semalam tidak hujan. Dan di jok belakang motornya, terdapat sebutir manik-manik gelang berwarna merah, persis seperti yang dikenakan oleh wanita berkebaya dalam mimpinya... atau mungkin, bukan mimpi.

Sejak hari itu, Rian tidak pernah lagi mengambil jalan pintas di malam hari, dan ia selalu menolak setiap tawaran tumpangan dari kendaraan umum yang terlihat terlalu sepi di jam-jam keramat.

3/27 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai pengemudi ojek online yang sering bekerja malam hari, saya pernah mengalami kejadian yang hampir mirip dengan cerita bus hantu ini. Suatu malam ketika saya melintas di jalan sepi, ada sebuah kendaraan besar yang tiba-tiba muncul dari kegelapan tanpa suara mesin yang wajar. Aura aneh di sekitar kendaraan itu langsung membuat bulu kuduk saya merinding. Pengalaman ini membuat saya sangat berhati-hati memilih rute ketika melayani pelanggan saat malam hari, terutama di daerah yang jarang dilewati dan minim penerangan. Jalan yang tampaknya biasa saja bisa berubah menjadi tempat menyeramkan saat suasana dan kondisi tertentu mendukung suasana mistis. Selain faktor lingkungan fisik, kejadian seperti hilangnya sinyal ponsel juga turut membuat rasa takut semakin intens. Saat ponsel kehilangan sinyal dan aplikasi peta berhenti berfungsi, insting keamanan saya langsung mengingatkan untuk segera mencari tempat ramai atau aman. Cerita tentang bus hantu juga sering saya dengar dari teman sesama pengemudi ojek online. Mereka bercerita tentang kendaraan yang muncul tiba-tiba dengan kernet atau sopir yang berwajah pucat dan tidak manusiawi. Kejadian ini seolah menjadi peringatan untuk selalu waspada terutama saat tengah malam dan melewati jalan yang belum familiar. Dalam cerita Rian, detail tentang bau apek bercampur bunga melati layu dan tanah kuburan sangat kuat membangun suasana horor yang menekan. Saya sendiri pernah merasakan bau aneh di perjalanan malam, yang membuat perjalanan terasa seperti memasuki dimensi lain. Hal-hal seperti ini membuat saya semakin percaya bahwa dunia gaib dan realitas hidup sering bertemu di momen tertentu. Mitos tentang bus hantu di wilayah pinggiran kota juga mengingatkan pentingnya menjaga kewaspadaan. Jangan mengambil jalan pintas yang tidak dikenal, terutama pada malam hari ketika kondisi sekitar sunyi dan suasana mencekam mudah muncul. Jika terpaksa harus melewati jalan sepi, sebaiknya jangan sendirian dan selalu siapkan kontak darurat. Pengalaman dan cerita macam ini sebenarnya memberikan pelajaran penting bagi kita semua, khususnya yang sering berkegiatan malam hari di jalanan sepi. Selain selalu menjaga keselamatan diri, kita juga sebaiknya menghormati dan waspada terhadap fenomena serta cerita mistis yang sering terjadi di sekitar kita. Hal ini bisa jadi bentuk peringatan dari alam lain untuk menjaga keselamatan jiwa dan raga saat berada dalam situasi yang tidak biasa.