rumah tua
Rumah di Ujung Jalan Kamboja
Hujan turun deras sejak sore, membasahi jalanan sepi di ujung Jalan Kamboja. Rani, seorang mahasiswi tingkat akhir yang baru saja pulang dari perpustakaan kampus, terpaksa mengambil jalan pintas karena jalan utamanya tergenang air. Motor matic-nya tertatih-tatih melewati genangan lumpur hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi yang berkarat.
Di balik gerbang itu, berdiri tegak sebuah rumah tua bergaya kolonial. Cat putihnya sudah mengelupas seperti kulit yang terbakar matahari, digantikan oleh lumut hijau yang lembap. Jendela-jendelanya tertutup papan kayu, namun ada satu jendela di lantai dua yang retak, tampak seperti mata yang sedang mengintip.
Konon, rumah itu sudah kosong selama dua puluh tahun sejak keluarga terakhir yang menghuninya menghilang tanpa jejak. Warga sekitar hanya berbisik-bisik tentang tangisan bayi dan bau melati yang menyengat setiap tengah malam.
Rani ingin segera pergi, tapi motornya tiba-tiba mati. Mesin tidak bisa distarter. Saat ia mencoba mendorong motornya menjauh, sebuah suara berdecit terdengar dari arah gerbang rumah tua itu. Krieeet...
Gerbang besi yang seharusnya terkunci rapat, kini terbuka sedikit. Angin berhembus kencang, membawa aroma melati yang busuk, persis seperti bunga kuburan.
"Ada orang?" tanya Rani ragu-ragu, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan. Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang mencekam.
Tiba-tiba, lampu senter motornya menyala redup, menerangi langkah kaki kecil di atas tanah berlumpur yang mengarah ke pintu depan rumah itu. Jejak kaki itu basah dan baru saja dibuat. Rani menelan ludah. Ia merasa dipanggil. Bukan oleh suara manusia, melainkan oleh dorongan aneh yang membuatnya berjalan mendekati pintu rumah tersebut.
Pintu kayu jati yang berat itu ternyata tidak terkunci. Rani mendorongnya perlahan. Gletak.
Di dalam, udara terasa lebih dingin daripada di luar. Debu tebal menutupi perabotan lama yang masih tersisa. Di tengah ruang tamu, terdapat sebuah kursi goyang yang bergerak sendiri. Kriet... kriet...
"Halo?" panggil Rani lagi, kali ini suaranya bergetar.
Dari tangga menuju lantai dua, terdengar suara langkah kaki kecil berlari. Tap tap tap. Rani, entah mengapa, mengikuti suara itu. Kakinya seolah tidak milik dirinya sendiri. Setiap anak tangga yang ia injak mengeluarkan bunyi erangan kayu yang sakit.
Sesampainya di lorong lantai dua, Rani melihat sebuah kamar dengan pintu terbuka lebar. Di dalamnya, terdapat sebuah tempat tidur bayi berdebu. Anehnya, tidak ada debu di atas kasur kecil itu. Dan di sudut kamar, berdiri seorang gadis kecil mengenakan gaun putih kotor, membelakangi Rani.
"Dek?" sapa Rani pelan.
Gadis kecil itu perlahan menoleh. Wajahnya pucat pasi, matanya hitam pekat tanpa bagian putih, dan senyumnya melebar hingga ke telinga. "Kakak mau main?" tanyanya dengan suara serak yang tidak wajar.
Rani mundur selangkah, napasnya tercekat. "Ma-maaf, aku harus pergi."
"Tapi Kakak belum main," kata gadis itu sambil mulai melayang mendekati Rani. Dinding di belakangnya mulai mengeluarkan cairan merah kental yang berbau amis. "Mama bilang, kalau ada tamu, harus ditahan selamanya."
Rani berbalik dan lari sekuat tenaga. Tangga seolah memanjang tak berujung. Suara tawa gadis kecil itu menggema di seluruh rumah, diikuti oleh suara langkah kaki banyak orang yang mengejar dari segala arah. Bau melati busuk itu semakin menyengat, membuat kepala Rani pening.
Saat akhirnya Rani berhasil mencapai pintu depan, ia menyerempet meja samping hingga vas bunga jatuh pecah. Ia tidak menoleh lagi. Ia menerobos hujan, mendorong motornya dengan sisa tenaga, hingga akhirnya mesin itu menyala tepat saat ia keluar dari gerbang.
Rani memacu motornya tanpa menoleh ke belakang. Namun, saat ia sampai di rumah kosnya dan bercermin di depan wastafel, darah di tubuhnya serasa membeku.
Di bahu kirinya, tercetak jelas bekas tangan kecil berwarna biru lebam. Dan di cermin, pantulan dirinya tidak sendirian. Di belakang bahunya, gadis kecil berbaju putih itu tersenyum sambil berbisik, "Aku sudah bilang, Kakak harus main..."
Lampu kamar Rani tiba-tiba mati. Gelap gulita. Hanya suara tawa kecil dan aroma melati busuk yang mengisi ruangan















